“Semalam—”
“Soal Julian?” sela Nancy menebak.
Bella sontak terdiam sejenak ketika Nancy menebak begitu saja arah pikirannya dengan sangat mudah. Ia mengangkat wajahnya perlahan, lalu mengangguk kecil.
“Iya,” jawabnya lirih. “Ini memang soal Julian.”
Nancy mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, sementara kedua tangannya melingkar di sekitar cangkir kopi. Raut wajahnya pun seketika berubah menjadi lebih lembut, dan penuh perhatian—seperti sahabat yang benar-benar peduli.
“Memangnya, ada apa dengannya Bella?” tanya Nancy pelan, seolah takut kata-katanya justru akan melukai Bella.
Bella menarik napas panjang sebelum menjawabnya. Bahkan jari-jari tangannya sampai mencengkeram gagang cangkir kopi sedikit lebih erat. “Semalam, Julian tidak pulang ke rumah.”
Nancy terdiam, lalu membuka mulutnya sedikit, seakan terkejut mendengar ucapan Bella barusan. “Tidak pulang?” ulangnya, dengan nada yang dibuat prihatin. “Maksudmu sama sekali tidak pulang? Yang benar saja?!”
Bella menggeleng. “Tidak, bukan tidak pulang sama sekali. Maksudku baru semalam dia tidak pulang ke rumah." ujarnya menjelaskan.
Belum sempat Nancy menyahut, Bella kembali melanjutkan. “Aku menunggunya sampai larut malam. Meneleponnya dan mengirim pesan berkali-kali. Tapi tidak ada balasan apapun. Lalu tiba-tiba saja ponselnya tidak bisa dihubungi.” Suaranya terdengar bergetar meski ia berusaha terdengar tenang. “Aku bahkan tidak bisa tidur. Aku terus kepikiran. Takut sekali jika terjadi sesuatu padanya."
Nancy menghela napas pelan, lalu mengulurkan tangannya dan menepuk punggung tangan Bella dengan lembut. “Astaga, Bel… pasti rasanya tidak enak sekali.”
Bella mengangguk tanpa ragu. “Aku merasa sangat bodoh. Aku terus memikirkan kemungkinan yang terburuk semalam. Sampai hampir pagi pun aku masih terjaga."
Nancy menatap wajah Bella dengan ekspresi yang tampak tulus—mata yang sedikit menyipit, alis yang berkerut tipis. Namun di balik tatapan itu, pikirannya justru tenang. Ia tahu persis di mana Julian berada semalam. Ia tahu apa yang pria itu lakukan. Ia bahkan mengingat dengan jelas kamar hotel itu, dan bagaimana Julian memilihnya—bukan Bella.
Dalam hati, Nancy hanya bisa tersenyum sinis.
Bella ini terlalu polos, terlalu mudah percaya pada semua orang. Dan terlalu mudah untuk dibohongi. Jadi pantas saja jika Julian sering bertingkah di belakangnya.
Namun rasa kasihan itu tetap ada, meski tipis dan tidak cukup kuat untuk memunculkan rasa bersalah. Nancy tidak merasa menyesal. Ia merasa apa yang ia lakukan hanyalah mengambil apa yang memang bisa ia dapatkan. Jika Julian datang padanya, itu bukan salahnya. Begitu pikirnya.
“Mungkin Julian memang akhir-akhir ini sibuk sekali,” ujar Nancy akhirnya, dengan suara yang dibuat selembut mungkin. “Mungkin ada urusan mendadak semalam yang membuatnya tidak bisa pulang dan lupa untuk mengabarimu. Kau tahu sendiri kan bagaimana pekerjaannya.”
Bella mengangguk pelan. “Itu juga yang aku pikirkan. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri kalau dia baik-baik saja, dan tidak pulang karena ada urusan pekerjaan.”
“Kau istri yang baik, Bel,” lanjut Nancy. “Tidak semua wanita akan setenang dan sesabar dirimu. Kalau aku yang berada di posisimu, mungkin aku sudah panik setengah mati.”
Bella tersenyum kecil mendengar itu. “Mungkin karena aku terlalu mencintainya ya, jadi kelihatan terlalu berlebihan begini?”
Nancy menahan senyum kecil di sudut bibirnya. “Dan itu bukan kesalahanmu, Bella. Wajar saja jika seorang istri merasa khawatir yang berlebih. Tidak ada undang-undang yang menyalahkan perasaan seorang istri bukan?”
Bella menatap Nancy dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. “Terimakasih, Nance. Aku benar-benar bersyukur memiliki sahabat sepertimu. Setidaknya karena ada kau, aku bisa bercerita dengan tenang tanpa takut dihakimi.”
Nancy menggenggam tangan Bella kali ini. “Sama-sama, Bella. Kau tidak perlu khawatir, aku akan selalu menjadi garda terdepanmu. Kau bebas mau berbagi cerita apapun padaku. Aku bersedia mendengarkan dan akan selalu berusaha menjadi pendengar yang baik."
Begitu mudah mulut Nancy mengeluarkan kata-kata tersebut dengan begitu mulus dan tanpa getar. Seolah tidak ada kebohongan di balik kebaikannya.
Sementara Bella? Ia yang tidak tau apa-apa hanya tersenyum lebih lebar. Ada rasa lega yang menyusup ke dalam dadanya. Ia merasa tidak sendirian. Ia merasa masih punya seseorang yang bisa dipercaya sepenuhnya.
Jika saja ia tahu, bahwa orang yang kini duduk di hadapannya—yang menggenggam tangannya dengan penuh empati—adalah orang yang sama yang telah menghabiskan malam bersama suaminya. Mungkin, Bella benar-benar akan merasa hancur dan tidak menyangka.
Nancy mengangkat cangkir kopinya. “Minumlah dulu. Jangan terlalu banyak berpikir. Apa pun yang terjadi, kau tidak sendirian, Bella.”
Bella mengangguk, lalu menyeruput kopinya perlahan. Hangatnya kopi itu terasa menenangkan. Ia tidak tahu, bahwa di balik ketenangan itu, badai sedang menunggunya—dan salah satu orang terdekatnya adalah bagian dari badai itu sendiri.
+++
Michael berdiri membelakangi meja kerjanya, menghadap dinding kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Dari lantai atas gedung perusahaannya, kota terlihat seperti hamparan cahaya yang sibuk. Kendaraan bergerak seperti urat nadi yang tak pernah berhenti, dengan manusia yang berlalu-lalang dengan tujuan masing-masing.
Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan hitamnya. Wajahnya terlihat datar, rahangnya mengeras, namun matanya terlihat begitu tajam dan penuh perhitungan.
Di dalam keheningan, ia mendengar pintu ruang kerjanya itu diketuk dua kali dari luar.
“Masuk,” ucap Michael tanpa menoleh.
Rey melangkah masuk dengan postur tubuh yang tegap. Pria itu adalah salah satu anak buah kepercayaannya yang bisa dibilang minim bicara, tapi tahu betul kapan harus berbicara serta kapan harus diam.
“Tugas sudah selesai, Tuan,” ujar Rey.
Michael akhirnya berbalik badan. Tatapannya pun langsung tertuju pada Rey. “Paket yang aku minta?”
“Sudah saya kirim langsung ke alamat yang Anda berikan, Tuan. Paketnya sudah diterima dengan baik,” jawab Rey. “Tidak ada kendala sama sekali.”
Sudut bibir Michael terangkat tipis. Bukan senyum, lebih seperti lengkungan kecil yang menandakan kepuasan.
“Bagus,” katanya singkat. “Terima kasih.”
Rey dengan cepat mengangguk hormat, namun belum beranjak pergi.
Michael melangkah perlahan kembali ke depan kaca, menatap ke luar sekali lagi. Bayangan dirinya sendiri memantul samar di permukaan kaca—seorang pria dengan setelan mahal, tampak berwibawa sekali, dan terlihat memiliki pemikiran yang tak pernah benar-benar sederhana.
“Rey,” panggilnya lagi.
“Ya, Tuan.”
“Aku akan mengadakan pesta kecil di rumah akhir pekan ini.”
Rey langsung menyahut. “Berapa orang yang akan anda undang, Tuan?”
“Tidak banyak,” jawab Michael. “Hanya orang-orang terdekat. Julian dan istrinya, Bella. Patrick dan istrinya juga.”
Rey mencatat cepat di kepalanya. “Baik. Saya akan mengurus semuanya, Tuan.”
“Pastikan suasananya santai. Minuman dan makanan tidak perlu berlebihan. Tapi aku ingin kau siapkan wine yang paling mahal nanti,” lanjut Michael dengan nada tenang namun penuh kontrol. “Dan satu lagi Rey, siapkan beberapa kamar tamu.”
Rey mengangkat sedikit alisnya. “Berapa kamar, Tuan?”
Michael menoleh setengah badan, menatap Rey dengan tatapan yang membuat pria itu langsung paham bahwa ini bukan sekadar permintaan biasa.
“Tiga kamar. Pastikan juga jika Julian dan Bella menginap,” ujar Michael tegas. “Aku tidak mau ada alasan bagi mereka untuk pulang malam itu.”
Rey mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. “Saya mengerti yang anda inginkan, Tuan. Saya akan melakukannya.”
Michael kembali menatap ke luar. Ingatannya melayang singkat pada wajah Bella—cara wanita itu tersenyum kecil, caranya terlihat rapuh tanpa sadar, dan caranya selalu berusaha kuat di hadapan orang lain. Terlalu baik. Terlalu setia. Terlalu sering dilupakan oleh suaminya sendiri.
Paket itu.
Michael tahu Bella pasti mengira itu dari Julian. Ia sengaja membiarkannya begitu. Sebuah perhatian kecil, dan tanpa nama pengirim yang jelas.
“Apa ada lagi yang anda inginkan, Tuan?” tanya Rey, memecah keheningan.
Michael terdiam sesaat, lalu berkata pelan namun pasti, “Di pesta nanti… aku ingin semuanya berjalan dengan sangat sempurna.”
Nada suaranya rendah, hampir tak terdengar, namun sarat akan makna.
Rey menunduk sedikit dan menyahut. “Tentu.”
Saat Rey berbalik untuk pergi, Michael menambahkan satu kalimat lagi, kali ini tanpa menoleh.
“Oh ya, Rey.”
Rey berhenti di ambang pintu. “Ya, Tuan?”
“Pastikan aku punya cukup waktu dengan Bella. Aku tidak mau ada yang menganggu nantinya, termasuk Julian.”
Rey tidak menunjukkan ekspresi apa pun. “Saya mengerti apa yang anda inginkan, Tuan. Akan saya atur semuanya dengan baik.”
Pintu ruangan tersebut langsung tertutup pelan begitu Rey keluar dari sana. Sementara itu, Michael kini sendirian lagi di ruangannya.
Ia menghela napas perlahan, lalu meraih segelas whisky di meja kecil yang ada di sampingnya. Cairan keemasan itu berputar pelan saat ia memutarnya di tangan.
“Akan aku mulai semuanya dari sana, Bella.” gumamnya nyaris tak terdengar.