BAB 5

1657 Kata
Felicia baru saja menginjakkan kaki memasuki gedung SMA ketika sebuah tangan menariknya. "Eh, lo apa-apaan sih pakai narik-narik gue?" "Lo yang apa-apaan," sahut suara yang Felicia kenali. Sesosok wanita muncul membelah kerumunan gengnya yang berjumlah enam orang. "Oh, ternyata lo Cath," sahut Felicia sinis. "Diem lo." Suara Marsya. Teman satu geng Cathlyn. Felicia hanya memandang dingin gadis bertubuh kecil itu dengan tatapan 'apaan lo pendek'. "Masih berani juga lo," ucap wanita bernama Cathlyn. Felicia hanya memutarkan bola matanya jengah. "Gue nggak punya alasan kenapa harus takut sama lo. Bukannya lo yang takut sama gue?" ucapnya dengan nada mengejek. "Lo cuma anak bawang, nggak level gue takut sama lo," sahut Cathlyn dengan sorot mata tajam. "Buktinya lo beraninya keroyokan." Felicia menaik turunkan alisnya dengan ekspresi sombongnya yang selama ini jarang terlihat. Cathlyn memberikan kode pada teman gengnya agar mundur. Cathlyn adalah teman sekelas Alvin. Tapi sebenarnya, wanita itu menyimpan rasa pada pemegang gelar cowok ter hot di sekolah itu. Namun Alvin tak pernah peduli karena baginya hanya Nadia yang ada dihatinya. Cathlyn bukan hanya menyukai Alvin. Lebih tepatnya dia terobsesi ingin memiliki Alvin sehingga segala cara dilakukannya. Termasuk menyisihkan gadis-gadis yang berani menggoda atau bersikap centil pada pujaan hatinya itu. Meskipun hanya dengan candaan. Padahal, banyak juga laki-laki yang menyukai Cathlyn namun obsesinya pada Alvin sudah terlalu tinggi. Sepasang mata mengamati apa yang tengah terjadi, tak lama kemudian dia berlari menuju kelasnya. "Nad. Nadia. Hoh. Hosh," teriak Lily tergopoh dengan nafas memburu membuat beberapa teman sekelasnya kompak menoleh. Dia masih dipintu kelas sementara Nadia sedang bergosip dengan Jasmine dan Roy. "Lo kena...pa?" tanya Nadia dengan alis bertaut. "Fel, Felicia." Lily menelan ludahnya kasar. Ia masih mengatur nafasnya akibat berlari cukup kencang tadi.  "Felicia kenapa? Lo ngapain ngos-ngosan gitu? Abis dikejar setan lo?" ledek Jamine. Mereka berjalan ke arah pintu mendekati Lily. "Setannya lagi ngerubungin Felicia." "Maksud lo?" tanya Nadia dan Jasmine berbarengan. "Cathlyn, di samping gedung Alpha." Mata Nadia seketika melotot mendengarnya. "Pasti gara-gara kemarin dia bilang Alvin calon suami. Sial, masih aja terobsesi sama Abang gue tu orang," umpat Nadia sambil berjalan sedikit berlari menuju tempat yang dimaksud Lily. "Lo cuma anak ingusan, nggak pantes lo mimpi bisa jadi calon istrinya Alvin," ujar Cath sarkas dengar teriakan kecilnya. Felicie terdiam sebentar, otak cerdasnya langsung berputar dan ia teringat ucapannya beberapa hari yang lalu. "Jadi lo cemburu gara-gara omongan gue waktu itu? Cih, sempit banget ya otak lo ternyata." "Apa lo bilang?" "Apa gue salah? Otak sama fikiran lo emang sempit kan gara-gara terobsesi sama Alvin. Lagian lo siapa ngelarang-ngelarang gue? Adeknya aja nggak masalah," ucap Felicia santai. "Cuma gue yang boleh milikin Alvin. Dan lo tau gue akan milikin Alvin gimanapun caranya." "Alvin bahkan nggak pernah ngelihat ke arah lo sama sekali. Dia bahkan lebih peduli sama adiknya dari pada berhubungan sama mak lampir pengecut kaya lo," ujar Felicia dingin. Sama sekali tidak tersulut emosi meskipun Cathlyn meneriakinya. "Jaga mulut lo, Fel," teriak Rossa. "Kalian yang jaga sikap. Emang siapa kalian berhak ngelarang Felice deketin Abang gue?" Sebuah suara menyahut dengan enteng dan membuat semua menoleh. Seketika, mereka semua bergerak mundur. Satu orangpun tidak akan ada yang berani dengan adik Alvin yang terkenal tak kalah ganas dari kakaknya meskipun lebih pendiam. Dengan tangan bersedekap Nadia berjalan mendekat, sendirian. Tapi Lily dan Jasmine ada di balik tembok. Felicia tersenyum mengejek sementara Cathlyn sudah menurunkan pandangannya. Tidak segalak sebelumnya. Nadia memberi tatapan tajam pada satu persatu teman geng Cathlyn. Tapi pada wanita itu, Nadia hanya menatap dingin dengan tangan bersedekap di d**a. "Apa yang bikin lo berfikir cewek kaya lo pantes jadi pasangan kakak gue?" Cathlyn mendongakkan kepalanya mendengar ucapan sinis Nadia. Karena memang Nadia lebih tinggi beberapa centimeter dari wanita itu.  "Huhh, Alvin, Alvin. Pergi bukannya nyelesaiin masalah malah bikin masalah." Nadia mendengkus kesal. "Lo semua nggak ada yang pengen minta maaf gitu ke temen gue?" tanya Nadia pada teman Cath dengan nada merendah, merendah untuk meroket. "Oke fine, semoga nggak ada yang liat terus ngaduin kalian semua ke bokapnya Felic. Semoga kalian nggak lupa siapa orang tua Felice." Nadia menampilkan smirk yang menyeramkan. Sementara Felicia hanya diam sambil tersenyum geli melihat ciutnya nyali Cathlyn dan gengnya. Ia dan sahabat-sahabatnya memang tidak serempong gerombolan yang lain, tapi jika ada yang berani menyentuh salah satu saja dari mereka jangan ditanyakan seberapa solidnya persahabatan mereka. Felicia mengekori Nadia yang kini berjalan menuju kelas mereka dan bertemu Lily dengan Jasmine. "Gue kira lo bakal jambak-jambakan sama mereka tadi," tukas Lily. Mereka berempat terkekeh. "Gue nggak mungkin kan ngotorin tangan gue," sahut Felicia enteng. "Awas lo berulah sekali lagi." Nadia berkata tegas. Felicia hanya terkekeh. "Salah kakak lo sendiri, jadi cowok hot amat. Pantes aja banyak yang ngrebutin," ujar Felicia membuat Nadia melotot sekilas ke arahnya. "Tapi kayaknya emang nggak bakal mungkin deh si kucing itu berani main ekstrem sama lo," sahut Jasmine. "Yahh, intinya mereka pengecut. Mereka cuma nggak berani sama adek tersayangnya Alvin doang nih," ucap Lily menjawil pipi Nadia. Nadia hanya tersenyum kecil tak ingin menanggapi kengawuran pagi itu. **** "Lo baik-baik aja?" tanya Bagas mengambil posisi disamping Alvin. "Emang gue kelihatan nggak baik-baik aja?" tanya Alvin balik sebelum meneguk air putihnya. "Yahh, rebound lebih dari 3x itu cukup menjelaskan bukan? Bukan seperti itu permainan Alvin yang gue kenal," sahut Bagas ringan. Alvin tersenyum tipis.  "Gue cuma lagi nggak fokus." "Nggak fokus sampai beberapa minggu?" tanya Bagas dengan pandangan menyelidik. Alvin mendesah pelan.  "Lagian cewek mana sih yang bisa bikin seorang Alvin kehilangan ritme permainannya?" sambungnya penasaran.  "Cewek apaan. Cuma perkara kecil," sanggah Alvin.  "Oke, fine. Tapi kalau emang lo ada masalah lo bisa cerita. Semua nasalah bisa diselesaikan, Vin. Bukan dengan diem atau kabur," kata Bagas sambil menepuk pundak Alvin ringan. Alvin hanya terdiam merenungi ucapan Bagas. Kabur dari masalah? Yahh, kenyataannya Alvin memang kabur dari masalah yang sekarang justru sangat menyiksanya. Merindukan adik perempuannya.  "Au revoir," pamit Alvin pada teman-teman basketnya. Richard sempat mencegahnya namun Alvin bersikeras. Saat ini dia hanya ingin pulang. Ingin menikmati kesendiriannya. 30 menit kemudian Alvin sudah sampai di flatnya. Setelah mandi dan membersihkan diri ia menuju dapur dan membuat sesuatu untuk makan malam.  Tak butuh waktu lama bagi Alvin untuk menghabiskan makan malamnya. Setelahnya ia membuat kopi dan berniat menikmati dari balkon kamarnya. Langkah Alvin terhenti ketika ujung matanya menangkap sesuatu di laci kaca meja TV.  Alvin mendekat tertarik. Dibukanya laci itu setelah meletakkan kopinya dimeja. Dan betapa terkejutnya Alvin mendapati syal milik Nadia berada disana. Sekian detik Alvin terdiam. Bagaimana mungkin benda ini ikut bersamanya ke Paris? Ia sendiri yang mengemasi barang-barangnya dan Alvin ingat betul tidak ada benda itu saat ia berkemas. Apakah Nadia memasukkannya secara diam- diam? Alvin rasa tidak mungkin karena keadaan Nadia waktu itu sedang terbaring lemah. Atau ibunya? Tidak mungkin juga. Kartika tidak akan meletakkan sesuatu tanpa permintaan dan seizin Alvin. Atau memang dirinya sendiri yang tanpa sadar mengemas benda itu? Atau mungkin? Ingatan Alvin kembali pada saat ayahnya akan pulang setelah mengantarnya. Saat itu, ayahnya tengah gelisah karena merasa ada yang tertinggal. Apa syal ini yang di maksud papah? Tapi kenapa? Tapi ini kesayangan Nadia? Kenapa bisa ada di papah? Banyak hal melintas dalam fikiran Alvin hingga handphonenya berdering. Terdapat nama ibunya disana. Segera saja laki-laki itu menekan tombol hijau dan meletakkan syal hangat itu di sandaran ranjangnya. "Halo, Mah." "Alviiinn!!! Kamu mau jadi anak durhaka atau bagaimana, huh? Kenapa jarang banget kabarin Mamah, heh?" Suara melengking milik Kartika membuat Alvin sedikit menjauhkan benda pipih itu dari telinganya untuk beberapa detik.  "Hehe, maaf Mamah. Mamah tau kan Alvin jarang banget lho pegang handphone. Akhir-akhir ini Alvin lagi sering basket. Maafin yahh, Mamah Sayang," kekeh Alvin kemudian memohon dengan suara memelas. "Huh, kali ini Mamah terima alasan kamu. Kamu dimana sekarang? Sudah pulang? Kamu baik-baik aja kan? Udah makan?" Kartika memberondong Alvin dengan banyak pertanyaan membuat laki-laki itu tersenyum geli. "Satu-satu dong, Mamah. Alvin harus jawab yang mana dulu?" "Alvin, Mamah serius." "Hehe, iya Mamah. Alvin baik-baik aja kok, Mah. Sekarang lagi di apartemen, baru juga selesai makan malam. Mamah lagi apa disana? Gimana Papah dan Nadia mah? Sehat kan?" Alvin berganti memberondonng sang ibu dengan berbagai pertanyaan. "Syukurlah. Papah kamu lagi disamping mamah, kita lagi di balkon. Sore-sore seperti ini lihat pemandangan dari balkon sejuk Vin. Dan adik kamu udah mulai pulang malem karena harus les. Kamu nggak pernah hubungi Nadia?" "Nadia sama Alvin kan sebelas dua belas Sayang. Jarang banget pegang handphone," sahut Darmawan yang terdengar di ponsel Alvin. Membuatnya tertawa kecil. "Tuh kan, Papah aja ngerti mah. Alvin juga lagi di balkon nih Mah. Tapi disini udah gelap." "Kamu nggak lagi ngelamun kan, Sayang?"  "Nggak Mamah, tapi aku rindu sama Mamah." Hati Kartika menghangat mendengar ucapan tulus Alvin.  "Vin, jangan bikin Mamah kamu minta nyusul ke sana, ah," gertak Darmawan yang membuatnya mendapat cubitan dari istrinya. "Aww, sakit, Mah." Darmawan mengaduh. "Papah duluan. Apa salahnya sih kalau Mamah minta nyusul Alvin," sungut Kartika. Darmawan hanya terkekeh geli melihat bibir manyun istrinya. "Kesini aja Mah, sekalian honeymoon yang kesekian kalinya lagi sama Papah," kekeh Alvin. "Pasti Vin, nanti saat kamu udah bisa pegang perusahaan kata Papah," celetuk Kartika. Alvin tertawa. "Iya deh, nanti biar Avin yang pegang perusahaan. Mamah sama Papah liburan aja sampai puas." "Kamu sparing basket jangan sampai ganggu waktu sekolah kamu lho, Vin." Peringat Kartika. "Pokoknya sekolah kamu yang utama." "Iya Mamah, Alvin ngerti kok. Lagian nggak lama kok, dan pulang sparing juga Alvin biasanya langsung tidur," kata Alvin menjelaskan. Tentu saja Alvin sadar, sekolahnya yang paling penting sementara basket adalah hanyalah satu dari sekian banyak usahanya untuk mengalihkan pkirannya dari Nadia. Percakapan yang tak berlangsung lama karena Alvin mulai diserang kantuk. Kegiatan sparing selama beberapa sore memang cukup menguras energinya. Beruntung tidak berpengaruh saat dia tengah di sekolah. Alvin akhirnya menutup panggilan itu setelah perdebatan dengan ibunya mengenai siapa yang harus menutup duluan. Ia kemudian menutup pintu balkon dan meletakkan tubuhnya di kasur yang nyaman itu. Tanpa sadar, tangannya meraih syal Nadia dan meletakkannya di bawah kepalanya. "Apa kabar kamu, Nadia?" Laki-laki itu tertidur dengan menyunggingkan senyum. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN