BAB 2 : TROUVAILLE

1500 Kata
Dan akhirnya mereka berniat masuk ke toko buku itu sembari wajah mereka sangat terpesona melihat wajah pria yang ada di depan mereka, lalu mulai membuka pintu masuk dan semakin terpesona juga melihat isi dalam toko buku itu. Saat mereka berjalan pun melihat sekitar dan mengagumi setiap detail yang tersedia di sana. Dengan kaca besar dari ujung ke ujung dan dengan banyaknya buku yang setiap sudut berjajar rapi bersih dengan lantai berwarna putih bening tembok yang memadupadankan biru dan putih dan tangga yang unik seperti setiap anak tangga terpisah bagaikan menginjak beberapa kepingan pijakan yang menuju surga. Dan ada banyak lukisan dan foto-foto yang sama sekali tidak terlihat debu. Dan ketiga orang itu memisahkan diri, Zoe melihat interior, Elysian melihat buku-buku dengan sangat senang berada di sana, dan Jeno dia mengikuti pria itu dan mendekatinya. “Itu, Tuan?” tanya Jeno, sembari mendekati pria itu yang sedang terdiam melihat jendela luar. “Ada apa pemuda?” balas pria itu. “Luar biasa sekali toko buku ini, apakah toko buku ini milik anda?” tanya Jeno. “Em.. ini bukan milik saya, saya hanya menjaga tempat ini,” jawab seorang pria yang menatap tajam ke arah Jeno sembari membenarkan kacamata yang menempel di hidungnya itu. “Oh begitu, tetapi mengapa toko ini jauh dari keramaian, maksudku biasanya orang-orang termasuk toko buku suka sekali berada di tempat yang ramai pengunjung atau mudah di jangkau sedangkan toko buku ini sangat jauh ke dalam gang dan pokoknya sulit sekali di akses, Tuan?” tanya Jeno penasaran dengan suasana yang sangat hening “Tuanku suka menempatkan tempat ini di sini,” jelas singkat pria itu “Oh begitu ya Tuan,” ucap Jeno sembari mengangguk setuju dan bingung juga. “Siapa namamu anak muda?” tanya pria itu penuh penasaran. “Ah, saya Jeno Claus, kalau Tuan sendiri?” ucap Jeno dengan mencoba meraih tangan untuk perkenalan, dan pria itu pun membalas meraih tangannya Jeno juga dan keduanya saling menggengam tangan. “Saya Horesa Jolyon,” jawabnya. “Oh iya tuan melihat kelinci berpita yang tadi memasuki toko buku ini?” tanya Jeno tanpa ragu. “Oh, kau mencari Lacia?” “Lacia? Siapa itu?” “Ah maaf, Lacia itu nama kelinci itu.” “Oh, nama yang sangat cantik buat seekor kelinci.” “Kalau kamu mencari kelinci itu dia suka ke lantai 2 atau 3 dia selalu lari-lari akan sulit buat kamu cari.” “Ah baiklah, terima kasih Tuan Horesa mungkin saya juga ingin mencari teman-teman saya juga, saya ke sana dulu Tuan,” ucap Jeno, dan pria itu mengangguk pelan sembari tersenyum, dan Jeno pergi mencari teman-temannya. Di sisi lain Elysian membaca buku dan mulai mencari lagi buku yang ingin dia beli dan selama itu Elysian mengitari dan berkeliling toko itu dan ada rak yang terdapat beberapa set buku yang berjejer dengan tulisan buku best seller terbaru langsung happy sekali Elysian. Dia melihat-lihat banyak buku terbaru yang Elysian inginkan sangat lengkap sekali buku di toko itu dan banyak buku langka yang membuat Elysian berjingkrak girang dan saking banyak yang ia beli dia langsung memasukkan buku itu kedalam keranjang yang ada di dekat rak itu. Setelah itu teringat bahwa kenapa tidak ada kasir di toko itu Elysian pun menelusuri tempat itu dan menemukan pria yang tadi ditemui Elysian, dia sedang melihat keluar jendela. “Hai Tuan,” sapa Elysian kepada Tuan Horesa, Tuan Horesa pun menoleh lalu menjawab, “Iya ada apa, Nona manis?” Sembari membenarkan kacamata baca yang dia pasang di hidungnya, lalu membenarkan topinya sampai sedikit menujukkan rambut hitam yang setengah berwarna putih itu. “Em.. itu Tuan, Mengapa di sini tidak ada kasir, Ataukah di sebelah mana tempat kasir Tuan?” tanya Elysian. “Ada kok, kamu harus mencarinya dengan benar Nona, mungkin kamu melewati tempat kasir itu. Lihat saja di pintu itu Nona,” tunjuk tuan Horesa. “Ah benarkah Tuan? Mungkin aku melewatinya, Terima kasih Tuan!” ucap Elysian, dan Tuan Horesa mengangguk lagi dan Elysian meninggalkan tuan Horesa dan mencari kasir. Dan saat Elysian menemukan kasir nya tidak ada siapa pun yang menjaga kasir itu. Namun, tiba-tiba ada yang datang diarah samping Elysian. Dia wanita dengan menggunakan high heels merah dengan memakai gaun merah cantik beserta rambut merah salmon panjang dan bergelombang dan memakai anting warna putih berbentuk daun semanggi yang cocok dengan make-up super cantik terutama mata biru laut nya itu, sampai Elysian terpukau dibuatnya. Seorang penjaga kasir dengan style mewah seperti itu jarang sekali dijumpai bahkan tidak ada orang yang memakai style kelas tinggi dengan posisi seorang kasir pada umumnya. Dan wanita itu menghampiri Elysian dan bertanya. “Ada yang bisa saya bantu, Nona?” ucap wanita yang mencolok itu, sembari masuk ke dalam ruangan kasir, Elysian sangat terpukau sampai tidak dapat menjawab pertanyaan wanita itu. “Ah maaf, saya ingin membeli ini,” jawab Elysian, lalu Elysian pun mengangkat keranjang belanjaan dan mulai menghitung belanjaan Elysian. Sembari wanita itu menghitung Elysian penasaran dengannya. “Nona, anda sangat cantik sekali saya suka make-up anda,“ kata Elysian yang terpukau melihat kecantikannya, dan wanita itu pun tersenyum setelah di puji oleh sosok wanita yang tidak dia kenal yang berada di depannya itu. “Terima kasih anda juga sangat cantik, anda hebat bisa menemukan tempat ini bagaimana bisa anda menemukan tempat ini dengan mudah?“ tanya kasir itu dengan sangat penasaran, mata lentiknya menunjukkan sebuah ketertarikan yang tidak biasa. “Ah itu saya mengikuti seekor kelinci putih berpita biru tetapi tanpa sadar saya tiba di sini,“ jelas Elysian. “Ah Lacia,” lirih wanita itu dengan pelan, matanya langsung melamun tajam. “Ah apa Nona?“ tanya Elysian yang tadi mendengar sedikit jawaban dari kasir itu. “Ah tidak, total belanjaan anda segini,“ timpal kasir itu, menunjuk monitor total harga dan Elysian membuka tas dan mencari dompetnya untuk membayar belanjaan nya. Setelah selesai membayar Elysian membawa belanjaan nya dan menyimpan ke tasnya yang besar. “Ah bolehkah saya bertanya Nona?“ tanya Elysian, dan wanita itu mengangguk setuju. “Nona, boleh saya tahu siapa nama anda?“ tanya Elysian penuh penasaran, matanya berbinar karena rasa ingin tahu yang tinggi. “Ah baru sadar kartu nama saya tidak di pasang mohon maaf, nama saya Kasia Oretha Nona, kalau anda?“ tanya kembali wanita itu dengan wajah yang tersenyum. “Saya Elysian Bellanca,“ jawab Elysian, betapa terkejutnya wanita yang bernama Kasia itu mengetahui nama dari orang yang di depannya. “Mengapa anda seperti terkejut menengar nama saya, ah apakah nama saya terdengar aneh?“ tanya Elysian melihat reaksi aneh dari kasir itu. “Tidak-tidak nama yang sangat bagus,“ timpal Kasia. “Ah begitu, saya akan mencari teman-teman saya ya Nona terima kasih selamat tinggal.“ Elysian pergi meninggalkan Kasia dengan melambaikan tangan dan tersenyum. Namun, Kasia menatap tajam Elysian lacia dengan tersenyum lebar lalu tidak lama senyum itu menyeringai seperti memikirkan sesuatu yang menarik. *** Zoe berdiam diri di dekat tangga atas lalu sejenak duduk di paling ujung bangku terpojok di antara tangga itu dan Zoe merasa bosan karena tidak terlalu tertarik dengan buku hanya menyukai interior dan penempatan ruangan yang sangat indah dipandang, diarah kiri Elysian datang menghampiri Zoe. “Zoey! Mengapa kamu berdiam diri di sini, Ke mana Jeno?“ teriak Elysian dari kejauhan yang akan mendekati Zoe. “Aku tidak tahu Elysian, sepertinya dia sedang jalan-jalan mencari buku juga,” jawab Zoe sembari celingak-celinguk mencari Jeno. “Mungkin juga, atau kita telepon saja?” tanya Elysian. Dari arah kanan Jeno muncul tiba-tiba, lalu Elysian bertanya kepadanya. “Kamu dari mana saja Jeno?” “Mencari kalian, aku sampai tersesat tadi karena saking luasnya toko ini, oh iya tahu tidak, aku ya tadi melihat seorang perempuan bergaun biru yang sangat cantik cuma belakangnya saja sih tetapi seperti pakaiannya mewah sekali jadi curiga apa tempat ini cuma untuk kalangan atas ya?” ungkap Jeno, dan sangat senang melihat toko buku ini. “Ya sepertinya begitu, Tuan tadi saja yang menyambut kita tampak seperti orang kelas atas yang seperti om-om kaya tanpa ragu menunjukkan kualitas diri, Fix, tempat orang konglomerat!” ucap Zoe. “Maksud kamu, Tuan Horesa?” tanya Jeno. “Kenapa kamu bisa tahu namanya?” tanya balik Elysian. “Aku sempat berbincang sebentar tadi,” jawab Jeno. “Sepertinya Zoey benar, aku pun tadi ke kasir penampilannya saja seperti orang yang mau ke pesta cantik parah, ya masa pegawai kasir memakai gaun sih, Oh Bagaimana kalau besok kita ke sini lagi, Ya kalau bisa setiap hari!” ungkap Elysian. Dari arah belakang Tuan Horesa datang menghampiri mereka. “Kalian ingin pulang sekarang?” “Eh, Tuan,” sapa Zoe. “Iya Tuan Horesa, besok kita ada ujian jadinya harus pulang cepat ,” jawab Jeno. “Benar Tuan, saya senang berada di sini banyak hal yang bisa memanjakan mata.” “Syukurlah kalian puas ke tempat ini, saya yang menjaga tempat ini merasa ikut senang!” “Kami pergi dulu ya Tuan!” ucap mereka kompak. Mereka bertiga pergi meninggalkan tempat itu sembari melambaikan tangan kepada Tuan Horesa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN