Bella berdiri terpaku di tengah lorong perusahaan yang lengang. Suara langkah kaki para karyawan terdengar sayup-sayup, bercampur dengan dengung pendingin ruangan yang konstan. Tatapannya tertuju pada Michael, yang kini berdiri beberapa meter darinya dengan raut wajah serius—berbeda jauh dari sikap santainya beberapa saat yang lalu.
“Apa maksudmu?” tanya Bella pada akhirnya, setelah terdiam beberapa detik. Suaranya terdengar lebih tenang dari yang ia rasakan, seolah ada dinding tipis yang menahan gemetar di dalam dadanya.
Pria itu—Michael menghela napasnya dengan pelan. Ia mendekat satu langkah, lalu berhenti, dan berusaha untuk menjaga jarak yang aman.
“Aku tidak ingin membuatmu salah paham, Bella. Aku juga tidak berniat untuk mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Tapi aku melihat sesuatu yang… tidak seharusnya kau alami.”
Bella menegakkan bahunya, menatap pria itu dengan serius. “Michael, jika kau ingin mengatakan sesuatu, katakan saja. Jangan berputar-putar seperti ini.”
Michael mengangguk kecil. “Baik. Aku akan jujur.” Ia menoleh ke arah jendela kaca yang memperlihatkan hiruk-pikuk kota di bawah. “Aku sering ke sini. Ke perusahaan ini. Aku sangat mengenal apa saja kebiasaan Julian. Aku juga… mengenal orang-orang yang ada di sekitarnya.”
Kedua mata Bella mengerjap pelan. Ada rasa tidak nyaman yang perlahan merayap. “Dan?” tanya puan itu.
“Dan aku tahu,” lanjut Michael pelan, “bahwa Julian tidak sebersih yang kau pikirkan.”
Dada Bella terasa sesak. Ia mulai kesal pada Michael yang sudah terlalu banyak bicara saat ini. “Kau menuduh suamiku tanpa bukti.”
Michael mengangkat tangan, seolah menenangkan. “Aku tidak sedang menuduhnya. Aku hanya mengatakan apa yang aku lihat. Maksudku, yang hampir sering ku lihat.”
“Apa yang kau lihat?” tanya Bella, suaranya nyaris berbisik.
Michael ragu sejenak, lalu berkata, “Kedekatannya dengan seseorang yang melewati batas. Waktu yang tidak wajar. Dan tatapan yang tidak pantas.”
Bella tertawa kecil, hambar. “Itu tidak cukup untuk dikatakan sebagai bukti, Michael. Bisa saja kan kau mengarang semua ini?”
“Aku tahu,” jawab Michael cepat. “Dan itulah sebabnya aku tidak ingin langsung mengatakan apa pun. Tapi kau perlu waspada, Bella. Kau terlalu baik. Dan terlalu percaya sepenuhnya pada Julian. Dan asal kau tau, aku tidak pernah yang namanya mengarang cerita hanya untuk menarik perhatianmu.”
Kata-kata itu seperti pisau kecil yang menoreh ke dadanya secara pelan namun menusuk. Bella teringat pada saat pagi tadi—ranjang yang dingin, rumah yang sepi, dan rasa bersalah yang mendorongnya datang ke sini dengan harapan sederhana. Harapan itu kini terasa rapuh.
“Aku mencintai Julian,” ucap Bella tegas. “Aku memilih mempercayainya.”
Michael menatapnya lama, lalu berkata. “Aku berharap kepercayaanmu tidak dikhianati olehnya.”
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Bella memalingkan wajah, menahan emosi yang menggelembung. “Aku ingin kembali ke ruangannya. Aku akan menunggu Julian.”
Michael mengangguk. “Silahkan, aku tidak akan menahanmu.”
Langkah Bella terasa berat, namun tekadnya menguat. Ia harus melihat suaminya. Mendengar langsung darinya. Bukan dari orang lain.
Ketika Bella sampai di depan ruangan Julian, Karen berdiri di sana dengan ekspresi yang sulit dibaca. Sekretaris itu tampak terkejut melihat Bella kembali.
“Oh… Bu Bella,” sapa Karen cepat. “Pak Julian sebentar lagi akan kembali ke ruangannya.”
Bella mengangguk singkat, lalu dengan cepat kembali melanjutkan langkahnya. Sementara itu, Karen tampak hendak mengatakan sesuatu, namun tiba-tiba ia mengurungkan niatnya. Dan membiarkan Bella masuk kembali ke dalam ruangan Julian.
Julian muncul dengan jas rapi dan ekspresi wajah yang nampak profesional di depan Karen. Ia sempat berhenti di depan meja kerja sekretarisnya tersebut, namun Karen buru-buru memberitahunya.
“Bu Bella ada di dalam, menunggu anda." ujar Karen datar.
Mendengar itu, tentu saja Julian buru-buru masuk ke dalam ruangannya. Dan ketika melihat Bella, raut wajahnya tiba-tiba berubah—terkejut, lalu dengan cepat tersenyum tipis.
“Bella? Kau di sini? Mau apa kemari?” tanyanya.
Bella membalasnya dengan senyuman manis, meski hatinya terasa bergetar saat ini. “Aku membawakan makan siang untukmu.”
Julian menatap tas makanan yang ada di atas meja, lalu kembali beralih ke arah wajah istrinya. Ada jeda singkat sebelum ia berkata, “Kau seharusnya memberitahuku terlebih dahulu sebelum kemari.”
“Awalnya aku ingin membuat kejutan untukmu,” jawab Bella pelan. “Tapi saat sampai, kau justru sedang rapat. Hanya ada temanmu tadi yang ada di ruanganmu.”
Julian tak menanggapi ucapan Bella barusan, dan memilih untuk meletakkan dokumen-dokumen yang ia bawa ke atas meja, lalu kemudian melepas jasnya. Bella berdiri sambil memperhatikan setiap gerakannya. Seolah sedang berusaha untuk mencari sesuatu yang mungkin terlewat olehnya selama ini.
“Kau terlihat lelah,” kata Bella.
“Hm, rapat yang terlalu lama menguras energiku,” jawab Julian singkat.
Bella menarik napas, lalu kembali bersuara. “Julian, aku ingin bertanya sesuatu padamu.”
Julian menoleh sambil mengernyit heran. “Tentang apa?”
“Tentang kita berdua,” jawab Bella.
Julian terdiam. “Ada apa?”
Bella menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk dibaca oleh pria itu. “Apa kau bahagia?”
Pertanyaan itu membuat Julian tertegun. Ia menghindari tatapan Bella sejenak. “Tentu saja bahagia. Jika tidak, mana mungkin kita menikah?"
“Kau yakin?” desak Bella lembut.
Julian menghela napas ringan. “Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?”
Bella menimbang kata-katanya. Ia tidak ingin menuduh tanpa bukti. “Karena aku merasa ada jarak di antara kita.”
Julian mendekat. “Bella, pekerjaanku itu sangat menyita waktu. Dan kau tau betapa sibuknya aku akhir-akhir ini.”
Bella mengangguk, meski keraguan masih ada dalam dadanya. “Aku hanya ingin kita jujur satu sama lain, Lian.”
“Terserahlah mau percaya atau tidak padaku." ujar Julian.
Namun, ketika Bella hendak menyahutnya, tiba-tiba saja terdengar suara pintu yang diketuk. Karen masuk dengan membawa berkas di tangannya.
“Maaf mengganggu, Pak Julian. Ini dokumen yang Anda minta.”
Julian mengangguk. “Letakkan saja di sini.”
Karen melirik Bella sekilas sebelum akhirnya keluar dari sana setelah meletakkan dokumen yang diminta oleh Julian. Tatapan singkat itu tidak luput dari perhatian Bella.
“Lian—”
“Sebaiknya kau pulang saja sekarang,” sela Julian dengan cepat. “Aku masih ada hal yang harus dikerjakan.”
“Aku akan menunggu di sini. Hitung-hitung menemanimu bekerja. Jarang-jarang kan aku bisa di sini menemanimu?”
“Ck! Yang ada aku tidak bisa konsentrasi dalam bekerja, Bella. Kau pikir aku sedang bermain-main di sini?” sahut Julian dengan nada bicara yang cukup ketus.
“Tidak bisa berkonsentrasi? Kau—”
“Pulang, Arabella!”