Arabella tiba di gedung perusahaan Julian tepat ketika jarum jam menunjukkan waktu makan siang. Tangannya menggenggam tas makanan dengan hati-hati, seolah membawa sesuatu yang sangat berharga. Ia sempat menarik napas dalam sebelum melangkah masuk, menenangkan debar di dadanya.
Karyawan bagian resepsionis mengenalinya dengan baik dan langsung tersenyum serta mengangguk sopan. Bella membalasnya dengan tersenyum kecil, lalu melangkah menuju lantai tempat ruang kerja Julian berada.
Begitu keluar dari lift ia melihat sekretaris Julian, yaitu Karen berdiri tak jauh dari meja kerjanya, dan ketika melihat Bella, ekspresinya berubah sekejap—terlalu cepat untuk disembunyikan sepenuhnya.
“Eh… Bu Bella,” sapa Karen, suaranya terdengar sedikit lebih tinggi dari biasanya. Ia segera berdiri, menghadang langkah Bella yang hendak menuju ruangan Julian. “Pak Julian sedang di ruang rapat saat ini.”
Bella sontak berhenti, lalu tersenyum ramah. “Oh, sedang rapat ya? Kalau begitu tidak masalah. Aku bisa menunggu di ruangannya saja.”
“Sebenarnya… rapatnya baru saja dimulai. Dan mungkin akan cukup lama selesainya. Apa sebaiknya Ibu pulang saja? Nanti saya akan sampaikan pada Pak Julian kalau Ibu sempat datang.”
Bella sontak mengernyit dengan tatapan tak mengerti dengan maksud ucapan Karen barusan. “Apa kau sedang berusaha untuk mengusirku?”
Karen dengan cepat menggeleng. “Bukan, bukan begitu maksud saya. Saya hanya—”
“Sudahlah, jangan menghalangiku.” sela Bella dengan cepat. “Aku akan menunggu suamiku di ruangannya."
“Tapi—”
“Aku tidak peduli mau rapatnya masih lama atau tidak, Karen! Jadi berhentilah menghalangiku!” seru Bella.
Karen tampak gelisah. Bibirnya terbuka seolah hendak mengatakan sesuatu, lalu tertutup kembali. Ia melirik sekilas ke arah pintu ruangan Julian, ragu.
“Tapi di dalam ada—”
Namun terlambat. Bella sudah melangkah melewati Karen dan membuka pintu ruangan Julian tanpa ragu. Namun baru beberapa langkah memasuki ruangan tersebut, tiba-tiba saja langkah kakinya langsung terhenti.
Seorang pria duduk santai di sofa ruang kerja Julian. Tubuhnya disandarkan malas, satu kaki terangkat, sementara tangannya sibuk memainkan ponsel. Ketika menyadari kehadiran Bella, pria itu langsung mendongak.
Sementara itu, tubuh Bella terasa membeku sesaat begitu tau siapa yang sedang berada di dalam ruangan Julian. “Michael?”
Sang pemilik nama tersenyum lebar, terlalu lebar untuk sekadar basa-basi. Ia segera berdiri, menyimpan ponselnya ke dalam saku celana dan berjalan mendekat ke arah Bella.
“Hai, Bella! Bagaimana kabarmu?” sapa Michael. Lalu ia tersenyum kecil, saat Bella refleks mundur satu langkah ketika ia mendekatinya. “Maaf jika aku membuatmu terkejut.”
Bella menggeleng dengan cepat. “Tidak, itu bukan salahmu. Aku yang nekat masuk ke sini tadi dan tidak tau jika ada kau di sini.”
“Julian sedang rapat dengan kliennya. Jadi, aku menunggunya di sini.” ujar Michael menjelaskan. “Dan kau... apa yang kau lakukan di sini Bella?”
Arabella memperlihatkan apa yang ia bawa saat ini pada pria itu. “Ini, aku kemari membawakan makan siang untuk Julian.”
Michael tersenyum dan menyahut, “beruntung sekali Julian memiliki istri yang perhatian sepertimu."
Mendengar ucapan Michael yang terdengar seperti pujian tersebut membuat Bella tersenyum tipis. Entah mengapa, rasanya ada yang menjanggal dalam hatinya.
“Sudah berapa lama ya kita tidak bertemu?” lanjut Michael.
“Entahlah, sepertinya sudah cukup lama. Sejak aku menemani Julian datang ke acara pernikahanmu.”
Raut wajah Michael mendadak berubah. Hal itu membuat Bella teringat ucapan Julian beberapa bulan lalu yang pernah bercerita padanya, jika Michael bercerai dengan istrinya.
“Maaf Michael, aku tidak bermaksud—”
“Tidak masalah, Bella." sela Michael. “Tapi aku sedikit kesal, karena ucapanmu aku jadi teringat hal itu lagi.”
“Maaf..."
“Kata maaf saja tidak cukup, Bella." sahut Michael. “Bagaimana jika kau menebusnya dengan melakukan sesuatu?"
Bella mengernyit bingung. “Maksudmu aku harus melakukan apa?”
Michael tak langsung menjawab. Pria itu bersikap seolah-olah sedang berpikir. Lalu tiba-tiba Michael berkata, “temani aku berkeliling perusahaan ini, bagaimana?”
“Tapi—”
“Ayolah Bella. Selagi Julian sedang rapat, lebih baik kau menemaniku berkeliling perusahaan ini. Toh akan sangat membosankan jika hanya duduk di sini menunggu Julian sampai selesai rapat."
Bella akhirnya mengangguk mau menemani pria itu untuk berkeliling perusahaan.
+++
Sepanjang berjalan mengelilingi perusahaan, Michael tak henti-hentinya bicara. Dan Arabella baru tahu jika pria itu terlalu banyak omong. Sampai hal pribadi mengenai masalah utama kegagalan rumah tangganya pun di-share oleh pria itu padanya.
“Jadi, kau bercerai karena istrimu berselingkuh?” tanya Bella, yang sebenarnya sedang menanggapi cerita dari Michael.
“Benar. Bagiku, tidak ada toleransi untuk hal itu." jawab Michael. “Lalu bagaimana denganmu?”
Bella menghentikan langkahnya dan langsung menoleh ke arah pria itu. “Aku? Maksudnya bagaimana?”
“Aku ingin tau, apa yang akan kau lakukan jika pasanganmu berselingkuh di belakangmu?”
“Maksudmu Julian berselingkuh?”
“Aku tidak mengatakan hal itu,”
“Dia tidak mungkin berselingkuh,” ujar Bella. “Jadi untuk apa kau bertanya seperti itu padaku?”
Michael tersenyum tipis dan segera menyahut, “Bella, awalnya pun aku juga berpikir begitu pada mantan pasanganku.”
Dalam hati, Michael merasa kasihan pada Bella yang saat ini tengah dikhianati oleh Julian. Rasanya ada perasaan tidak rela melihat wanita itu disakiti secara perlahan oleh Julian. Tapi mana mungkin ia bisa memberitahu wanita itu tanpa disertai dengan bukti?
“Bagaimana jika Julian memang seperti itu?” tanya Michael sembari memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku celana.
“Seperti itu bagaimana?” tanya balik Bella, berpura-pura bodoh. Padahal ia tau apa maksud dari pertanyaan Michael barusan.
“Selingkuh,"
Bella menelan ludah dengan kasar begitu mendengarnya. Tatapannya bahkan tak lepas dari pria itu. Ada rasa kesal yang sampai membuatnya ingin marah pada Michael yang sudah bicara sembarangan. Tapi apa daya, ia harus menahan diri karena pria itu adalah teman Julian.
“Sepertinya aku tidak bisa menemanimu berkeliling perusahaan ini lebih lama. Kau bisa berkeliling sendiri, kan?”
“Kenapa? Kau marah padaku? Kau marah karena aku bertanya seperti barusan?”
“Itu kau tau. Lalu kenapa bertanya lagi padaku?"
Michael terdiam, dan karena itu pula, Bella segera berbalik badan. Melangkah pergi menjauh dari pria itu.
“Bella, aku tau apa yang sedang terjadi dalam rumah tanggamu saat ini!” seru Michael, sedikit keras agar Bella mendengarnya. Sebab Bella sudah hampir melangkah jauh darinya.
Dan ketika Bella mendengarnya, langkah kakinya sontak terhenti. Ia berbalik dan menatap Michael dengan raut wajah yang sulit untuk dijelaskan.