"Voilaaa, selesai juga nih angka romawi," gumam Nadia girang. Segera ia membereskan perlengkapannya untuk bersiap pulang.
"Nad, mau jalan dulu?" tanya Andin, teman satu tempat les Nadia, teman satu sekolah juga sebenarnya hanya berbeda kelas. Nadia melirik jam tangannya sebentar lalu menggeleng.
"Udah malem nih, Din, gue mau pulang. Pening banget ni kepala," ujarnya sambil menghembuskan nafasnya pelan.
"Bentaran doang yukk, gue pengen makan brownis nih. Otak gue kaya kaset macet kena rumus tadi," pinta Andin dan Nadia menatapnya heran. Ini mah maksa namanya, batin Nadia.
"Masih jaman buk pakai kaset," ujarnya sambil terkekeh ringan. "Lagian malem-malem gini lo mau makan brownis?" Andin mengangguk dengan mata berbinar. Nadia hanya menggeleng pasrah.
"Mau yah, please.."
"Iya udah ayo. Tapi jangan lama-lama." Andin mengangguk yakin.
Mereka berjalan beriringan menuju tempat parkir. Disana sopir masing-masing sudah menunggu kedua nona muda tersebut.
"Lo ikut mobil gue aja Nad. Ntar gue anter." Nadia mengangguk kemudian memberitahu supirnya agar pulang terlebih dulu.
"Pak Affan, saya keluar dulu sama Andin. Bapak pulang duluan aja, sama tolong kasih tau mamah. Saya nggak bawa handphone hari ini."
"Baik Non."
Nadia kemudian memasuki mobil Andin yang sudah menunggunya. Mereka menuju ke sebuah outlet kue langganan Andin. Sebuah tempat bergaya klasik oriental namun bisa membuat nyaman siapapun yang berkunjung. Sebenarnya outlet itu hanya melayani jasa antar dan take away, namun di salah satu sudut ruangan terdapat beberapa pasang bangku yang bisa digunakan jika pengunjung ingin menikmati potongan kuenya ditempat.
"Makan disini aja ya," tawar Andin pada Nadia. Gadis itu mengangguk.
"Tiramissu marble ya Din. Sama teh panas aja. Camomile kalau ada."
"Tumben lo minta teh panas, nggak moccachino latte? Enak banget lho disini." Nadia menggeleng.
"Nope. Udah terlalu banyak makanan manis untuk para cacing gue hari ini." Ujar Nadia sambil menunjuk perutnya. Andini mengangguk sambil tertawa kecil kemudian memesan makanan dan langsung membayarnya di kasir. Gadis itu kembali ke meja dimana Nadia sudah menunggunya dengan nampan kecil yang tampak penuh.
"Jadi berapa?" tanya Nadia.
"Apanya yang berapa. Udah gue traktir." Dasarnya Nadia yang tidak terbiasa menerima traktiran, ia tetap ngotot.
"Yahh jangan gitu dong Din. Nggak enak gue. Berapa ih?"
"Udah ah, lo apaan sih pakai nggak enak. Kan gue yang ajak lo Nad. Anggep aja say thanks karena lo udah mau temenin gue," kata Andin final. Tanpa menerima bantahan.
"Ya udah," kata Nadia pasrah. Andin tersenyum melihatnya.
"Lo rencana SMA mau dimana Nad? Masih bertahan di Binusvi?" Andin menyendokkan potongan brownis idamannya ke dalam mulut. Rasa lumer cokelat yang tidak terlalu manis segera mendominasi. Ekspresinya cukup menggambarkan betapa tergila-gilanya gadis muda itu dengan kudapan lezatnya yang biasanya menjadi penutup makan.
Nadia tersenyum geli melihat ekspresi Andin. "Lo nggak punya ekspresi yang lebih anggun gitu sebagai cewek." Gadis itu juga menyendokkan tiramissu marble yang membuat lidahnya juga bergoyang nikmat. Memang senikmat itu kalau makanan favorite ya, readers.
"Lo cobain dehh, lumer banget asli. Nggak terlalu manis kaya brownis merek sebelah. Malah cenderung agak pahit. Tapi serius enak banget." Andin menyodorkan piring kecilnya pada Nadia, gadis itu memotong dengan sendoknya kemudian mencobanya. Nadia mengangguk setuju dengan pendapat Andin mengenai rasa brownisnya.
"Gue mau ambil JIS aja."
"Cih, JIS dikata 'aja'," ujar Andin sinis. Nadia terkekeh geli.
"Awalnya gue pengen ke SMA negeri Din, cuma lo tau kan sekolah negeri sekarang pada kena sistem baru. Agak susah sih karena rumah kita kan agak jauh sama beberapa sekolah negeri yang gue pengen." Nadia mengutarakan keinginannya.
"Terus geng rempong lo gimana? Bubar dong kalian kalau pisah."
"Aelah Din orang rumah kita juga deketan. Cuma beda komplek doang. Nggak ambil pusing kita mah sama hal kaya gitu." Nadia menyecap teh panas miliknya yang tidak terlalu manis. Pening dikepalanya terasa sedikit ringan menghirup aroma teh yang menenangkan.
"Lo sendiri gimana? Pisah juga sama ciwi-ciwi heboh lo?" sambungnya
Andin terkekeh, "Lo nggak akan kaget kan kalau kita bertiga udah daftar jalur undangan ke SPH?"
Nadia memutarkan bola matanya jengah. "I know it." Kedua tertawa ringan.
"By the way, Lo nggak nyusulin abang lo Nad, di Paris?" tanya Andin tiba-tiba.
Nadia terdiam sebentar kemudian menggeleng cepat. "Kenapa?" tanya Andin heran. Karena setahunya, Nadia dan Alvin sangat lengket hingga sulit bagi dunia memisahkan mereka.
"Masa gue ngintilin Alvin terus. Kapan guue bisa punya cowok?" bohongnya. Sebenarnya Nadia menghindari Alvin karena bingung dengan perasaannya sendiri. Antara menahan rindu dan marah disaat yang bersamaan.
"Yaa sapa tau kan, lo sama Alvin kan kemana-mana berdua terus. Sampai cowok-cowok nggak ada yang berani deketin lo saking galaknya abang lo itu." Nadia tersenyum lebar mendengar kejujuran Andin. Memang benar apa yang di katakan temannya itu. Bahkan meskipun kini Alvin tidak berada didekatnya, masih belum ada laki-laki yang berani mendekatinya. Selain karena Nadia sendiri terlalu abai dengan hal-hal semacam itu. Fikirannya terlalu sering dipenuhi dengan Alvin. Dia sudah terlalu nyaman memiliki kakaknya yang sempurna itu. Sehingga tidak terbesit sedikitpun keinginan untuk mencari laki-laki, lagipula ia masih SMP. Belum saatnya. Begitulah yang ada dibenak Nadia, setidaknya untuk saat ini.
"Gue pengen disini aja Din. SMA disini, kuliah juga disini. Nyokap gue mana bisa jauh-jauh dari gue." Andin terkekeh mendengarnya.
"Naluri ibu Nad. Nyokap gue nggak beda jauh sama tante Kartika." Nadia mengangguk setuju.
Setelah menghabiskan makanannya, Andin mengantarkan Nadia ke rumah. Jarak rumah mereka sebenarnya tidak terlalu jauh, masih dalam satu komplek perumahan, hanya saja rumah Nadia terletak berdekatan dengan gerbang utama. Sementara rumah Andin agak jauh disisi barat laut. Pojok lebih tepatnya.
"Thanks ya Nad. Udah mau temenin gue," ujar Andin dari jendela penumpang. Nadia mengangguk.
"Gue yang thanks kali Din udah di traktir."
"Apaan. Santai aja. Yaudah gue pulang dulu, ketemu besok ditempat les Nad. Salam buat Tante sama Om." Nadia mengacungkan jempol kanannya dan mobil Andin berlalu meninggalkan
Nadia. Gadis itu segera memasuki rumah besarnya.
"Nadia pulang." Teriakannya membahana membuat salah satu asisten rumah tangganya sedikit berlari.
"Non ih, bibik kira siapa," sahut bik Ira. Nadia terkekeh ringan.
"Maaf bik. Papah sama Mamah dimana Bik kok sepi? Keluar ya?"
"Lagi di ruang tengah atas Non. Non kok malem? Udah makan? Bibik siapin ya Non?"
"Nggak usah, Bik. Nadia masih kenyang barusan makan sama temen." Kata Nadia menggeleng. "Yaudah Nadia ke atas dulu ya bik. Tolong bikinin s**u aja. Cokelat," ujarnya sambil menaiki tangga.
"Beres Non," jawab bik Ira.
Sesampainya dilantai dua, ia disuguhi pemandangan yang akhir-akhir ini cukup membuatnya bosan. Ayah dan ibunya sedang bermesraan sambil menonton sinetron. Eh, bukan. Tapi sinetronnya yang menonton mereka berdua. Nadia jadi teringat Alvin, jika saja Alvin dirumah sudah pasti mereka berdua akan menggodai orang tuanya tanpa henti. Seketika Nadia menggeleng ringan.
"Ciehh, mesra-mesraan terus ihh sampai anaknya pulang nggak di rewes," sindir Nadia. Kartika menoleh dan menampilkan senyumnya.
"Ehh, anak cantik Mamah udah pulang. Sini sayang," ujarnya sambil membuka pelukan untuk putri manjanya itu.
"Maaf, ibu siapa yaa?" sahut Nadia datar membuat Kartika melotot gemas.
"Ini anak sama durhakanya sama abangnya ternyata."
"Kan emang suadaranya Mamah. Wlee." Nadia menjulurkan sedikit lidahnya pada Kartika. Sementara Darmawan hanya tertawa sedari kemunculan putrinya itu.
"Nadia bersih-bersih dulu," ujarnya setelah mencium pipi ayah dan ibunya.
15 menit kemudian Nadia sudah membersihkan dirinya. Ia memakai piyama kesayangannya. Hadiah dari Alvin saat ulang tahunnya beberapa bulan yang lalu. Ia segera menyusul kedua orang tuanya dan menempatkan diri diantara mereka. Sekarang Nadia bisa lebih bebas, karena biasanya pasti Alvin akan mengganggu ketenangannya diposisi itu. Segelas cokelat hangat sudah tersaji di meja dihadapan Nadia.
"Duhh, mentang-mentang hadiah dari abangnya dipakai terus. Yang hadiah dari Mamahnya jarang banget nih dipakai," ujar Kartika dengan ekspresi dibuat seolah sedih. Nadia hanya terkekeh kemudian mencium hidung ibunya.
"Gimana sekolah kamu, Nak?" tanya Darmawan sambil membelai rambut Nadia.
"Capek Pah," jawab Nadia singkat yang membuat tawa orang tuanya lepas.
"Tinggal sebentar lagi, sabar dong," sahut Kartika.
"Iya Mamah." Nadia menyandarkan kepalanya di bahu ayahnya.
"Kamu mau ke Paris, Sayang?" tanya Darmawan sontak membuat Nadia kembali duduk tegap.
"Paris?" Nadia mengulang kalimat ayahnya. Darmawan mengangguk. Gadis itu menggeleng cepat.
"Kenapa, Sayang?" tanya Kartika heran melihat respon putrinya.
"Nadia mau SMA disini aja boleh nggak? Boleh ya, Pah?" ucapnya dengan tatapan memohon membuat Darmawan tak kuasa menolak permintaannya.
"Ya boleh, Sayang. Tapi kenapa nggak mau? Kan ada kakak kamu juga disana. Katanya kangen sama Alvin," kata Darmawan lembut. Nadia kembali menggeleng dan beralih memeluk Kartika. Pasangan suami istri itu saling melemparkan pandangan heran.
"Nadia pengen disini aja. Sama Mamah sama Papah. Masa mau ngintilin kak Alvin terus. Nanti Nadia nggak bisa punya pacar," ucap Nadia polos membuat tawa kedua orang tuanya kembali pecah.
"Baiklah. Kamu tetap disini," ujar Darmawan. Nadia terkekeh kecil. Biarlah tidak ada yang tahu bahwa sesungguhnya ia menyayangi Alvin lebih dari perasaan sebagai saudara.
"Jadi kamu mau SMA dimana, Nak?" tanya Kartika lembut. Tangannya membelai rambut harum Nadia sementara Darmawan mengusap lembut punggung putrinya.
"JIS, boleh? Disana cowoknya keren-keren. Ganteng pula." Gadis itu terkekeh.
"Kamu yaa, belum apa-apa udah mikir kesitu," ucap Kartika menjawil gemas hidung Nadia yang mirip mendiang suaminya.
"Yaudah, nanti Papah yang urus pendaftaran kamu ke JIS."
"Beneran Pah?" tanya Nadia berbinar. Darmawan mengangguk.
"Nanti SMA Papah ijinin kamu bawa mobil sendiri, tapi nggak setiap hari." Respon Nadia tentu gembira, tapi tak bertahan lama.
"Papah, jangan manjain Nadia kaya gitu," sergah Kartika. Naluri keibuannya belum menyetujui kalau anak gadisnya harus menyetir sendiri. Apalagi Nadia masih labil dan gampang terpancing emosi.
"Nggak pa-pa, Sayang. Toh Alvin juga dari SMP malah udah bawa mobil sendiri." Tidak tahan dengan perdebatan ayah dan ibunya, Nadia menengahi.
"Udah ah kenapa jadi berdebat sihh. Nadia nggak usah bawa mobil deh pah. Kalau pengen aja. Enak di supirin, bisa tidur. Hmm," ujarnya sambil tersenyum manja. Kedua orang tuanya mengangguk setuju.
"Yaudah, Nadia ke kamar dulu mau tidur. Good night, Mah," ujarnya sambil mencium pipi ibunya kemudian beralih ke ayahnya.
"Good night, Papah."
"Good night, Sayang." Nadia memasuki kamarnya dengan membawa segelas s**u cokelat yang mulai dingin.