Semua itu terasa begitu nyata. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan lemah. Apakah semua itu memang bukan mimpi?
Matanya perlahan terbuka. Ia mengejap beberapa kali sebelum pandangannya menyisiri seisi ruang yang didominasi warna putih itu.
Di sebelah kirinya terdapat tiang infus. Cairan bening itu dialirkan ke tangan kirinya melalui selang yang cukup panjang.
"Aku... belum mati?"
Sekelebat bayangan terlintas di benaknya. Ya. Saat itu... di penghujung sisa hidupnya, ia merasakan sebuah tarikan dan pelukan erat. Lalu tubuhnya seolah dibawa untuk melawan arus yang menariknya.
"Kamu sudah bangun?"
Vony tersentak mendengar suara asing itu. Tatapannya segera terarah pada sesosok pria yang baru saja melewati pintu.
"Anda..."
"Aku yang membawamu ke sini. Kondisimu sempat kritis. Syukurlah kamu sudah bangun sekarang," ucap pria itu.
Dari penampilannya, tampaknya dia berusia beberapa tahun di atas Vony.
Vony tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia berusaha untuk duduk. Namun, tubuhnya masih terasa sakit.
Tanpa Vony duga, pria itu membantunya. Ia menyangga tubuh Vony dengan tangannya, lalu membantu Vony untuk bersandar.
"Jangan terlalu memaksakan diri. Tubuhmu masih sangat lemah," kata pria itu.
"Apa yang kamu rasakan sekarang? Apa masih ada yang sakit? Perutmu?"
Vony menunduk menatap perut datarnya. Lalu, tangannya mengusap bagian itu pelan. Matanya memanas, siap meluncurkan cairan bening yang untungnya masih mampu ia tahan.
"Tuan... apakah dia masih bertahan?" tanya Vony dengan suara bergetar.
Pria itu tampak menghela napas panjang. "Dia anak yang kuat. Dia mempunyai keinginan hidup yang tinggi. Di masa mendatang, jangan coba-coba mematahkan harapannya lagi, ya!"
Dan cairan bening itu akhirnya meluncur dari kedua mata Vony. Tangisnya pecah. Terdengar pilu dan sarat akan rasa sakit.
"Maafin Mama, Sayang... maafin Mama. Kamu pasti benci banget sama Mama. Kamu nggak seharusnya ditakdirkan menjadi anak dari wanita seperti Mama," isak Vony.
"Nona, bukan seperti itu," ucap pria itu khawatir. Ia takut jika Vony akan marah dan membenci dirinya sendiri karena ucapannya beberapa saat yang lalu.
"Aku tak tahu apa yang terjadi di hidupmu selama ini. Tapi dia... kamu punya dia. Jadikan dia sebagai alasanmu untuk bertahan! Dia hanya ingin lahir dengan selamat ke dunia. Ia ingin merasakan bagaimana kehidupan ini. Dan cuma kamu yang bisa membantunya mewujudkannya."
Dengan mata memerah dan basah, Vony membalas tatapan pria itu. Ada sedikit cahaya dari tatapan perempuan itu. Setitik harapan, begitu ia mendengar ucapan dewa penyelamatnya.
"Tuan..."
"Jangan buat usaha dan pengorbananku sia-sia, ya! Jangan sakiti dirimu lagi. Kalau memang kamu merasa sendiri dan perlu dukungan seseorang untuk melahirkan anak itu, kamu bisa mencariku," ungkap laki-laki itu.
Vony menyipitkan matanya. Ia bahkan tak kenal siapa pria itu. Ia merasa belum pernah melihatnya. Dan sekadar tahu namanya saja tidak.
"Tuan... tapi kenapa?"
Pria itu memincingkan matanya. "Ya?"
"Kenapa Anda menolong saya? Dan kenapa Anda ingin saya bertahan demi anak ini?"
"..." Pria itu terdiam, tak bisa menjawab.
"Kita tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Atau... mungkin sebelumnya kita pernah bertemu?"
Pria itu membuang muka sesaat. "Tidak. Seingatku, kemarin pagi adalah kali pertama aku melihatmu. Seorang perempuan muda yang tampak putus asa... sampai tiba-tiba kamu menjatuhkan dirimu ke danau."
Vony menundukkan kepalanya. Membuat pria itu kembali memberanikan diri untuk menatap wajah sendu Vony.
Pria itu mengulurkan tangannya. Ia mengulas senyum tipis yang memberi kesan teduh.
"Namaku William. Kamu bisa memanggilku Liam."
Vony kembali mendongak. Lalu tatapannya jatuh pada tangan Liam yang terulur padanya. Vony tampak ragu untuk membalas jabat tangannya. Namun ia sadar. Ada utang budi yang begitu besar yang masih harus ia bayar pada pria itu.
"Vony. Nama saya Vony."
Liam menghela napas lega begitu merasakan Vony membalas jabat tangannya.
"Tuan... terima kasih."
"Aku tidak membutuhkan ucapan terima kasih. Aku cuma mau kamu berjanji, kalau kamu tidak akan membuat usaha dan pengorbananku sia-sia, Vony!"
Vony menggigit bibirnya. Sebelah tangannya memegangi perut datarnya.
Rasanya masih sulit dipercaya. Di dalam sana ada segumpal daging yang akan terus tumbuh. Di dalam sana, ada buah hatinya bersama Gabriel.
"Anak ini hadir karena kesalahan. Tapi... ini semua bukan kesalahannya. Ini semua salahku dan Gabriel," batin Vony.
"Ya. Kami yang salah. Perbuatan terkutuk kami malam itu yang salah."
"Aku tidak punya hak untuk melarangnya terlahir ke dunia dan merasakan kehidupan, kan? Harusnya aku tidak pernah menyakitinya."
"Sayang... maafkan Mama. Mulai sekarang, Mama janji akan melakukan apapun untuk mempertahankan kamu."
"Bahkan meski seluruh dunia akan membenci Mama dan menatap Mama hina, tapi Mama akan bertahan. Mama ingin memberi kamu kehidupan," lantang Vony dalam hati.
Ia tahu. Hamil di luar nikah, tanpa sosok pria yang akan bertanggung jawab tidaklah mudah. Bahkan mungkin selamanya ia harus menyembunyikan pada semua orang siapa ayah dari bayi di dalam rahimnya.
Namun, biar bagaimana pun juga, bayi itu adalah darah dagingnya. Dan Vony tak ingin merenggut hak hidup anak itu. Ia ingin bertanggung jawab terhadap jabang bayi yang tak berdosa itu, meski akan ada banyak kesulitan di depan sana.