Beberapa hari berlalu... “Pagi, Mah, Pah,” sapa Nadia pada kedua orang tuanya. Kemudian mengambil tempat disamping ibunya. “Pagi, Sayang. Kenapa lemes gini?” tanya Kartika heran melihat putrinya yang kurang bersemangat. Sementara Darmawan hanya memandang Nadia tanpa bertanya. “Nggak pa-pa kok, Mah. Cuma lagi capek banget aja,” jawab Nadia diplomatis. Sejak membuka matanya dipagi hari, entah kenapa perasaannya sangat tidak tenang. Alvin datang bergabung dimeja makan, “Selamat pagi, Pah, Mah dan anak manja.” Nadia sudah memandang kakaknya itu dengan sorot mata penuh permusuhan, “Anak manja, huh?” tanyanya melotot. “Jangan lebar-lebar napa. Awas copot tu mata,” gurau Alvin sambil menyomot roti diatas piring Nadia. “Alvinooo, roti gue,” protes Nadia. “Aelah, satu doang, De’. Jangan pel

