BAB 4

1273 Kata
"Baik-baik disekolah, ya. Belajar yang pinter." Wejangan Kartika yang tidak pernah berubah setiap pagi. "Siap, Mah. Makasih Mamah udah antar Nadia." Gadis itu memeluk ibunya sebentar. Rasanya sudah lama ia tidak diantar ibunya seperti ini. Kemudian dia turun dari mobil silver itu. "Pak Affan makasih ya. Hati-hati," ujar Nadia pada drivernya sebelum menutup pintu. "Pasti, Non," jawab pak Affan. "Nadiiiaaa..." suara Felicia yang melengking sempurna sontak membuat Nadia menutup telinganya. Mobil ibunya baru saja berlalu.  "Berisik lo toa demo," ujarnya dengan ekspresi kesal. Yah, bagaimana tidak kesal. Ini masih terlalu pagi tapi Felicia sudah mengeluarkan suara soprannya.  "Ihh, kejam bener lo ah suara merdu gue disamain sama toa demo," keluh gadis berambut pirang itu dengan bibir manyunnya. "Iya, suara lo emang merdu. Lebih merdu lagi kalau lo diem," sahut Nadia santai. Kaki mereka melangkah menuju kelasnya. Felicia hanya berdecak ringan dan celingukan memperhatikan keadaan, seperti ada yang kurang. "Eh, btw calon suami idaman gue mana Nad?" seloroh Felicia membuat Nadia menghentikan langkahnya "Calon ... suami ... idaman?" tanyanya dengan dahi berkerut. Terdapat penekanan penuh pada setiap katanya. "Manusia paling tampan nan hot di komplek sekolah ini, Alvino Syahreza Aldrean," jawab Felicia dengan cengiran tak berdosa. Nadia hanya memutarkan bola matanya jengah. Dia terus berjalan tanpa mempedulikan ucapan ngaco sahabatnya di pagi hari itu. "Yah, kok gue ditinggal sih. Adik ipar, tunggu ..." panggil Felicia dengan suara tingginya. Nadia berbalik dan memelototi gadis centil itu. Beberapa orang bahkan sudah menatap aneh ke arahnya. Felicia cuek saja. Tanpa adanya Alvin, Nadia merasakan perubahan. Disepanjang lorong menuju kelasnya yang memang harus melewati gedung SMA terlebih dulu mulai banyak yang menggoda langkahnya.  “Wahh, ada Nadia nih.” “Pagi, Adik Cantik.” “Sendirian aja, Abang galaknya di mana?”  “Mau kakak temenin, Dek?” dan masih banyak godaan lainnya. Ah, jika begini rasanya ia ingin Alvin pulang saja. Nadia menggeleng cepat. “Alvin sialan,” umpatnya membuat Felicia melongo. Pun dengan beberapa orang yang mendengarnya. “Tuh anak kenapa sih?” gumam Felicia mengekori langkah Nadia yang kini berjalan cepat. "Tumben lo berangkat sendiri, Nad?" tanya Jasmine saat gadis itu baru duduk. Jasmine, si gadis lembut itu adalah teman sebangku Nadia. Sedang Felicia duduk sebangku dengan Lily. Kenapa Nadia tidak duduk dengan Felicia yang notabenenya lebih akrab dengannya? Tentu karena Nadia masih sangat peduli dengan kesehatan jantung dan telinganya. "Lo tau darimana?" tanya Nadia heran. Pasalnya dia tidak merasa bertemu Jasmine di depan gerbang atau sepanjang jalan menuju kelasnya tadi. "Yah biasanya kan kakak ganteng lo yang copyan dewa Yunani itu pasti nunggu lo didepan kelas sampai lo duduk," ujar Lily sarkas. Nadia terkekeh pelan mendengar julukan yang di berikan Lily untuk Alvin. Dewa Yunani katanya... "Yee ni anak, ditanya malah senyum-senyum," seloroh Jasmine. "Nggak bakal ngaku dia, udah berbusa nih mulut gue nanyain dari tadi," ucap Felicia sewot. ia segera duduk di bangku yang terletak di depan Nadia. Sementara Nadia hanya tersenyum saja. Ia tidak ingin mengatakan apapun tentang kepindahan Alvin ke Paris. Biarkan saja, pasti mereka akan tahu sendiri nantinya, pikir Nadia. "Lo pasti nggak ada sopan-sopannya waktu nanya ke Nadia. Pantesan dia nggak ngasih tau," ujar Lily. Spontan mereka bertiga menatap penasaran ke arah gadis bermata minimalis tersebut. "Emang gimana yang sopan, Lil?" tanya Jasmine. "Nadia sayang, calon adik iparku. Kakak ...." Belum selesai Lily mengucapkan pertanyaannya kepalanya sudah di toyor oleh Nadia. "Dunia akhirat gue nggak ridho Abang gue dapet modelan kaya lo bertiga," sungut Nadia. Ketiga gadis genit itu terkekeh. Tanpa Nadia sadari, ia mulai tertular sikap over protective Alvin yang selama ini ditujukan jika ada laki-laki yang berani menggoda atau bahkan mendekatinya. **** Hari pertama Alvin disekolah barunya tak banyak hal spesial. Namanya juga hidup di Eropa. Para manusia disini tentu tidak seramah teman-temannya di Indonesia. Namun karena Alvin adalah orang yang mudah berbaur sehingga mudah saja baginya mengakrabkan diri dengan kawan-kawannya.  Seperti siang ini, mereka sedang makan siang bersama di aula makan karena memang makan siangnya disediakan oleh pihak sekolah. Dengan menu yang beragam. Alvin mengambil semangkok cream sup khas Swiss karena merasa tubuhnya agak mengigil. Kali ini, pertama kali dalam hidupnya Alvin menginginkan teh hangat dan untungnya tersedia. Saat tengah asyik berbincang dengan temannya sambil menghabiskan makanan mereka, sebuah tangan menepuk bahu kanannya. Alvin mendongak dan menatap orang yang kini tersenyum kepadanya.  "Lo Alvin kan? Alvin Aldrean?" Alvin memandang sejenak mengingat orang itu. Sepertinya ia mengenal suara itu. "Bagas? Ini lo?" tanya Alvin tak percaya. Spontan ia berdiri dan memeluk sahabatnya semasa SD hingga kelas tujuh SMP itu. "Gila, lama banget nggak ketemu lo? Gue kangen sama lo banget setan." Bagas terkekeh. Alvin sama sekali tidak berubah. "Gue udah liat lo dari tadi pagi. Tapi gue ragu apa ini beneran lo. Ehh nggak taunya ketemu lagi." Bagas kemudian memberikan salam pada beberapa teman Alvin yang juga adalah temannya di ekstra basket. "Lo kenapa nggak pernah bilang kalau ternyata pindah ke Paris. Tau gitu udah gue susul dari dulu." Bagas terkekeh. "Yakin lo mau nyusul gue? Emang lo bisa ninggalin adek kesayangan lo yang manis dan menggemaskan itu?" ujar Bagas dengan nada mengejek. "La ini gue bisa. Udah sama-sama gede lah, dia juga bisa jaga dirinya sendiri." "Kalian saling kenal?" tanya Richard yang duduk didepan Alvin. "Temen SMP dulu," jawab Bagas "Gimana ceritanya lo bisa sekolah disini?" tanya Bagas mengambil posisi duduk di samping sahabatnya itu. "Awalnya bokap gue nawarin, gue pikir-pikir yahh nggak ada salahnya juga sih. Sekalian belajar biar gue lebih mandiri juga." Alvin menyendokkan sup berisi roti yang masih hangat. "Tapi gue nggak yakin bokap lo bakal nglepasin lo sendiri. Secara, putra mahkota ancamannya kan banyak," ujarnya sambil mengunyah sandwichnya. Alvin terkekeh.  "Gue nggak tau menau soal itu. Yang jelas gue udah bilang ke Bokap buat nggak usah kasih pengawal atau apapun. Ya meskipun udah gue duga kalau Bokap pasti tetep bakal ngasih beberapa orang buat jaga gue dari jauh." "Bokap lo nggak bakalan sembarangan ngebiarin lo sendirian." Alvin mengangguk membenarkan ucapan sahabatnya itu. “Eh, Adik manis lo gimana kabarnya? Pasti udah jadi cewek yang cantik abis ya sekarang? Secara, nyokap lo kan cantiknya paripurna gitu.” Alvin hanya mencibir. Dari dulu Bagas selalu sekepo ini pada Nadia.  “Lo masih suka sama Adek gue?” “Apa Kakak Alvin keberatan kalau gue jadi adik iparnya?” tanya Bagas sambil tersenyum jahil. Dari dulu, ia memang sangat suka menggoda Alvin dengan alibi menyukai Nadia. “Lo langkahin dulu mayat gue noh kalau mau dapetin Nadia,” ujar Alvin santai, Bagas hanya tertawa geli. Dari dulu memang Alvin bersikeras melarangnya mendekati Nadia. Yahh, wajar saja karena rasa sayang Alvin. Bagas yakin pasti semua orang akan berpikir seperti itu.  Padahal, sesungguhnya Alvin tidak pernah main-main dengan ucapannya. Dulu, ia pikir itu hanya karena perasaan sayangnya pada adiknya. Tapi semakin lama Alvin sadar, itu bukan hanya perasaan sayang terhadap saudara. Cinta mungkin? "By the way, lo masuk kelas apa?" tanya Bagas. "Gue kimia. Lo?" "Ckck. Nggak ada bosennya lo ya sama pelajaran itu. Gue masuk kelas Sejarah Seni." "Yahh gimana lagi, udah terlalu cinta. Mending gue lanjutin apa yang udah gue dapet di Indo." "Bokap lo kan pemilik perusahaan. Kenapa lo nggak ambil bisnis?" "Kan perusahaan Bokap gue dibidang farmasi, Bang Toyib," ucap Alvin yang membuatnya mendapat hadiah dari Bagas. Sebuah toyoran ringan dipundaknya. Alvin terkekeh. "Sembarangan lo ngatain gue Bang Toyib." "Salah lo sendiri nggak pernah pulang ke Indonesia." Kedua terkekeh. Kemudian beranjak ke kelas masing- masing karena bel tanda istirahat berakhir sudah berbunyi. "Nanti sore ada sparing basket. Lo mau ikut?" tawar Bagas sebelum mereka berpisah di lorong. "Boleh." Alvin mengangguk yakin. Daripada dia diam di apartemen dan malah terfikir Nadia. "Oke. Pulang sekolah kita langsung cabut. Sama Richard juga tuh." "Beres." ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN