Bab 16

941 Kata
Setelah makan siang yang berlangsung dalam keheningan yang canggung, Bella bersiap dengan cepat. Ia mengganti sepatunya, merapikan tas kecil yang akan ia bawa, lalu menatap bayangannya sendiri di cermin ruang tamu. Wajahnya terlihat tenang, namun matanya menyimpan kegelisahan yang sulit disembunyikan. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri sebelum melangkah keluar dari rumah. “Tenang, Bella. Kau harus bersikap biasa saja dan tenang...” Sementara itu, Julian sudah menunggu di dalam mobil sejak tadi. Begitu Bella masuk dan menutup pintu, mobil langsung melaju dengan cepat. Suara mesin terdengar stabil yang mana secara tidak langsung sudah mengisi ruang sunyi di antara mereka. Bella lantas memilih untuk menyandarkan punggungnya, matanya menatap lurus ke depan, sementara tangannya menggenggam tas dengan jemari sedikit menegang. Perjalanan menuju kediaman Michael memakan waktu cukup lama. Jalanan yang mereka lalui perlahan berubah dari kawasan kota yang ramai, menuju area yang lebih tenang dan hijau. Pepohonan tinggi berjajar rapi di sisi jalan, udaranya juga terasa lebih sejuk, dan suasana perlahan terasa asing bagi Bella. Sesekali Bella melirik Julian dari sudut matanya. Pria itu terlihat fokus menyetir, wajahnya pun tampak datar seperti biasa. Tidak ada obrolan sama sekali sejak awal ia duduk di samping pria itu. Bahkan sekadar menanyakan apakah Bella nyaman pun tidak sama sekali. Seolah-olah mereka berdua ini hanyalah orang asing. Aneh, pikir Bella tak karu-karuan. Hening yang tercipta di dalam mobil terasa semakin berat seiring jarak yang mereka tempuh semakin jauh. Bella kemudian mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Rumah-rumah besar mulai terlihat, berdiri megah dengan halaman luas dan pagar yang begitu tinggi. Lingkungan ini jelas bukan lingkungan dari kalangan orang biasa. Semuanya terlihat rapi, eksklusif, dan sangat tenang. “Rumah Michael ada di sini?” tanya Bella akhirnya, memecah keheningan. “Iya,” jawab Julian singkat tanpa menoleh. “Tapi masih agak ke sana sedikit lagi.” Bella mengangguk pelan. Entah kenapa, dadanya terasa semakin tidak nyaman. Ada perasaan asing yang terus mengusik sejak mereka berangkat tadi. Perasaan yang sulit ia jelaskan, tapi cukup kuat untuk membuatnya merasa waspada. Ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang ada di pikirannya saat ini. Selain Julian, perasaan aneh itu terus muncul dalam dadanya. Beberapa menit berlalu, mobil Julian berhenti di depan sebuah gerbang besar berwarna hitam. Desainnya begitu sederhana, namun jelas itu sangat mahal. Begitu Julian menekan tombol, gerbang itu perlahan terbuka dengan sendirinya, memperlihatkan sebuah rumah besar dengan arsitektur modern yang berpadu dengan nuansa alam. Halamannya pun luas, dipenuhi dengan tanaman hijau yang tertata dengan sangat rapi. Bahkan terdapat ada jalan setapak dari batu alam yang mengarah langsung ke pintu utama rumah. Bella menatap sekeliling dengan mata yang sedikit membesar. Kediaman Michael ternyata jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. “Ini rumahnya?” gumam Bella pelan. Julian memarkir mobil di area yang telah disediakan. “Iya, ini rumahnya." Begitu mereka turun dari mobil, udara sejuk langsung menyentuh kulit Bella. Suasana di sana terasa sangat tenang, hampir terlalu tenang. Tidak terdengar suara musik, tidak ada tanda-tanda pesta besar seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Tentu saja hal itu membuat Bella bingung. Pesta yang seperti apa yang sedang Michael suguhkan? Pintu utama rumah terbuka sebelum mereka sempat menekan bel. Michael muncul dengan senyum tipis di wajahnya. Pria itu mengenakan kemeja santai berwarna gelap, terlihat rapi namun tidak berlebihan. Tatapannya langsung tertuju pada Bella sesaat lebih lama sebelum beralih pada Julian. Dan sialnya, Bella benar-benar merasa ada yang salah dengan Michael. “Akhirnya kalian sampai juga,” ucap Michael ramah. “Selamat datang di kediamanku," “Untung saja, aku masih ingat alamat rumahmu yang ini." sahut Julian lalu tertawa kecil. Sementara itu, Bella sampai menaikkan pandangannya ke arah Julian. Seolah terkejut dengan ucapan pria itu. Tentu saja, ia terkejut, sebab itu berarti rumah Michael bukan ini saja, dan Bella baru tahu hal itu. “Ayo masuk,” ujar Michael, mempersilakan mereka. “Yang lainnya sudah ada di dalam.” Julian masuk lebih dulu, meninggalkan Bella yang melangkah pelan di belakang. Puan itu kembali dibuat terdiam begitu memasuki kediaman Michael. Interior rumah pria itu terasa begitu hangat namun elegan. d******i warna netral, pencahayaan lembut, dan aroma samar kopi memenuhi ruangan. Semuanya tertata rapi, namun tidak terasa kaku. Rumahnya benar-benar terasa lebih hidup. Namun ada satu hal yang langsung Bella sadari, rumah tersebut sangat sepi. Benar-benar tidak ada keramaian selayaknya orang yang sedang mengadakan sebuah pesta. Bella juga baru sadar, di halaman depan, hanya ada 4 mobil yang terparkir. Samar-samar Bella mendengar suara Julian sedang menyapa seseorang. Ia pun melangkah sedikit lebih cepat dan melihat ada beberapa orang yang sedang duduk santai di ruang tengah, yaitu Reynald dan istrinya. Ini benar-benar jauh dari bayangan “pesta” yang ada di pikirannya. “Hanya orang-orang ini saja,” ujar Bella pelan, lebih seperti gumaman. Michael yang mendengarnya sontak langsung tersenyum kecil. “Aku memang tidak mengundang banyak orang. Hanya teman-teman dekat saja. Lagi pula, aku tidak begitu suka keramaian.” Bella tak menyahut. Ia hanya menoleh dan mengangguk paham, meski perasaan tidak nyamannya justru semakin jelas. Ini bukan pesta seperti biasa yang orang-orang lakukan. Dan entah mengapa, kehadirannya di tempat itu terasa semakin ganjil. “Bella?” Sang pemilik nama mendongak, menatap mata Michael dengan tatapan penuh. “Boleh aku jujur?” tanya Michael, dan dibalas dengan anggukan kepala oleh wanita itu. “Aku senang kau bisa datang kemari. Dan... kau terlihat sangat cantik sekali.” Kedua pupil mata Arabella sontak membulat sempurna. Benar-benar terkejut sekali dengan apa yang baru saja pria itu katakan. Namun belum sempat menyahutnya, Julian sudah lebih dulu memanggilnya. Sumpah demi apapun juga, Bella jadi merasa semakin worry di tempat ini. Dia jadi berpikir, apakah Michael sudah gila?! Bagaimana mungkin pria itu memujinya yang notabenenya adalah istri dari temannya sendiri?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN