Arabella masih setia di tempatnya saat ini. Duduk sendirian di sana, membiarkan keheningan dapur menyelimuti dirinya. Jam dinding yang berdetak pelan terasa begitu nyaring di telinganya. Setiap detiknya seolah menegaskan betapa sunyinya rumah itu, meski ia tidak sendiri berada di sana.
Ia membuka matanya secara perlahan, menatap meja makan yang kosong. Jemarinya saling bertaut di atas paha, menggenggam erat, seolah itu satu-satunya cara agar dirinya tetap merasa utuh. Lalu tiba-tiba saja dadanya kembali terasa sesak, tapi kali ini ia sudah terlalu lelah untuk menangis.
“Kenapa semuanya harus seperti ini…” gumamnya lirih, hampir tak terdengar.
Seperti biasa. Seperti pada malam-malam sebelumnya, tidak ada jawaban yang ia dapatkan dari pertanyaannya tersebut.
Malam ini berlalu dengan perasaan yang sunyi. Bella akhirnya kembali ke kamar setelah memastikan Julian sudah tertidur lebih dulu. Ia kemudian berbaring membelakangi pria itu, menatap langit-langit kamar dalam gelap, membiarkan pikirannya berkelana tanpa arah sampai rasa lelah perlahan mengalahkan kegelisahannya.
Akhir pekan datang lebih cepat dari yang Bella bayangkan. Pagi itu, suasana rumah terasa sedikit berbeda. Julian terlihat jauh lebih rapi dari biasanya. Ia mengenakan kemeja kasual mahal dengan potongan yang pas di tubuhnya, jam tangan kesayangannya melingkar di pergelangan tangan. Aroma parfum yang ia pakai pun terasa lebih kuat dari biasanya.
Bella memperhatikannya dari depan cermin kamar, sambil merapikan gaun sederhana yang ia kenakan. Gaun itu tidak terlalu mencolok, tapi cukup elegan saat ia pakai. Warna lembut yang biasanya ia pilih pastinya sangat aman dan cocok untuk acara apapun.
“Kita berangkat setelah makan siang,” ucap Julian sambil merapikan rambutnya. Nada bicaranya terdengar datar, seperti seorang bos yang sedang membicarakan sebuah agenda biasa.
Namun, Bella tak mempermasalahkan itu. Ia tak ingin membuat mood baik Julian berubah menjadi buruk. Maka dari itu, Bella hanya mengangguk kecil dan menyahut singkat.
“Ya, Lian.”
Meski hatinya masih sedikit mengganjal, karena sejak malam itu, kata maaf pun tidak keluar sama sekali dari mulut Julian. Bahkan tak ada percakapan hangat seperti biasanya. Seolah apa yang terjadi beberapa hari lalu tidak pernah terjadi. Atau memang mungkin hanya dianggap sebagai hal yang tidak penting oleh Julian.
Lagi-lagi Bella selalu berpikir berat dan terlalu jauh seperti ini. Rasanya benar-benar melelahkan sekaligus membuatnya muak. Tapi sayangnya, dia benar-benar belum mau menyerah. Ia masih ingin mempertahankan rumah tangganya yang saat ini bahkan tidak tau arahnya kemana.
“Bella?”
“Bel?”
“Arabella!”
Suara Julian begitu nyaring di telinga Bella saat ini. Ia tersentak dan benar-benar terkejut. Apalagi melihat bagaimana raut wajah Julian saat ini.
“Apa yang sedang kau pikirkan, hah? Sampai ku panggil tidak dengar sama sekali?”
“Maaf, a—aku, aku tadi—”
“Ponselmu berdering sejak tadi!” sela Julian kesal. “Apa kau tuli? Sampai tak mendengar sama sekali.”
Arabella spontan meraih ponselnya dan memeriksanya. Ternyata memang benar, baru saja ada panggilan tak terjawab yang ternyata sudah beberapa kali.
“Siapa yang menelponmu?” tanya Julian, mendekat dengan alis yang teratur penasaran.
“Nancy,” jawab Bella singkat.
“Ada urusan apa sampai dia menelponmu sekarang?”
Bella mengangkat kedua pundaknya tak tahu. “Mana aku tau, Lian? Tapi mungkin dia mau mengajakku pergi untuk minum kopi bersama. Dia selalu be—”
“Kurang-kurangi,” sela Julian.
Bella sontak menaikkan sebelah alisnya. “Maksudnya?”
“Jangan terlalu sering keluar bersamanya. Aku tidak senang kau keluar tanpa ada manfaat yang jelas seperti itu. Yang ada pasti hanya bergosip tidak jelas. Lebih baik kau diam di rumah.”
Sumpah demi apapun, Bella menatap Julian dengan tatapan tak percaya. Rasanya, ada yang aneh dengan Julian akhir-akhir ini.
“Bagaimana bisa kau bicara begitu, Lian? Kau lebih senang jika istrimu hanya berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun di luar sana? Kau pikir aku akan senang hanya dengan di rumah saja?”
“Oh, jadi kau tidak senang?”
“Jelas!” seru Bella sedikit berteriak. Rasa untuk memberontak semakin menggebu-gebu, karena ia merasa jika Julian semakin mengekang dirinya saja. “Aku ini manusia! Bahkan hewan pun membutuhkan yang namanya kebebasan!”
Julian menatap Bella dengan tatapan tajam. Sorot matanya terlihat mengeras, sedangkan rahangnya mengatup kuat seolah menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya. Suasana kamar yang tadinya tenang mendadak terasa menekan.
“Jaga bicaramu,” ucap Julian dingin. “Jangan menyamakan dirimu dengan hewan! Aku bahkan tidak sedang membahas soal hewan!”
Bella terkesiap kecil. Ucapan itu seperti tamparan tak kasat mata di wajahnya. Dadanya kembali naik turun, napasnya terasa pendek-pendek. Ia menatap Julian tanpa berkedip, berusaha mencari sisa pengertian di wajah suaminya. Namun yang ia temukan justru jarak yang semakin jelas.
“Aku tidak bermaksud begitu,” ujar Bella, suaranya terdengar lebih lirih namun sarat akan emosi. “Aku hanya ingin kau mengerti perasaanku. Aku hanya ingin punya waktu juga untuk keluar, Lian. Aku butuh yang namanya sebuah ruang.”
Julian mendengus pelan. “Ruang apa lagi yang kau mau? Kau punya rumah yang nyaman, hidup yang sangat baik, suami yang bertanggung jawab. Apa lagi yang kurang?”
Bella tertawa kecil, namun terdengar getir. “Ternyata kau benar-benar tidak mengerti.”
Ia melangkah menjauh, berdiri di dekat jendela kamar. Tangannya menyentuh tirai tipis, menyingkap sedikit hingga cahaya matahari pagi masuk dan menerpa wajahnya. Wajah yang terlihat lelah, dengan mata yang menyimpan terlalu banyak hal yang tak pernah sempat terucap.
“Aku hanya ingin didengar,” lanjut Bella pelan. “Bukan diatur. Apalagi dikekang. Aku istrimu, Lian. Bukan barang milikmu.”
Julian terdiam sejenak. Ada kilatan emosi di matanya, namun ia segera menutupinya dengan ekspresi datar. “Kau terlalu berlebihan,” ucapnya singkat. “Aku hanya tidak ingin kau terpengaruh oleh hal-hal yang tidak penting.”
“Dan menurutmu, Nancy membawa pengaruh buruk begitu?" tanya Bella, menoleh cepat.
“Aku tidak menuduhnya membawa pengaruh buruk padamu. Tapi dia bukan prioritasmu,” jawab Julian tegas.
Kalimat itu membuat Bella tercekat. Ada bagian dari dirinya yang ingin tertawa pahit, namun lebih banyak yang ingin menangis. Ia mengangguk kecil, seolah menerima, meski hatinya sama sekali tidak sepakat.
“Baik,” katanya. “Aku akan meneleponnya nanti saja.”
Julian tampak puas dengan jawaban itu. Ia kembali merapikan jam tangannya, lalu melirik jam dinding. “Bersiaplah. Kita akan berangkat setelah makan siang.”
Bella tidak menyahut. Ia hanya berdiri diam, menatap punggung Julian yang menjauh. Ada perasaan asing yang semakin menguat di dadanya—perasaan terjebak, perasaan kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.