Mohon bantuannya untuk vote cerita ini ya ;)
____________________________________
"Pagi, Mah," sapa Nadia pagi itu sambil mengecup pipi kanan ibunya. Ia masih sedikit lemah, selain memang belum sepenuhnya pulih semangatnya juga sedikit menurun karena tidak ada Alvin. Nadia sendiri tidak mengerti kenapa. Mungkin karena selama ini dia dan Alvin sangat dekat sehingga ketika berjauhan ia merasa kesepian.
"Pagi, Sayang. Jadi ke sekolah hari ini?" tanya Kartika memastikan keadaan putri kesayangannya itu. Sebenarnya Kartika sudah meminta Nadia dirumah saja selama dua atau tiga hari lagi, tapi gadis itu menolak. Nadia mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan ibunya.
"Jadi dong, Mah. Nadia baik-baik aja kok. Kalau dirumah aja malah bosen nggak ngapa-ngapain juga. Malah sakit ntar yang ada," ujarnya sambil mendaratkan pantatnya di atas kursi.
"Ya udah, tapi nanti kalau ada apa-apa kamu langsung telepon Mamah, ya," ujar Kartika sambil mengoleskan selai rasa hazelnut ke roti kemudian memberikannya pada Nadia. Nadia menerimanya sambil terkekeh pelan.
"Nadia mana pernah bawa handphone, Mamah. Atau sekarang udah boleh bawa handphone ke sekolah?" tanyanya dengan menaik turunkan alisnya.
"Oh, iya." Kartika menepuk dahinya pelan. "Biar Mamah telepon Bu Dita nanti. No handphone at school," sambungnya. Dita adalah guru BK Nadia.
“Iya deh, iya. Lagian nggak penting juga,” sahut Nadia pasrah.
"Papah belum pulang, Mah?" tanyanya kemudian karena ini sudah 5 hari dia tidak menjumpai ayah tersayangnya tersebut.
"Hari ini Papah kamu perjalanan pulang. Pesawatnya take off jam 9 waktu Paris. Kamu mau dibawakan sesuatu?"
Nadia menggeleng, "Papah pulang aja udah cukup, mah. Lagian jam 9 waktu Paris juga berarti sekarang di sana masih dini hari dong, Mah." Kartika tersenyum bahagia mendengar ucapan Nadia karena sesayang itu Nadia pada Darmawan.
Meskipun dulu Nadia dan Alvin langsung lengket bak sepasang uang dengan pitanya, namun hal tidak berlaku untuk Darmawan. Berbeda dengan Alvin yang langsung bisa menerima Kartika karena memang Alvin belum sempat mengenal ibu kandungnya. Butuh beberapa waktu bagi mereka berdua, terutama untuk Nadia bisa menerima Darmawan sebagai ayahnya. Seiring berjalannya waktu, juga karena kasih sayang Darmawan yang tulus akhirnya Nadia luluh. Darmawan juga tidak memaksa agar Nadia cepat-cepat menerima kehadirannya. Karena memang semua proses butuh waktu.
"Mamah sibuk apa hari ini?"
"Nggak ada, Sayang. Nanti ke kantor karena harus gantiin Papah kamu meeting sama handle beberapa kerjaan Papah yang bisa Mamah tangani. Tapi agak siang. Kenapa Nadia?"
"Anterin Nadia ya, Mah. Kalau bisa sekalian jemput juga." Kartika tersenyum mendengar permintaan manja putrinya.
"Iya, Sayang. Mamah akan antar dan jemput kamu hari ini." Tentu saja Kartika akan dengan senang hati mengabulkan permintaan putrinya itu. Jarang sekali meminta hal semacam ini karena selama ini memang Nadia selalu apa-apa dengan kakaknya.
Nadia tersenyum segar meskipun wajahnya masih pucat. Roti ditangannya sudah kandas ke dalam perutnya. Ia segera meneguk ssusu yang juga sudah disiapkan ibunya. Sesaat ia teringat Alvin, kakaknya itu akan mengajaknya berebut padahal dia sendiri sudah dibuatkan ssusu yang sama oleh Kartika.
"Ini bekal kamu." Kartika membuyarkan lamunan pagi Nadia dengan menyerahkan kotak bekal warna pink yang bergambar karakter kesukaan Nadia, Meimei.
"Harus banget nih Nadia bawa, Mah?"
"Mutlak. Karena kamu belum sehat betul. Nggak boleh jajan sembarangan." Nadia terkekeh. Jika soal kesehatan harus dia akui ibunya akan mendadak menjadi sangat berlebihan.
"Siap, Bunda Ratu." Nadia mengambil kotak bekalnya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Ayo berangkat," ajak Kartika.
"Iya, Mamah." Mereka berdua memasuki Honda BRV yang memang sudah disiapkan oleh drivernya.
"Ke sekolahnya Nadia dulu ya, Pak Affan," pinta sang majikan.
"Baik, Bu." Mobil itu membelah jalanan Jakarta menuju Binusvi Internasional School, tempat terletaknya SMP Nadia dan SMA Alvin sebelumnya.
****
Sementara di kota Paris....
"Papah kenapa? Ada barang yang ketinggalan?" tanya Alvin memperhatikan ekspresi Ayahnya yang tampak tidak tenang sepanjang perjalanan mereka menuju Charles de Gaulle International Airport.
"Papah sudah cek berkali-kali dari semalam, harusnya nggak ada Vin. Atau ada barang kamu yang kebawa Papah ya?" Darmawan mengernyit memikirkan kemungkinan- kemungkinan. Sempat tergerak hatinya untuk membuka lagi kopernya namun tidak mungkin dilakukannya karena keberadaan mereka dari bandara tinggal 10 menit lagi.
"Yaudah lah, Pah, nanti tinggal dikirim aja kalau ketemu. Gampang kan." Alvin memberi solusi. Darmawan mengangguk, meskipun hatinya belum sepenuhnya tenang. Sepertinya barang yang tertinggal adalah hal yang sangat penting.
"Tolong nanti kamu carikan juga ya, Vin." Alvin mengangguk pasti. Beberapa menit kemudian taksi mereka sudah sampai bandara. Dua orang ayah dan anak itu segera turun. Setelah menurunkan koper dan beberapa barang pesanan Nadia, mereka segera menuju terminal keberangkatan karena waktu check in tinggal 30 menit lagi. Bukan pesanan Nadia sebenarnya tapi pesanan Kartika untuk Nadia. Karena membawa barang hasil transaksi maka Darmawan harus melalui proses semacam bea cukai.
"Papah udah kabarin Mamah?"
"Udah Vin. Tapi sepertinya belum dibaca karena Mamah kamu hari ini ada jadwal gantiin meeting Papah."
"Syukur deh kalau gitu. Papah hati-hati. Kabarin Alvin pas sampai nanti."
"Kamu juga. Jaga diri baik-baik. Inget pesan Mamah kamu kemarin." Alvin mengangguk. Telinganya sudah sangat hafal dengan ceramah kedua orang tuanya sejak beberapa minggu terakhir ini. Darmawan memeluk putra tunggalnya itu dengan perasaan campur aduk. Antara sedih karena harus berpisah beberapa saat. Namun juga bangga karena Alvin sudah mau belajar untuk mandiri, yang terpenting Alvin berangkat bukan karena terpaksa.
"Papa berangkat, Vin." Ujar Darmawan sebelum memasuki lorong menuju pesawat. Alvin melambaikan tangannya sambil tersenyum yakin. Ia harus menunjukkan ekspresi terbaiknya di hadapan ayahnya, biarlah mereka tidak tahu bahwa dirinya tengah berpura-pura. Karena jauh di dalam lubuk hati Alvin, dirinya hanya memikirkan keadaan Nadia saat ini. Apakah adiknya itu masih sakit? Sudah sehat? Sudah bisa ke sekolah? Bagaimana dia di sekolah tanpa dirinya saat ini? Biasanya jika ada dia tidak akan ada satupun yang berani mendekati Nadia karena memang Alvin cukup protektive.
Alvin masih sibuk dengan pikirannya sendiri sampai dia melihat pesawat yang ditumpangi ayahnya melakukan take off. Laki-laki muda itu bernafas lega lantas bergegas keluar dari bandara untuk kemudian menuju stasiun kereta api bawah tanah. Alvin tidak mau naik taksi karena selain mahal, naik tranportasi umum menurutnya lebih mempermudah proses adaptasinya dengan kota romantis itu. Selama beberapa hari dia sudah mencoba beberapa moda transportasi di temani ayahnya. Seperti trem, kereta bawah tanah, bus kota hingga bersepeda untuk menuju beberapa tempat penting yang mungkin nantinya dibutuhkan Alvin selain sekolahnya. Seperti kantor KBRI, airport, rumah sakit, kantor polisi bahkan jalan menuju Museum de Louvre dan Eiffel Tower.
****