Bab 11

1345 Kata
Julian baru saja meletakkan ponselnya ke atas meja ketika terdengar suara ketukan di pintu ruangannya. Ia sempat berpikir jika itu pasti Karen yang ingin masuk untuk menemuinya lagi. “Masuk!” seru Julian dengan nada kesal. Julian sudah bersiap untuk memarahi Karen yang kembali datang untuk mengganggunya, namun sosok Michael yang justru muncul di ambang pintu. Pria itu mengenakan setelan kasual rapi, wajahnya terlihat tenang, namun sorot matanya menyiratkan sesuatu yang sulit ditebak. Julian sedikit mengernyit, jelas tidak menyangka jika ternyata Michael akan datang sepagi ini. “Michael?” Julian bangkit dari duduknya. “Ada apa kau datang ke sini pagi-pagi sekali? Ada hal penting?” tanyanya. Michael melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan santai. “Aku mengganggumu?” “Tidak,” jawab Julian cepat. “Aku hanya heran saja kau tiba-tiba sudah ada di sini pagi-pagi sekali. Kemarin kau juga tiba-tiba langsung pulang tanpa menungguku atau berpamitan. Padahal biasanya kau selalu menunggu sampai rapatku selesai jika memang ada perlu.” Julian menatap Michael penuh selidik. “Sebenarnya ada apa Michael?” Michael menarik napasnya pelan sebelum menjawab. Ia bahkan melangkah mendekat, lalu duduk di sofa yang sama dengan tempat Julian duduk sebelumnya. “Kemarin ada urusan mendesak yang tidak bisa aku tunda. Aku harus segera pergi. Jadi, tidak sempat memberitahumu, atau bahkan menitip pesan pada sekretarismu itu.” Julian mengangguk kecil, seolah menerima jawaban itu tanpa banyak berpikir. “Aku pikir ada sesuatu yang penting. Kau bahkan tidak meninggalkan pesan apa pun.” “Aku berniat menghubungimu,” ujar Michael. “Tapi situasinya tidak memungkinkan.” Julian berjalan menuju meja kerjanya, menuangkan kopi ke dalam cangkir. “Lalu, apa yang membuatmu datang lagi hari ini?” Michael tidak langsung menjawab. Ia justru tersenyum tipis. “Sebelum itu, aku ingin mengatakan sesuatu.” Julian menoleh. “Mengatakan hal apa?” “Tentang istrimu,” jawab Michael tenang. Gerakan Julian terhenti sesaat, nyaris tak terlihat. Namun ekspresinya tetap datar. “Bella?” Michael mengangguk tanpa ragu. Bahkan terlihat excited sekali saat ingin membahasnya. “Kemarin, sebelum aku meninggalkan ruanganmu, aku sempat bertemu dengannya. Ia datang membawakan makan siang untukmu.” “Oh,” sahut Julian singkat, seolah hal itu bukan sesuatu yang penting. Ia kembali melanjutkan gerakannya, menyeruput kopi dengan santai. Michael memperhatikannya sejenak, lalu melanjutkan, “Dia terlihat sangat cantik kemarin. Dan juga… perhatian. Tidak semua wanita mau repot-repot datang ke kantor suaminya hanya untuk memastikan suaminya makan dengan baik.” Julian tertawa kecil. “Bella memang seperti itu.” “Kau pria yang beruntung, Julian,” ujar Michael jujur. “Beruntung karena memiliki istri seperti dia.” Julian hanya tersenyum tipis, lalu dengan cepat mengalihkan pembicaraan. “Jadi, tujuanmu datang ke sini sebenarnya apa? Jangan katakan hanya untuk membicarakan istriku.” Michael ikut tersenyum kecil. “Tidak. Aku datang kemari untuk mengundangmu ke acaraku.” “Acara?” Julian mengernyit. “Acara apa?” “Aku akan mengadakan acara. Ya, acara pesta kecil-kecilan saja,” jelas Michael. “Aku hanya mengundang beberapa teman dekat untuk merayakan status baruku.” Julian mengangkat alis. “Status baru? Maksudmu kau akan menikah lagi?” Michael tertawa ringan. “Bukan. Tapi status baruku sebagai seorang duda.” Julian terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Aku mengerti.” “Aku harap kau bisa datang,” lanjut Michael. “Dan kalau bisa, ajak Bella juga.” Julian berpikir sejenak. “Aku tentu bisa datang. Tapi soal Bella, aku tidak bisa menjanjikan apa pun. Keputusan ada padanya.” Michael mengangguk memahami. “Tidak masalah. Yang penting sampaikan dulu saja padanya.” Julian mengulurkan tangan. “Baiklah. Aku akan berusaha untuk mengajaknya juga. Tapi aku sudah katakan, aku tidak berjanji.” Michael berdiri dan menjabat tangan Julian. “Tidak masalah. Aku tunggu kehadiran kalian.” +++ Sementara itu, Bella sedang berada di rumah. Ia baru saja selesai membereskan dapur ketika suara bel rumah berbunyi nyaring. Bella sontak menoleh ke arah pintu depan. Alisnya sedikit mengernyit, karena ia tidak mengingat memiliki janji dengan siapa pun hari ini. “Siapa ya?” gumamnya pelan. Tanpa berpikir panjang, Bella segera melangkah keluar dari dapur dan berjalan cepat menuju pintu depan. Ia membuka pintu dengan wajah yang sudah siap menyunggingkan senyum sopan, mengira mungkin ada tamu yang datang berkunjung. Namun begitu pintu terbuka, senyum itu langsung meredup. Tidak ada siapa pun di sana. Bella melangkah sedikit ke depan, menengok ke kiri dan ke kanan. Jalan di depan rumah terlihat sepi. Tidak ada kendaraan yang berhenti. Tidak ada orang yang tampak berjalan menjauh. Hanya udara pagi yang terasa tenang, seolah bel rumah itu berbunyi dengan sendirinya. “Padahal jelas-jelas belnya berbunyi,” gumam Bella merasa heran. Pandangan matanya kemudian tertuju pada sebuah paket berukuran sedang yang diletakkan rapi di atas meja kecil di teras. Bella mendekat, lalu menunduk sedikit untuk memperhatikannya. Paket itu dibungkus sederhana, tanpa nama pengirim yang jelas. Dengan dahi sedikit berkerut, Bella mengambil paket tersebut dan kembali menengok ke sekeliling, berharap menemukan seseorang yang mungkin masih berada di sekitar rumahnya. Namun tetap saja, nihil. Tidak ada siapapun. “Aneh…” ucapnya lirih. Bella membawa paket itu masuk ke dalam rumah dan meletakkannya di atas meja ruang tamu. Ia berdiri sejenak, menatap benda itu seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu. Setelah menarik napas pelan, ia akhirnya membuka paket tersebut. Begitu isinya terlihat, kedua matanya sedikit membesar. Buah-buahan segar tertata rapi di dalamnya. Anggur, apel, jeruk—semuanya tampak masih sangat segar. Di bagian sampingnya, terdapat sekotak cokelat bermerek yang sangat ia kenal. Bahkan—itu adalah cokelat kesukaannya. Bella terdiam cukup lama. Lalu perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil yang samar. Ada perasaan hangat yang tiba-tiba menyusup ke dalam dadanya, meski ia sendiri tidak yakin harus menafsirkannya sebagai apa. “Siapa yang mengirim ini?” gumamnya pelan. Nama Julian muncul di benaknya begitu saja. “Mungkin… Julian?” ucap Bella, lebih seperti bertanya pada dirinya sendiri. Ia teringat pesan-pesan yang ia kirimkan semalam. Pesan yang hingga pagi ini belum juga dibalas. Bella menghela napas pelan, lalu kembali menatap cokelat di dalam paket itu. “Kalau memang ini dari Julian,” lanjutnya lirih, “kenapa dia tidak mengabariku saja…” Bella menggeleng kecil, mencoba menepis pikirannya sendiri. Ia menutup kembali paket tersebut, berniat menyimpannya nanti. Namun baru saja ia hendak melangkah kembali ke dalam rumah, tiba-tiba suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah pagar. Bella menoleh, dan mendapati sosok Nancy berdiri tak jauh dari sana. Melambaikan tangan dengan senyum lebar di wajahnya. “Bella!” panggil Nancy ceria. “Aku lihat pintu rumahmu terbuka. Kau tidak apa-apa?” Bella sedikit terkejut, lalu tersenyum kecil. “Nancy? Aku baik-baik saja. Kau dari mana?” Nancy mendekat sambil melirik ke arah paket di tangan Bella. “Dari rumah. Bel, apa itu?” “Oh, ini?” Bella mengangkat paket itu sedikit. “Ada yang mengirimnya, tapi aku juga tidak tahu dari siapa.” Nancy mengangkat sebelah alisnya penasaran, lalu tersenyum penuh arti. “Siapa? Julian?” Bella tertawa kecil. “Entahlah.” Nancy kemudian menyilangkan tangannya di depan d**a. “Kau sedang sibuk tidak? Kalau tidak, temani aku minum kopi, Bel. Aku ingin ke kafe baru di dekat taman itu.” Bella merasa sedikit ragu. Ia menoleh ke arah dalam rumah, lalu kembali menatap Nancy. Pikirannya terasa penuh sejak semalam, dan mungkin… pergi sebentar bukanlah ide yang buruk. “Baiklah,” jawab Bella akhirnya. “Aku ganti baju sebentar.” Nancy tersenyum lebar. “Aku tunggu di luar.” Beberapa menit kemudian, Bella keluar dari rumah dengan tas kecil di pundaknya. Ia mengunci pintu, lalu berjalan berdampingan dengan Nancy menuju mobil. Sepanjang perjalanan menuju kafe, Bella lebih banyak diam. Nancy menyadarinya, namun memilih tidak langsung bertanya. Hingga akhirnya, ketika mereka sudah duduk berhadapan di dalam kafe dengan secangkir kopi di hadapan masing-masing, Nancy menatap Bella dengan ekspresi penuh perhatian. “Kau terlihat seperti orang yang sedang banyak pikiran,” ujar Nancy pelan. “Ada masalah Bel?” Bella menatap permukaan kopinya sejenak sebelum akhirnya mengangkat wajahnya menatap Nancy. “Aku juga tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana.” Nancy tersenyum lembut. “Tidak apa-apa. Ceritakan saja kalau kau mau.” “Semalam—” “Soal Julian?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN