Bab 13

1198 Kata
Malam ini, Bella sedang duduk di atas kursi kecil yang berada di sudut kamar, tepat di depan meja kerjanya yang sudah lama jarang ia sentuh. Lampu meja menyala redup, menerangi lembaran kertas putih yang kini dipenuhi dengan garis-garis sketsa. Pensil di tangannya terus bergerak pelan, kadang berhenti karena adanya perasaan sedikit ragu, lalu kembali bergerak menggoresnya dengan lebih yakin. Gaun, ia sedang menggambar sebuah gaun yang cantik di sana. Potongan bahunya dibuat dengan untaian yang jatuh begitu lembut. Lalu garis pinggangnya dibuat begitu sederhana, dengan detail lipit halus yang mengalir ke bawah. Model gaunnya dibuat dengan sederhana. Tidak terlalu rumit, dan tidak terlalu berlebihan seperti dirinya. Sederhana, namun tetap terlihat sangat anggun. Sejenak Bella berhenti, menatap hasil gambarnya dengan napas tertahan. Ada rasa hangat yang menyusup ke dalam dadanya, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Puan itu lantas tersenyum kecil. “Lumayan juga hasilnya untuk aku yang sudah lama tidak pernah menyentuh ini semua,” gumamnya lirih. Sudah lama sekali sejak ia benar-benar kembali menyentuh dunia itu, dunia yang dulu begitu ia cintai. Dunia desain, kain, warna, dan banyaknya imajinasi. Sejak menikah dengan Julian, semuanya seolah berhenti. Bukan karena dilarang, tapi karena ia sendiri yang memilih untuk berhenti dari pekerjaan yang ia sukai. Itu semua ia lakukan karena ingin fokus menjadi istri yang baik. Mendukung suaminya secara penuh. Namun, kini keinginan itu kembali muncul. Bella mengusap ujung kertas itu dengan lembut. Dalam hatinya, ia berharap, bahkan sangat berharap jika suatu hari nanti ia bisa kembali bekerja. Kembali menjadi dirinya sendiri, tanpa harus merasa bersalah. Namun bersamaan dengan itu, kegelisahan pun mulai merayap dalam hatinya. Bagaimana ia harus mengatakannya pada Julian? Ia menggigit bibir bawahnya pelan. Julian benar-benar sibuk. Tidak ada waktu banyak untuk bisa mengobrol dengan pria itu, sebab Julian selalu beralasan lelah setelah pulang bekerja dan berakhir tidur lebih dulu. Selain itu, akhir-akhir ini juga ia merasa sudah semakin jauh dengan Julian. Bella jadi takut, keinginannya justru akan dianggap sebagai beban tambahan. Dan tentu saja, ia takut jika Julian tak mengizinkannya. Belum sempat ia tenggelam lebih dalam dalam pikirannya, tiba-tiba saja pintu kamar terbuka. Bella sampai tersentak kaget. Refleks, ia langsung menutup sketsa itu dengan cepat dan bangkit dari duduknya. Jantungnya langsung berdetak lebih kencang ketika melihat sosok Julian berdiri di ambang pintu, masih mengenakan setelan kerjanya. “Julian…” ucap Bella spontan. Tanpa berpikir panjang, Bella langsung melangkah mendekat dan memeluk suaminya dengan erat. Wajahnya ia sembunyikan pada d**a Julian, seolah ingin memastikan bahwa pria itu benar-benar ada di sana. “Akhirnya kau pulang juga, Lian!” ujarnya lirih. “Kenapa semalam kau tidak pulang? Aku benar-benar khawatir dengan keadaanmu, Lian. Aku takut kau kenapa-kenapa di luar. Sampai-sampai, aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu.” Julian terdiam sejenak sebelum membalas pelukan itu, namun tidak berlangsung lama. “Ada pekerjaan penting yang tidak bisa aku tinggal,” jawabnya singkat. Nada bicaranya pun terdengar sangat datar. “Mendadak sekali, jadi maaf jika aku tidak sempat mengabarimu." Bella mengangkat wajahnya, menatap Julian dengan mata penuh tanda tanya. Namun ia hanya mengangguk pelan, menelan semua pertanyaan lanjutan yang sebenarnya ingin ia ajukan. Sungguh, ia berpikir bahwa sepertinya akan berakhir bertengkar jika ia memaksakan diri untuk bertanya. “Oh, begitu ya?” sahutnya lembut. “Aku mengerti,” lanjutnya, sambil memaksakan senyum kecil untuk ditunjukkan pada pria itu. Saat Bella hendak bertanya apakah Julian ingin ia siapkan makan malam atau tidak, pria itu justru lebih dulu melepaskan pelukannya. “Badanku masih berkeringat,” ujar Julian sambil sedikit menjauh. “Aku ingin mandi dulu.” “Ya sudah, pergilah mandi,” jawab Bella cepat. Julian langsung melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan Bella yang masih berdiri sendiri di tengah kamar. Tanpa menyadari jika senyuman di wajah Bella perlahan memudar. Beberapa menit berlalu. Bella masih setia di sana, duduk di tepi ranjang, menunggu Julian sampai selesai membersihkan diri. Saat Julian keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah dan pakaian yang bersih, Bella langsung bangkit dan berdiri dari duduknya. “Kau ingin aku buatkan makan malam apa, Lian?” tanyanya penuh harap. “Aku bisa menyiapkannya untukmu sekarang.” Julian menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tidak usah. Aku sudah makan malam tadi sebelum pulang ke rumah.” “Kau makan sendirian atau—” “Kenapa bertanya seperti itu?” sela Julian, bahkan di saat Bella belum menyelesaikan ucapannya. “Kau berpikir aku makan dengan orang lain?” “Bukan begitu, Lian. Maksudku, aku pikir kita bisa makan malam berdua. Karena itu, aku belum makan sama sekali karena menunggumu.” Julian berdecak kesal. “Siapa juga yang memintamu untuk tidak makan? Itu salahmu sendiri karena berpikir seperti itu.” “Julian?” Bella sampai tak bisa berkata-kata mendengar balasan Julian yang menurutnya sangat menyakiti. Benar-benar menusuk sampai ke ulu hati. “Kau bisa makan sekarang. Tapi sebelum itu, buatkan aku kopi terlebih dahulu. Ingat, jangan kebanyakan gula. Aku tidak suka yang terlalu manis.” ujar Julian tanpa menoleh. Ingin rasanya Bella menyahuti ucapan Julian, namun ia benar-benar berusaha untuk menyabarkan dirinya sendiri, agar tidak timbul pertengkaran seperti yang sudah-sudah. Untuk itu, Bella memilih untuk tidak menjawab lagi. Ia hanya mengangguk kecil, lalu berbalik keluar dari kamar. Langkahnya begitu pelan menuju dapur, seolah seluruh energinya baru saja terkuras habis di dalam kamar. Menghadapi Julian memang sangat menghabiskan banyak energi. Sesampainya di dapur, ia menyiapkan kopi dengan hati-hati seperti biasanya. Aroma kopi hangat kini memenuhi dapur, namun tidak cukup untuk menghangatkan perasaannya. Saat hendak kembali ke kamar, pandangan mata Bella tertuju pada meja kecil di sudut ruang keluarga—tempat dimana paket itu ia letakkan pagi tadi. Buah-buahan segar dan coklat kesukaannya masih tersusun dengan sangat rapi. Arabella terdiam sejenak, lalu mengambil beberapa buah dan coklat itu. Entah kenapa, ia ingin membawanya ke kamar. Mungkin karena ia pikir itu merupakan salah satu bentuk perhatian kecil yang diberikan oleh Julian. Seketika moodnya sedikit kembali membaik. Bella kembali ke kamar dan meletakkan cangkir kopi di atas meja kecil. “Kopinya aku taruh di sini ya,” katanya dengan lembut. Julian menoleh sekilas, lalu pandangannya berpindah pada buah dan coklat di samping kopi itu. Alisnya sedikit berkerut. “Itu kau dapat dari mana?” tanyanya. Bella menoleh dan sedikit tertegun. “Maksudmu?” “Buah dan coklat itu,” ulang Julian. “Kau beli di mana?” tanyanya. Bella sontak terkejut. Bingung sejadi-jadinya mendengar pertanyaan Julian barusan. Ia menatap Julian, lalu menatap kembali buah-buahan itu. Otaknya lantas bekerja dengan cepat. Banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepalanya. Bukankah ini dari Julian? Tapi?? “Kau dengar tidak aku bertanya?!” ujar Julian dengan nada bicara yang sedikit meninggi. Dan hal itu membuat Bella sedikit tersentak. “Di… supermarket,” jawab Bella pada akhirnya, meski suaranya terdengar sedikit ragu. “Pagi tadi.” Julian mengangguk singkat, lalu tidak melanjutkan pertanyaan itu lagi. Namun Bella justru terdiam lebih lama. Ia benar-benar bingung dan tidak mengerti. Jika bukan Julian, lalu siapa yang mengirimkannya? Pertanyaan itu menggantung di kepalanya, membuat dadanya terasa semakin sesak. Bella menatap buah dan coklat itu dengan perasaan campur aduk. Antara bingung, heran, dan entah kenapa justru membuatnya sedikit takut. Malam itu, untuk pertama kalinya, Bella merasa bahwa ada sesuatu yang mulai bergerak diam-diam di sekeliling hidupnya. Sesuatu yang belum ia pahami. Sesuatu yang perlahan mendekat, tanpa ia sadari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN