BAB 1 RENCANA
Mohon bantuannya untuk vote cerita ini ya ;)
____________________________________
Biasanya Alvin akan mengganggunya ketika sedang asyik menonton serial kartun kesukaannya. Namun, beberapa siang ini kakaknya itu sama sekali tidak nampak batang hidungnya. Membuat Nadia sedikit rindu dengan kejahilan laki-laki itu.
“Kak Alvin dimana sih, Pah, Mah?” tanya Nadia yang kini berbaring di atas karpet dan memeluk boneka kambing kesukaannya.
“Lagi siap-siap, Sayang,” jawab Darmawan, sang ayah duduk di sofa yang tak jauh dari tempat sang putri.
“Eh?" Nadia bangun dari tidurnya. "Siap-siap untuk?”
“Kakak kamu kan mau pindah ke Paris, Nadia,” ujar Kartika, ibunya.
Mendengarnya sontak membuat Nadia melotot selebar mungkin, “Paris?”
Darmawan dan Kartika kompak mengangguk. Anak kandung Darmawan, Alvin memutuskan untuk melanjutkan SMA di Paris. Saat ini dia memasuki tahun kedua. Sementara Nadia, anak kandung Kartika kini sudah menuju tahun ketiga, di SMP.
Alvin memutuskan untuk menerima tawaran ayahnya agar bersekolah di Paris sekaligus melanjutkan kuliahnya disana nantinya. Awalnya, Darmawan menawari Alvin murni karena sistem disana lebih bagus. Dan juga untuk melatih Alvin sedini mungkin mengingat dia adalah calon pewaris utama perusahaan Darmawan.
amun tak lama setelah penawaran ayahnya, Alvin segera mengiyakan. Sebenarnya, tujuan Alvin menerima tawarah ayahnya bukan semata karena “Paris”, melainkan karena dia ingin mengontrol perasaannya kepada Nadia. Benar, Nadia adik tirinya. Dan dia tidak ingin siapapun menyadari perasaan yang dimilikinya, terutama kedua orang tuanya.
Kartika dan Darmawan menikah ketika Alvin duduk di kelas lima SD dan Nadia kelas dua SD. Suami Kartika meninggal dunia akibat kecelakaan saat Nadia masih duduk di bangku TK Kecil. Sementara istri Darmawan meninggal dunia tidak lama setelah melahirkan Alvin. Semenjak tinggal serumah mereka langsung menjadi sangat dekat. Kartika dan Darmawan bahkan tidak perlu repot-repot mengakrabkan dua anak itu. Mereka bahkan lebih sering tidur bersama dan bergantian di kamar masing-masing.
Entah sejak kapan Alvin mulai merasakan hal itu pada Nadia. Yang jelas, semenjak Nadia bertambah umur dan masuk SMP Alvin merasa semakin tergila-gila pada adik tirinya itu. Alvin tahu hal itu tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Apalagi mereka bersekolah di lingkungan yang sama, SMP dan SMA komplek. Sudah pasti setiap hari mereka bertemu.
Mendengar ucapan ayah dan ibunya membuat Nadia seketika menghentikan aktivitasnya menonton televisi. Ia segera berlari ke lantai dua. Tujuannya hanya satu, kamar kakaknya. Nadia sudah sampai di depan pintu berwarna putih, ia mengetuknya pelan.
“Siapa?” sahut suara dari dalam. dengan lantang
“Nadia, Kak.” Alvin mendesah lemah. Pasti Nadia sudah mengetahui rencananya. Dan mungkin saja akan terjadi drama setelah ini mengingat betapa lengketnya dia dengan Nadia.
“Ada apa Nadia? Kakak sedang lelah.” Bohong. Alvin bukan lelah. Acara berkemasnya sudah selesai sejak beberapa jam sebelumnya. Ia hanya menghindari bertemu dengan adik yang dicintainya tersebut.
“Mau Nadia pijitin nggak? Kayak biasanya?” sahut gadis itu. Nadia heran, kenapa Alvin menjadi seperti ini, padahal dulu selelah apapun Alvin dia pasti seketika mengijinkan Nadia masuk. Bahkan jika harus tidur bersama. Karena memang mereka adalah saudara, begitulah kira-kira isi pikiran Nadia.
“Kak Alvin,” panggil gadis itu lagi karena sang kakak tak kunjung menjawabnya. Padahal didalam, Alvin sedang berada dititik kebimbangan. Ia akhirnya memutuskan untuk membuka pintu kamarnya.
Cklek!!
“Ada apa Nad?” tanya Alvin dengan ekspresi seolah lelah. Nadia celingukan seolah mencari sesuatu di balik badan Alvin. Nadia menyadari satu hal, sekilas kamar Alvin tampak lebih rapi. Apa benar Alvin akan pergi? Pikirnya.
“Kak Alvin sakit?” tanya gadis itu polos. Justru Nadia yang polos itulah yang membuat Alvin semakin kalut dengan perasaannya sendiri. Sementara Nadia, gadis itu masih biasa-biasa saja karena memang belum mengenal yang namanya cinta.
“Kak Alvin Cuma lagi capek. Kakak mau tidur dulu ya,” ujar Alvin sambil menutup pintu. Nadia berusaha mencegahnya.
“T-tapi kak.” Terlambat. Alvin terlanjur menutup pintu kamarnya. Nadia mendesah pelan. Ada rasa sedikit tercubit didalam hatinya mendapat perlakuan semacam itu dari Alvin. Nadia sangat menyayangi Alvin, jelas. Apalagi mereka sama-sama anak tunggal. Dan karena selama ini mereka sangat dekat, wajar saja Nadia merasa sedikit sakit hati dengan sikap Alvin barusan.
Dengan langkah gontai Nadia berpindah menuju kamarnya yang letaknya tepat bersebelahan dengan kamar Alvin. Rasanya sangat tidak enak. Apakah aku punya salah pada kakak? Batin Nadia.
Sementara Alvin masih berdiri dibalik pintu, ia menghembuskan nafasya yang seolah tertahan ketika mendengar suara pintu kamar Nadia tertutup.
“Maafkan Kak Alvin, Nad,” batin laki-laki muda itu. Ia menghempaskan tubuhnya diatas kasur untuk sejenak menenangkan pikirannya.
****
Hingga waktu makan malam, Alvin belum juga keluar dari kamarnya. Nadia akhirnya berinisiatif untuk membawakan makanan ke kamar Alvin. Ia khawatir Alvin lupa makan atau sakit. Kartika dan Darmawan sendiri juga merasa heran dengan sikap Alvin yang cenderung menghindar beberapa hari ini.
“Alvin kenapa ya, Pah?” gumam Kartika pelan.
“Papah juga nggak tau, Mah. Mungkin masih merasa berat untuk pergi.”
“Kasihan Nadia pah. Dia pasti kesepian tanpa Alvin. Mereka terbiasa bersama-sama.” Darmawan membenarkan ucapan istrinya. Ia sendiri tidak meyangka putranya akan menerima tawarannya.
“Nanti kalau Nadia mau, biar dia susul Alvin saat SMA.” Katrika mengangguk dalam tatapan teduh milik suaminya. Rasanya ia sangat bersyukur bisa memiliki keluarga yang utuh lagi semenjak kepergian ayah Nadia. Hingga membuatnya berkaca-kaca.
“Kenapa sayang? Kok malah nangis? Alvin bikin sedih ya? Atau kita batalkan saja kepergian Alvin?”
Kartika menggeleng, “Bukan, Pah. Mamah Cuma terlalu bahagia bisa memiliki keluarga yang utuh lagi. Apalagi Alvin dan Nadia sangat saling menyayangi.”
Darmawan merangkum wajah istrinya, “Kita akan menjaga keluarga ini hingga akhir hayat, Sayang.” Kemudian mencium kening istrinya lama. Membuat wanita berusia 39 tahun itu tersenyum dengan air mata bahagianya.
Sudah berulangkali Nadia mengetuk kamar Alvin, namun tak ada jawaban sepatah katapun dari dalam. Bahkan Nadia bisa melihat dati celah pintu lampu kamar Alvin belum menyala. Seketika dia merasa khawatir. Takut terjadi apa-apa pada kakaknya itu.
“Kak Alvin,” panggil Nadia dengan sedikit keras. Belum ada respon.
“Kak,” panggilnya lagi. Akhirnya Nadia menyerah dengan perasaan yang ia sendiri tidak tahu artinya. Tapi rasanya sakit sekali diabaikan Alvin seperti itu. Nadia meletakkan makanan Alvin di meja disamping pintu kamar Alvin.
“Kak, makan malam Kak Alvin di meja. Jangan lupa dimakan ya,” ucap gadis itu sebelum beranjak menuju kamarnya. Entah Alvin mendengarnya atau tidak, Nadia tidak menghiraukan.
Alvin masih terdiam dikamarnya. Ia mendesah menahan sakit di hatinya. Sakit atas sikapnya sendiri pada adiknya itu. Nadia tidak tahu apa-apa, ialah yang salah karena memiliki perasaan terlarang itu pada Nadia. Tapi ia justru mengabaikan adiknya yang sudah sangat baik kepadanya. Apakah Nadia akan marah padanya? Alvin justru berharap demikian, kalau perlu Nadia harus membencinya agar tidak ada peluang untuk memiliki gadis itu. Namun, akankah takdir berjalan sesuai keinginan Alvin?
Laki-laki itu membuka pintu kamarnya. Pelan sekali agar tidak menimbulkan suara. Ia lihat di meja ada makanan kesukaannya. Nasi dengan sapo tahu dan orek telur. Tak lupa segelas s**u cokelat. Ia yakin pasti Nadia sendiri yang mengambilkannya karena porsinya sangat sesuai dengan selera Alvin biasanya. Alvin tersenyum simpul.
”Terimakasih, Nadia. Dan maafkan Kakak,” ujarnya pelan kemudian membawa makanan itu kedalam kamarnya dan melahapnya hingga tuntas tanpa sisa.
****