BAB 7 KENAPA?

1376 Kata
     Bersama Bagas, Alvin tengah menyusuri tepian sungai Seine. Salah satu sungai penting untuk negara Napoleon Bonaparte itu juga menjadi icon kota Paris. Sungai Seine ini termasuk salah satu sungai terpenting juga untuk Paris. Selain sebagai icon wisata, juga difungsikan sebagai sarana lalu lintas air secara komersil. Pembangkit listrik sampai kebutuhan air sebagian masyarakat Paris, berasal dari sungan Seine.   .   Alvin menerima tawaran Bagas untuk menemaninya mengunjungi Musse de Orsay. Letaknya di tepi kiri sungai Seine. Disepanjang perjalanan, nuansa romantis Paris sangat terasa. Terlebih ini adalah akhir pekan. Banyak pasangan yang menghabiskan waktu di tepian sungai ataupun menaiki perahu kecil menyusuri sungai yang kini ditetapkan sebagai cagar budaya dunia oleh UNESCO tersebut.      "Kawasan ini salah satu magnet terkuat yang dimiliki Paris." Bagas melangkah lebar ke tepian sungai. Alvin mengikutinya.      "Gimana ceritanya?"      "Lo lihat itu," kata Bagas sambil menunjuk kedepan dengan dagunya.      "Itu, Louvre?" seru Alvin. Bagas mengangguk.      "Sungai Seine ini membelah Louvre dan Orsay. Ada juga Grand Palais di arah barat, sama Place de la Concorde. Masih perlu gue jelasin kenapa?" tanya Bagas mengejek. Alvin tertawa.      "Gue mungkin nggak akan kesini sore-sore, apalagi kalau masih jomblo gini," gumam Alvin. Kali ini Bagas yang tertawa lebar.       "Emang minat cari cewek Paris bro?" tanya Bagas masih dengan sisa tawanya. Alvin menggeleng.      "Gue suka produk lokal. Lo sendiri nggak ada minat? Udah bertahun-tahun disini juga?" Alvin menyandarkan bahunya ke sebuah pembatas antara trotoar dan sungai.      "Kalau gue mau sama adek lo gimana?" tanya Bagas tenang sambil menatap sungai yang jernih. Ada rasa nyeri di hati Alvin, tapi ia bisa segera menguasai dirinya.      "Lo beneran suka sama adek gue?" tanya Alvin dengan suara yang berusaha dibiasakan. Bagas menggeleng, Alvin menatapnya heran. Bagas hanya tersenyum tanpa ada niat menjawab. Ia justru melangkahkan kakinya untuk menyeberangi jalan menuju Musse de Orsay, tujuannya.      "Kita masuk," ajak Bagas. Alvin mengekor dibelakangnya.      Musse de Orsay merupakan salah satu museum yang juga menjadi daya tarik kota Paris selain Musse de Louvre. Bedanya, jika Louvre memang bangunan museum dari awalnya, de Orsay dulunya adalah stasiun kerteta api. Dibangun pada tahun 1900 oleh Victor Laloux, seorang arsitek dan Beaux Arts Prancis. Terletak di tepi kiri sungai Seine. Sementara de Louvre terletak di tepi kanan. Kedua museum tersebut hanya berseberangan dengan beberapa jembatan penghubung.      Musse de Orsay mulai dibuka sebagai museum pada Desember 1986, setelah delapan tahun sebelumnya ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya dunia oleh UNESCO.      Alvin dan Bagas berada di ruangan utama museum itu. Bagas yang merupakan siswa jurusan sejarah tentu sangat mengenal tempat-tempat semacam itu. Ia menjelaskan panjang lebar jika Alvin bertanya. Pun jika Alvin belum bertanya. Alvin sendiri meskipun selama ini lebih menyukai angka dan ilmiah, tidak bisa menutupi kekagumannya pada tempatnya berpijak saat ini.      "Mungkin gue emang perlu sesekali pergi ke tempat semacam ini, ini bener-bener beda dari dunia gue selana ini," gumam Alvin.      "Lain kali gue ajak lo ke tempat lain yang juga nggak kalah bersejarah. Bahkan hampir semua bangunan penting di Prancis punya sejarah panjang."      "Orang Paris merawat sejarahnya seperti harta yang sangat berharga. Nggak heran sih kalau seluruh dunia sampai begitu mengaguminya."      "Mereka bener-bener menghargai sejarahnya, Bro," sahut Bagas. Alvin mengamini.      "Jam dinding itu masih berfungsi?" tanya Alvin memperhatikan jam dinding besar di ruangan utama tersebut. Bagas mengangguk.      Hampir tiga jam mereka berkeliling museum tersebut. Hingga keduanya cukup lelah. Namun sebenarnya Alvin belum puas. Rasa penasarannya masih tinggi karena memang hal seperti itu cukup baru dan menyenangkan untuknya. Hanya saja perutnya sudah mulai kelaparan sehingga ia menurut ketika Bagas mengajaknya makan siang kesebuah restoran cepat saji.      "Adek lo kelas berapa sekarang?" tanya Bagas sambil mencomot kentang gorengya.      "3 SMP. Tahun ini lulus," jawab Alvin datar.       "Nggak nyusul lo kesini?" Alvin menggeleng. "Kenapa?"      "Beberapa waktu yang lalu bokap gue bilang mau nawarin dia buat kesini. Cuma sampai sekarang gue belum tau dia mau apa nggak."      "Menurut lo dia bakal nolak?" Alvin hanya mengendikkan bahunya. Bagas mengangguk pelan kemudian mereka kembali melanjutkan makan dengan hening karena keduanya sibuk dengan fikiran masing- masing.      Menjelang petang Alvin baru sampai si apartemennya. Rasanya melelahkan, tapi sekaligus menyenangkan. Paris benar-benar membuatnya terpesona. Dan ia baru merasakannya setelah beberapa bulan tinggal dikota itu. Alvin segera mandi dan membersihkan dirinya. Sebenarnya Bagas mengajaknya kesebuah club namun Alvin menolaknya. Ia tidak ingin terkena masalah jika sampai orang tuanya tahu. Alvin kan anak baik, ya.       Alvin meraih syal Nadia yang selalu terletak di sandaran ranjangnya. Ia ciumi syal itu seolah mencium aroma Nadia. Alvin benar-benar merindukan Nadia. Ia sudah memberitahu ayahnya perihal syal Nadia yang tertinggal beberapa waktu yang lalu, namun ia sendiri yang meminta kepada ayahnya agar syal itu tetap bisa dibawanya. Sebagai obat rindu pada Nadia, katanya.       Namun Alvin membeku manakala Darmawan justru berkata akan menawari Nadia agar menyusulnya ke Paris. Ia akan mengabari Alvin jika Nadia bersedia. Alvin diliputi kebimbangan. Satu sisi ia senang karena akan bertemu wanita yang dicintainya. Satu sisi nuraninya menolak. Nadia adalah adiknya. Meskipun bukan adik kandung. Bukankah Alvin seharusnya menjaganya sebagai kakak? Kini setelah pergi-pun Alvin tak bisa lepas dari bayang-bayang adiknya. Justru semakin bertambah. Terlebih adiknya itu jarang sekali mengunggah di akun sosial medianya. Membuat Alvin semakin rindu, dan hanya dengan syal itu Alvin menumpahkan kerinduannya.      “Kira-kira Nadia mau nggak ya?” gumamnya pelan.      Alvin memang tidak pernah berkomunikasi langsung dengan Nadia. Nadia juga tidak pernah menghubunginya. Alvin berfikir, mungkin Nadia masih marah padanya. Alvin tidak tahu bahwa sebenarnya Nadia sendiri juga menunggu telfon dari Alvin.      "Akhh, perasaan ini bener-bener bikin gue gila," gumam Alvin gusar.      Sekian menit berada di keheningan, handphone Alvin berdering. Ada nama Darmawan disana. Segera ia menguasai diri kemudian menekan tombol hijau. "Halo, Pah."      "Alvin, Papah nggak akan lama-lama. Papah Cuma mau kasih tahu kalau adik kamu nggak ingin ke Paris." Sejenak Alvin tertegun meninterupsi telinganya, barangkali salah dengar. 'Nadia nggak mau?'      "Kok Nadia nggak mau kenapa, Pah?"      "Papah juga nggak tahu Vin. Nadia malah milih daftar ke JIS. Atau kamu mau bujuk adik kamu?"      Alvin menghela nafas pelan. Ada perasaan sakit dihatinya mendengar penuturan ayahnya. Apa Nadia menolak karena masih marah padanya? Kini Alvin merutuki sikapnya sendiri, seharusnya ia tidak sedingin itu pada adiknya apalagi mereka akan berpisah.      Dengan memejamkan matanya dalam-dalam Alvin berkata,      "Kalau Nadia nggak mau ya biarin, Pah. Jangan dipaksa ah. Lagian kan Nadia perempuan, lebih baik didekat Papah sama Mamah. Alvin belum tentu bisa jaga Nadia dengan baik karena Alvin sendiri sibuk kan." Alvin berusaha berkata senormal mungkin agar ayahnya tidak menaruh curiga. Terdengar helaan nafas diseberang sana.      "Ya sudah kalau gitu. Besok Papah akan urus pendaftaran Nadia ke JIS. Kalau gitu Papah tutup dulu ya. Papah masih ada kerjaan."      "Iya, Pah. Salam buat Mamah sama Nadia pah."      Klik! Panggilan terputus. Alvin masih menahan sesak didadanya. Matanya mulai memerah. Ia menatap kembali layar ponselnya mencari foto Nadia, kemudian menciumnya lama.      "Aku merindukan kamu, Nadia." ****      "Papah kenapa?" tanya Kartika mendapati raut wajah suaminya yang sulit diartikan di ruang kerjanya.       "Alvin," jawab Darmawan singkat membuat alis Kartika bertaut.      "Alvin kenapa?" tanyanya panik.      "Ada yang aneh Mah sama Alvin. Kenapa Papah ngerasa Alvin dan Nadia semakin jauh ya?" Kartika tertegun sejenak mendengar penuturan suaminya. Harus diakui, ia sendiri merasakan hal yang sama. Lebih tepatnya, Alvin seperti menghindar. Sejak beberapa waktu sebelum kepergiannya ke Paris. Awalnya ia fikir itu hanya firasatnya saja, nyatanya hingga kini ia sendiri tidak pernah mendengar Nadia menceritakan tentang Alvin atau habis di telfon Alvin. Sepertinya memang kedua anaknya itu tidak pernah berkomunikasi.      "Sayang kenapa diam?" Tanya Darmawan sambil mendekatkan tubuh ke istrinya. Mengikis jarak diantara mereka. Memeluk tubuh istrinya yang masih sangat terjaga itu. "Merasakan hal yang sama?"      Kartika mengangguk pelan kemudian menghela nafas panjang. Ia melingkarkan tangan dileher suaminya.       "Tapi mereka sudah sama-sama dewasa Pah, mereka hanya butuh waktu. Mungkin ya sekarang saatnya Alvin dan Nadia mencari dunianya masing-masing. Nanti kalau Alvin sudah pulang, semoga mereka berdua baik-baik saja." Darmawan mengangguk sebagai jawaban. Matanya menatap intens bibir pink milik istrinya. Kartika yang menyadari hal itu lantas tersenyum lalu memberikan kecupan singkat di bibir suaminya. Satu tangan Darmawan segera menahan tengkuk istrinya yang cantik itu untuk memperdalam ciuman mereka. Sementara tangan lainnya mengeratkan pelukan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN