Mohon bantuannya untuk vote cerita ini ya ;)
____________________________________
Pagi ini adalah hari keberangkatan Alvin ke Paris. Darmawan akan mengantar putra tersayangnya itu dan menemani Alvin disana hingga beberapa hari. Sementara Kartika hanya bisa mengantar hingga depan pintu karena putri manjanya sedang demam. Sejak kemarin suhu tubuh Nadia meninggi. Hingga gadis itu menggigil. Melihat keadaan adiknya, sebenarnya Alvin tidak tega meninggalkan Nadia. Apalagi ayahnya harus menemaninya. Pasti ibunya akan kewalahan menjaga Nadia sendirian.
Alvin benar-benar dibuat galau seharian penuh. Seharian penuh juga ia menjaga Nadia meskipun gadis itu hanya tertidur sepanjang hari. Seinchi pun Alvin tak pernah beranjak dari sisi Nadia.
“Maafkan Kakak, Nadia. Tapi untuk saat ini mungkin ini yang terbaik. Kakak akan kembali, saat nanti perasaan ini sudah bisa kakak kendalikan,” lirih Alvin sambil menggenggam tangan gadis manis itu. Kemudian menciumnya lama.
Akhirnya Alvin tetap memutuskan untuk berangkat setelah Kartika menguatkannya.
“Mamah baik-baik saja, Vin. Lagipula kan ada suster yang bantu merawat Nadia. Nanti Mamah akan selalu kasih kamu kabar soal keadaan Nadia, yahh.” Darmawan tersenyum melihat betapa sayangnya Kartika pada Alvin.
Meskipun bukan darah dagingnya, tapi bagi Alvin Kartika adalah ibunya. Bukan hanya ibu sambung melainkan ibu yang sesungguhnya. Pun bagi Kartika, Alvin adalah jagoan yang akan menjaganya dan keluarganya hingga kapanpun.
Alvin dan Darmawan berangkat menuju bandara setelah mereka sarapan bertiga. Karena Nadia masih belum bisa ikut. Gadis itu hanya bisa terbaring lemah meskipun dia tahu kakak yang sangat disayanginya akan pergi hari itu. Ia masih merasa sakit atas sikap Alvin dua hari yang lalu. Terbukti saat Alvin memasuki kamarnya untuk berpamitan, gadis itu malah berpura-pura tidur.
“Kakak pergi dulu, Nadia,” ucap Alvin lirih.
Nadia merasakan ketika Alvin mencium keningnya. Setetes air mata Alvin jatuh di ujung matanya. Rasanya ia ingin menarik Alvin agar tidak usah pergi ke Paris. Atau ia yang akan ikut ke Paris. Namun tenaganya terlalu lemah. Ketika Alvin menutup pintu kamarnya, Nadia akhirnya menangis pelan.
“Selamat tinggal, Kak Alvin,” lirihnya dengan isak yang menyayat hati. Ada perasaan sesak yang Nadia sendiri tidak tahu artinya.
“Alvin pergi dulu mah. Mamah baik-baik ya. Alvin janji akan banggain Mamah dan Papah.”
"Alvin selalu jadi kebanggaan Mamah dan Papah. Jaga diri kamu baik-baik ya, Sayang. Jangan lupa ibadahnya. Jangan telat-telat sholat. Makan yang sehat, yang teratur. Kalau ada apa-apa segera kabari Mamah sama Papah.” Kartika memberi wejangan Alvin sambil memeluk anak lelakinya itu penuh cinta.
“Udah, bukan waktunya nangis. Alvin kesana kan buat belajar. Nanti selesai S2 Alvin pasti langsung pulang,” ujar Darmawan.
Kartika mengurai pelukan Alvin. Kemudian beralih memeluk suaminya.
“Papah juga hati-hati yah. Jangan lupa kabarin. Sampai bandara, take off, landing sampai ke apartemen juga. Pas pulang juga.” Alvin tertawa geli mendengar ucapan ibunya. Entah kenapa ia merasa ibunya menjadi sedikit lebay.
“Siap, Ibu Ratu,” gurau Darmawan yang mendapat cubitan manja dari istrinya.
“Assalamualaikum, Mah.” Pamit Alvin.
“Waalaikum salam, Sayang.”
“Jalan dulu ya, Sayang.”
“Iya, Pah. Hati-hati.”
Kemudian mobil Audi SUV itu meningglkan kediaman Darmawan. Sepanjang perjalanan, Alvin banyak terdiam. Namun dia menyakinkan dirinya sendiri bahwa inilah yang terbaik. Di Paris nanti, ia akan mengubur dalam-dalam rasa cintanya pada Nadia. Sedalam mungkin.
Sikap Alvin tak luput dari pandangan Darmawan. Meskipun Alvin memang selama ini cenderung cuek, tapi dia tidak pernah sediam ini.
“Semua akan baik-baik saja. Kamu pasti bisa segera beradapatasi disana,” ujar Darmawan yang mengira putranya itu gugup di hari kepindahannya ke lingkungan yang sama sekali baru untuknya. Sebenarnya jika Alvin membatalkan, Darmawan akan menerima saja. Namun nyatanya Alvin tetap memilih berangkat.
“Iya, Pah. Tapi rasanya Alvin gugup banget,” ujarnya berbohong. Tidak mungkin kan Alvin mengatakan dia berat untuk pergi karena gadis yang dicintainya sedang sakit? Pasti Darmawan akan murka nantinya, setidaknya itulah yang terbesit di benak Alvin saat ini.
Darmawan memeluk bahu putra kesayangannya tersebut. “Maafkan papah karena harus melakukan ini sama kamu. Hanya kamu harapan Papah dan Mamah Kartika. Kamu juga harus menjaga adikmu nantinya.”
Alvin mengangguk dengan suasana hati yang sangat-sangat tidak pasti. Menjaga Nadia? Bisakah? Sementara dia memiliki perasaan yang terlarang pada adiknya itu. Dan kini ia pergi dengan diiringi perasaan persalah karena begitu saja meninggalkan Nadia bahkan bersikap buruk pada gadis itu beberapa hari terakhir.
Mobil itu kemudian sunyi karena sepanjang perjalanan mereka berdua hanya terdiam. Sibuk dengan isi pikiran masing-masing.
****
“Nadia, kamu udah bangun, Nak?” tanya Kartika melihat posisi tidur putrinya yang berubah dari sebelum dia meninggalkannya untuk mengantar suami dan putranya ke depan.
Nadia mengerjapkan matanya berkali-kali dan berusaha tersenyum pada ibunya. Namun, Kartika bisa menangkap mata Nadia yang sembab dengan ekspresi yang sulit diartikan.
“Kamu kenapa sayang? Ada yang sakit? Mamah panggilin dokter ya, tunggu.” Kartika beranjak untuk menelepon Randy, dokter keluarga mereka yang juga adalah keponakan Darmawan.
“Halo, Tan. Aku masih di jalan ini. Agak macet dikit.” Terdengar suara Randy di seberang begitu dokter muda itu mengangkat teleponnya. Randy memang rencananya akan mampir kerumah omnya itu untuk melihat kondisi Nadia. Sekalian bertemu Alvin, kalau masih sempat.
“Iya Randy, ya udah kamu hati-hati aja. Jangan ngebut, ya.”
“Oke, Tan. Tunggu.”
“Sebentar lagi Randy kesini, tahan sebentar ya, Sayang.” Kartika mengganti kompres si dahi Nadia. Ia mendesah lega karena demam putri kesayangannya sudah lumayan turun.
“Pa-papah udah berangkat, Mah?” tanya Nadia dengan suaranya yang masih lemah.
“Iya, Sayang. Papah akan menemani kakak kamu mungkin sekitar lima hari disana. Kamu mau dibawain oleh-oleh apa?” tanya Kartika lembut. Nadia hanya menggeleng ringan. Ia tidak ingin dibawakan apapun. Yang diinginkannya sesungguhnya hanyalah Alvin kembali baik padanya, tidak mendiamkannya seperti beberapa hari belakangan ini.
“Mah. Nadia punya salah apa ya sama Kak Alvin?” Kartika mengernyit mendengar pertanyaan putrinya.
“Nadia kok gitu ngomongnya, Sayang?”
“Kak, Kak Alvin jadi pendiem sama Nadia,” ujar Nadia dengan nada sendu. Ada sedikit isakan dalam suaranya. Kartika menarik nafas pelan. Harus ia akui bahwa dia sendiri merasakan Alvin menjadi sangat pendiam semenjak mengatakan akan pergi ke Paris. Namun, ia tidak menyangka bahwa Alvin juga mendiam dari Nadia.
“Mungkin Kakak kamu gugup sayang. Biasa kan, panik mau hidup di lingkungan yang baru banget. Jauh pula dari keluarga.” Kartika memberikan jawaban diplomatis.
“Nadia jangan terlalu mikirin itu ya. Nanti kalau Kak Alvin udah terbiasa pasti balik lagi. Sekarang Nadia istirahat dulu biar cepet sembuh. Nanti kalau Kak Randy datang Mamah bangunin kamu.” Kartika merapikan anak rambut Nadia.
“Iya, Mah.” Jawabnya sambil memejamkan mata. Nadia akhirnya terlelap tak lama kemudian karena masih merasakan pusing di kepalanya. Ia bahkan tidak merasakan ketika Randy datang dan memeriksanya.
“Suhunya sih udah turun, Tan. Cuma fisiknya masih lemah. Belum boleh makan yang berat-berat dulu ya, Tan.” Kartika mengangguk.
“Tadi sebelum Tante telepon kamu, dia kayak habis nangis gitu. Apa mungkin dia kesakitan ya, Ran?” Randy memejamkan matanya sejenak, ia mengambil nafas panjang.
Randy tahu pasti Nadia sedih ditinggal Alvin. Namun Randy tidak bisa mencegah sepupunya itu. Lebih baik begitu daripada Alvin tidak bisa mengendalikan perasaannya. Setidaknya untuk saat ini, karena memang keduanya masih sangat muda.
Ya, Randy tahu tentang perasaan Alvin pada Nadia karena mereka sering menghabiskan waktu bersama meskipun jarak usia mereka cukup jauh. Karena Randy juga adalah satu-satunya sepupu laki-laki yang Alvin miliki.
“Nadia nggak bilang pusing atau apapun, Tan?” Kartika menggeleng.
“Mungkin efek demamnya aja, Tan. Randy udah tambahin antibiotik ke infusnya Nadia. Nanti sore perawat Nadia yang kesini ya, Tan. Soalnya Randy ada operasi.”
“Makasih ya, Sayang.” Randy tersenyum dan mengangguk pelan. mereka keluar dari kamar Nadia menuju teras.
“Oh ya, Alvin udah berangkat ya, Tan?”
“Barusan, sepuluh menit sebelum Tante telepon kamu tadi. Belum ketemu Alvin sama sekali, ya?”
“Udah sih minggu lalu, Tan. Gara-gara macet tadi pagi nih. Sama Om Darmawan?” Kartika hanya tersenyum mendengar gumalan keponakannya. Ia mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Randy.
“Kalau gitu Randy pamit ke rumah sakit dulu, Tan.”
“Iya, makasih ya Randy. Kamu hati-hati.” Randy mengangguk mantap pada tantenya itu kemudian beranjak menuju tempat tugasnya.
****