Mereka berdua saling menatap satu sama lain, Lacia menatap dengan penuh pengharapan tetapi Elysian menatap penuh dengan kecurigaan, tetapi Elysian sama sekali bingung apakah yang di depannya dapat di percaya dan membantu sesuai dengan apa yang akan dia katakan, ataukah membawa dia ke arah yang lebih buruk, terlebih lagi orang ini bisa melakukan sihir.
Elysian berpikir jika dia salah bicara mungkin dia akan hilang oleh orang yang baru dia kenal.
Lacia pun menjawab pertanyaan Elysian dan berkata, “Aku akan beritahu segalanya tetapi bukan sekarang, jawab saja dulu agar aku dapat menjagamu dari informasi yang aku dapat tersebut dan aku berjanji akan membantumu di mulai dari sana, ah ayolah aku harus membuang waktuku hanya karena aku ingin tahu yang sebenarnya tentangmu.”
Elysian pun cengengesan dan berusaha menahan ketawanya itu.
“Itu salahmu yang tiba-tiba bernegosiasi denganku, Ah baiklah aku akan menjawabnya karena kamu menang, jadi mengenai orangtua ku kata nenekku bahwa mereka meninggal saat aku lahir dan aku dibesarkan oleh nenekku, kini aku beranjak dewasa dan nenekku sudah meninggal lalu aku juga sendirian di rumah, apakah informasi ini cukup membantumu?” tanya Elysian setelah menceritakan garis besar dirinya.
“Nenek? aku tidak tahu dia siapa, baik begini aku tidak bisa mengatakan hal banyak di sini, ikuti aku maka kamu akan tahu kebenaran.”
“Kamu bercanda Nona? Aku bahkan tidak mengenalimu.”
“Kenapa kamu sangat sulit percaya denganku, aku tahu sih mana ada orang yang bisa percaya kepada seseorang yang baru kenal, jika aku menunjukkan satu hal padamu apakah kamu akan percaya?”
“Apa satu hal itu?”
“Kamu akan tahu hanya saja kamu harus sendirian ke toko ini jangan bawa teman-temanmu dulu itu beresiko tinggi, aku tidak akan menjamin keselamatan mereka, bawa mereka pulang terlebih dahulu.”
“Baik aku tidak tahu siapa kamu tetapi aku akan mencoba percaya padamu, akan aku bawa diriku kepadamu seorang diri.”
“Baiklah, aku akan pergi dulu Nona manisku, oh iya hati-hati terhadap Kasia Oretha dia bukan seseorang yang baik, kalau bisa jauhi dirimu dengan dirinya.”
“Bukankah dia juga termasuk atasan ditoko ini?”
“Ah apa atasan? Lelucon apa itu, begini Elysian aku tidak dapat bercerita di sini, ikuti apa yang aku katakan baiklah aku akan pergi sampai jumpa, Elysian.”
Tiba-tiba Lacia menghilang dalam sekejap dari pandangan mata Elysian.
Lalu Elysian berjalan untuk menemukan Jeno. Elysian pun berjalan di lorong lantai 2 dan tidak menemukan siapa-siapa, dan berusaha memanggil Jeno sekuat tenaga.
Saat itu pun Jeno yang berada di persimpangan lorong menjawab panggilan Elysian.
“Iya Elysian, Kenapa aku ada di sini.”
“Kau kemana saja Jeno!” teriak kesal Elysian.
“Eh maaf Elysian aku cukup bersemangat sehingga lorong lantai 2 sudah aku lewati di sini, ayo kita pulang!”
“Iya ayo!”
“Kita akan mencari Zoey.”
“Iya Jeno.”
“Kenapa wajahmu terlihat pucat Elysian?”
“Aku juga ingin dengar hal itu darimu Jeno, pertanyaan yang sama.”
“A-aku hanya-“ ucapan terbata-bata Jeno dan Jeno tiba-tiba terdiam.
“Ada yang kamu sembunyikan ya dariku Jeno.”
“Tidak ada, mana ada sih aku menyembunyikan sesuatu, lalu kenapa dengan wajahmu Elysian?”
“Kalau aku hanya kelelahan saja kok, aku ingin pulang dan beristirahat.”
“Aku juga sama Elysian.”
Elysian tampak curiga pada Jeno hanya saja tidak akan diselidiki terlebih dahulu, Jeno dan Elysian pun menghampiri Zoe dengan berlari kecil dan mereka pun turun ke lantai utama dan menuju keluar toko tetapi berdesakan. Mereka pun berjalan pulang hanya saja Jeno tiba-tiba berhenti melangkah.
“Maaf kalian aku mau beli barang terlebih dahulu akan sangat lama, makanya aku akan berpisah dengan kalian disini.”
“Ok baik, aku dengan Elysian pulang dulu ya, sampai jumpa Jeno!” teriak Zoe.
“Sampai jumpa Jeno!” teriak Elysian juga.
“Sampai jumpa juga kalian,” Jeno pun berlari kencang ke arah sebaliknya seperti mengantarkannya pada suatu tempat yang ingin dia tuju, dan semakin membuat Elysian penasaran.
“Aneh banget sikap Jeno.”
“Sedikit sih, dia tidak terbiasa terburu-buru seperti itu Elysian.”
“Mungkin dugaan kita saja kali ya."
“Mungkin iya,” Elysian dan Zoe pulang ke rumahnya masing-masing, Elysian menunggu Zoe naik bus agar Elysian kembali lagi ke tempat toko buku Trouvaille.
Elysian kembali lagi karena sudah berjanji dengan Lacia di toko buku Trouvaille dan Elysian berlari penuh semangat untuk pergi ke sana, dan saat berlari ke dalam toko tuan Horesa tak sengaja ditabrak Elysian.
“Bruk!” Suara kencang tabrakan yang membuat Elysian sedikit terpental ke samping.
Buku-buku yang dipegang tuan Horesa berserakan dilantai dan membuat Elysian harus mengambil buku-buku tersebut.
“Maafkan saya Tuan saya tidak sengaja menabrak anda,” ucap Elysian seperti merasa bersalah telah tidak sengaja menabrakan diri kepada tuan Horesa.
“Tidak apa-apa Elysian, terima kasih sudah mengambil buku-buku itu.”
“Kalau begitu saya permisi Tuan,” ucap Elysian sembari meninggalkan tuan Horesa. Dari kejauhan tuan Horesa menatap tajam kepada Elysian dan tak memalingkan tatapannya sekalipun.
Elysian pun berjalan ke lantai 2 untuk mencari Lacia menengok ke kiri dan kanan mencari keberadaan Lacia, tiba-tiba dari arah belakang kelinci putih pun berlari ke arah Elysian lalu terhenti.
Namun, kelinci itu berlari seperti ingin menunjukkan sesuatu, dan Elysian pun mengikuti kelinci itu.
Semakin dalam ke berbagai ruangan-ruangan kelinci itu berlari diikuti Elysian, kelinci itu pun terhenti di depan lift, Elysian pun berhenti ketika kelinci itu juga berhenti dan Elysian pun merasa aneh.
“Di sini ada lift juga ya Lacia?” tanya Elysian sembari mengendap-endap seperti takut ada orang lain di sekitar mereka.
Tiba-tiba Lacia mulai berubah menjadi manusia perubahan yang tampak gemilau dan banyak bintang di sekitar Lacia dengan memancarkan cahaya, masih membuat Elysian terpanah dan mendadak Lacia menarik tangan Elysian untuk masuk ke dalam lift.
“Cepat Elysian jangan sampai ada yang melihat kita!” bisik Lacia menurunkan suaranya yang membuat Elysian tampak terkejut ketika tangannya di tarik.
“Kenapa menyembunyikan diri Lacia?”
“Di sekitar sini aku mencium adanya bau manusia, pasti ada pengunjung yang pergi ke lantai 2.”
“Hah? Jarang sekali ada manusia di lantai 2 kecuali Jeno yang sering mengunjungi lantai ini, tetapi tidak mungkin Jeno berada di sini.”
Lacia pun menekan tombol lift ke arah lantai 3, setelah lift berjalan ke atas tampak di pantulan kaca wajah dan penampilan Lacia tampak kelihatan memudar di barengi dengan cahaya disekitarannya.
“Kamu tampak sangat cantik Lacia,” puji Elysian.
“Itu karena aku bukan manusia di bumi ini Elysian, kami bisa merubah pandangan mata seorang manusia aku yakin kamu juga bisa seperti kami,” terang Lacia.
“Aku? Jangan bercanda Lacia aku manusia tak mungkin aku seperti kamu,” ucap Elysian dengan senyuman kecil, tiba-tiba Lacia pun menatap tajam Elysian dan Elysian pun berhenti tersenyum.
Saat sudah berada di lantai 3 tampaknya cahaya penuh yang berada diluar lift yang tepat berada di lantai 3 yang menyilaukan mata Elysian dan setelah kilauan cahaya mulai meredup seperti lantai 2 banyak ruangan hanya saja hampa dan sepi.
Mereka berdua berjalan keluar dari lift dan Lacia memegang tangan Elysian memandu ke arah ruangan yang berada dipojok didalam lantai ini.
Ada sebuah patung seperti daun semanggi yang besar disamping tembok dan Lacia mulai menekan pertengahan patung daun semanggi itu lalu muncul lah kode-kode kata sandi yang keluar dari patung daun semanggi itu.
Lacia mulai mengetik kode dan men-scan diri Lacia yang seperti kata sandi itu sendiri setelah di scanning dan patung itu mulai berubah total patung itu ke bawah dan bagian-bagian ujung daun berubah menjadi sebuah pintu alhasil membuat Elysian tercengang melihat itu semua.
“Pintu menuju kemana ini Lacia?” tanya Elysian penasaran.
“Menuju tempat yang kamu inginkan Elysian, tempat yang seharusnya kamu tahu segalanya,” jawab Lacia, tetapi Elysian kebingungan.
“Aku tidak mengerti.”
“Akan aku jelaskan jika kita bisa masuk kesana."
“Aku mulai merasa berada di sebuah buku dongeng Trouvaille."
“Apa itu Elysian? Lagian siapa juga yang menciptakan buku dongeng itu.”
“Ada Lacia, aku menemukan itu ditumpukkan paling bawah buku-buku yang jarang dilihat publik, aku melihat penulisnya adalah Horesa Jolyon dengan betapa indahnya Negeri Supernova dia menggambar seakan dongeng itu menjadi nyata."
“Aku tidak tahu dia tertarik membuat buku dongeng, aku pikir wajar sih dia berkarya di sini, Tuan Horesa adalah kunci emas toko buku ini dia mendirikan dan menjaga toko buku ini dengan perintah Ratu dan juga atas kemauannya sendiri, dia membuat semuanya menjadi bak megah dan susunannya sangatlah sempurna dia mencintai toko buku ini seperti raganya,” jelas Lacia yang menjelaskan tentang tuan Horesa.
“Pantas saja dia sering berada sekitar sini,” ucap Elysian.
“Tentu saja, yang tinggal di sini adalah bangsawan yang diperintahkan langsung oleh Ratu Negeri Supernova, mengenai Kasia Oretha dia adalah sahabat Ratu, aku yakin kamu mengenalnya, begitu juga denganku yang juga sama-sama sahabat Ratu, kami bertiga bersahabat dan aku menyarankan membuat toko ini dan Ratu menyetujuinya.
Namun, Kasia juga ingin ikutan bergabung tinggal disini aku tidak tahu kenapa, seperti dia menginginkan sesuatu di tempat ini.”