“Aku benar-benar tidak menyangka, orang sesibuk dirimu bisa menyempatkan waktu untuk menghadiri acara pesta kecil-kecilan yang diadakan oleh Michael!” seru Reynald sembari menyodorkan gelas berisi minuman kepada Julian.
Julian terkekeh kecil dan segera menyahut, “Jika aku tidak datang, Michael bisa marah dan merajuk padaku asal kau tahu!”
Keduanya tertawa, termasuk istri Reynald pun juga ikut tertawa mendengar candaan Julian. Sementara Bella, puan itu hanya diam tanpa bicara sepatah kata pun.
“Wah, Bella, kenapa kau diam saja?” tanya Reynald yang mulai sadar akan keterdiaman Bella saat ini. “Apa kau bosan dengan pestanya yang biasa-biasa ini?”
“Sayang! Jangan begitu bicaranya.” tegur Selly—istri Reynald. “Jika Michael dengar kau bilang pestanya biasa-biasa saja, dia bisa marah!”
“Ah, benar juga. Michael memang pemarah,” sahut Reynald, membalas candaan sang istri. “Tapi sungguh, aku penasaran kenapa Bella terus diam saja sejak tadi.”
Julian menoleh ke arah Bella dengan tatapan tajam. Rupanya pria itu merasa malu karena sikap Bella yang dingin dan terus saja diam. Apalagi sampai ditegur seperti barusan oleh Reynald.
“Astaga sayang, Bella diam saja karena mungkin candaanmu dengan Julian memang tidak selucu itu. Makanya dia tidak tertawa!”
Julian semakin menatap Bella dengan tatapan yang menusuk. Seolah sedang menekan Bella untuk segera bersuara. Sungguh, Bella yang mengerti arti tatapan dari Julian langsung menghela napas dan mulai bersuara.
“Bukan, bukannya tidak lucu atau merasa bosan, aku hanya sedang kelelahan saja karena perjalanan kemari cukup jauh. Itu saja. Jadi tolong jangan merasa tersinggung jika aku hanya diam saja sejak tadi." ujar Bella menjelaskan.
Julian kemudian buru-buru tersenyum dan menyahut, “istriku ini memang payah. Padahal aku mengemudi mobil, tapi dia yang kelelahan."
Reynald dan Selly langsung tertawa begitu mendengar ucapan Julian. Bahkan Julian turut tertawa. Sumpah demi Tuhan, Bella merasa sedang direndahkan saja. Apa salahnya jika memang kelelahan?
Tidak ada yang benar, dan ini benar-benar membuat Bella merasa tidak nyaman. Inilah mengapa, Bella jarang atau bisa dibilang tidak pernah mau berkumpul bersama atau dekat dengan teman-teman Julian. Karena menurutnya, semuanya sama saja. Suka sekali menertawakan seseorang seperti ini.
“Ada apa ini?” tanya Michael yang kembali muncul sembari membawa dua kotak pizza yang baru saja datang.
“Bukan apa-apa Michael," sahut Selly. “Astaga, pantas kau lama sekali. Datang-datang membawa makanan lagi!”
“Jika tidak ada apa-apa kenapa kalian tertawa? Ada yang lucu? Apa?” tanya Michael penasaran, sebab ia melihat Bella yang hanya diam saja, sementara yang lainnya tertawa.
Selly melirik sekilas ke arah Bella, lalu kembali menatap Michael dengan ekspresi santai, seolah apa yang terjadi barusan bukanlah sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.
“Ah, tidak ada apa-apa,” ujar Selly ringan. “Hanya Bella yang kelihatan agak kelelahan saja. Perjalanan kemari kan cukup jauh.”
Michael mengangguk pelan, namun tatapannya belum sepenuhnya lepas dari Bella. Sebelum ia sempat berkata apa-apa, Julian justru kembali menyela dengan nada yang terdengar setengah bercanda.
“Memang begitu dia,” ucap Julian sambil terkekeh. “Payah. Tidak menyenangkan sama sekali kalau diajak ke acara seperti ini.”
Bella membeku di tempatnya. Jari-jarinya mencengkeram ujung gaunnya tanpa sadar. Benar-benar tidak menyangka saat mendengar suaminya sendiri bicara demikian.
“Kadang aku sampai menyesal mengajaknya,” lanjut Julian enteng, seolah kalimat itu bukan sesuatu yang menyakitkan.
Reynald tertawa kecil, sedangkan Selly hanya tersenyum tipis. Namun Michael tidak ikut tertawa. Sama sekali tidak.
Ia menutup kotak pizza di hadapannya, lalu berdiri tegak. Pandangannya lurus tertuju pada Bella yang kini menunduk, jelas terlihat tidak nyaman.
“Bella,” panggil Michael dengan suara yang lebih tenang. “Kalau kau lelah, kau mau beristirahat saja di kamar?”
Semua mata seketika tertuju pada mereka berdua.
Bella mendongak perlahan. Pertanyaan itu terdengar sederhana, namun bagi Bella, itu seperti sebuah pintu keluar yang tiba-tiba terbuka. Dadanya terasa lebih ringan hanya dengan mendengarnya.
“I—” Bella sempat melirik Julian sekilas, ragu. Namun tatapan Julian sama sekali tidak memberinya dukungan. “Iya,” jawab Bella akhirnya dengan pelan. “Aku memang sedikit lelah.”
“Bagus,” sahut Michael singkat. “Aku antar ke kamar tamu.”
Julian hendak berkata sesuatu, namun Michael sudah lebih dulu melangkah. Nada suaranya tidak memberi ruang untuk dibantah.
Dengan cepat, Bella bangkit dari duduknya. Jantungnya bahkan tiba-tiba saja berdetak sedikit lebih cepat. Ia mengikuti langkah Michael keluar dari ruang keluarga, meninggalkan tawa-tawa yang terasa semakin asing baginya.
Lorong rumah tersebut terasa begitu sunyi, hanya suara dari langkah kaki mereka berdua yang terdengar. Michael berjalan di samping Bella, menjaga jarak yang sopan. Tidak terlalu dekat, tidak pula terlalu jauh.
“Michael, terimakasih.” ujar Bella tiba-tiba, memecah keheningan yang terjadi di antara mereka berdua.
“Terimakasih untuk apa?” tanya Michael sembari menaikkan sebelah alisnya. Seolah tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh puan itu. Padahal, Michael mengerti apa maksudnya.
“Sudah mengajakku menjauh dari mereka—maksudku, bukan aku tidak senang pada mereka. Hanya saja, aku tidak nyaman dengan obrolan mereka tadi.”
“Aku tau, dan itu keterlaluan.” sahut Michael.
Tiba-tiba saja, Bella menghentikan langkahnya. Ia mendongak dan menatap Michael dengan tatapan yang sulit diutarakan.
“Karena itu, aku bertanya padamu.” lanjut Michael, lalu tersenyum kecil. Manis sekali.
Bella mengangguk dan membalasnya dengan senyuman kecil juga. Kemudian ia berkata, “untung saja dari semua orang yang menertawakan aku, masih ada kau yang peka dan waras.”
“Bagus jika kau sadar, bahwa hanya aku yang waras di sini.” sahut Michael dengan nada bercanda, sambil mengedipkan sebelah matanya main-main.
Bella terkekeh pelan mendengar candaan Michael, meski senyumnya masih terasa rapuh. Ia kembali melangkah, mengikuti Michael yang kini berjalan sedikit lebih lambat, seolah sengaja menyesuaikan langkah dengannya.
Beberapa detik berlalu dalam diam, hingga akhirnya Michael kembali membuka suara.
“Kau benar-benar tidak nyaman tadi, ya?” tanyanya pelan, tanpa menoleh. Nadanya datar, namun penuh perhatian.
Bella tidak langsung menjawab. Ia menunduk, menatap ujung sepatunya sendiri. Langkahnya melambat, lalu nyaris berhenti. Setelah beberapa detik, ia hanya mengangguk kecil. Sebuah anggukan jujur, tanpa perlu banyak kata.
Michael menangkap gestur itu dengan jelas. Rahangnya sedikit mengeras, namun ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk pelan, seolah sudah cukup memahami jawaban Bella.
“Aku minta maaf,” ucapnya kemudian, suaranya lebih rendah. “Seharusnya aku lebih cepat menyadari suasananya.”
“Bukan salahmu,” sahut Bella cepat. “Aku sudah terbiasa… maksudku, ini bukan pertama kalinya.”
Kalimat itu justru membuat Michael berhenti melangkah. Ia menoleh, menatap Bella dengan ekspresi yang sulit ditebak—antara heran dan tidak terima.
“Terbiasa diperlakukan seperti itu oleh Julian?” tanyanya, kali ini tanpa bercanda.
Bella terdiam. Bibirnya terkatup rapat, lalu kembali terbuka, seolah ia ingin menyangkal tapi tak sanggup berbohong. Pada akhirnya, ia hanya mengangkat bahu kecil.
“Kadang aku berpikir, mungkin memang aku yang terlalu sensitif,” ucapnya lirih. “Mungkin memang aku yang terlalu payah dan sangat membosankan.”
Michael menghela napas pendek, lalu menggeleng tegas. “Tidak. Kau tidak payah, Bella. Dan kau jelas tidak membosankan.”
Bella mendongak, menatap Michael. Tatapan itu membuat dadanya terasa hangat sekaligus sesak. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ada seseorang yang mengatakan hal itu padanya dengan begitu yakin.
Mereka kembali berjalan hingga tiba di depan sebuah pintu kamar tamu. Michael membuka pintu itu, menyalakan lampu, lalu memberi isyarat agar Bella masuk lebih dulu.
“Beristirahatlah,” ujarnya lembut. “Aku akan beritahu pada mereka kau perlu waktu sendiri.”
Bella melangkah masuk, lalu berhenti di ambang pintu. Ia menoleh, menatap Michael sekali lagi. “Michael… sungguh,” ucapnya pelan. “Terima kasih.”
Michael tersenyum tipis. Senyum yang kali ini tidak sedang bercanda.