BAB 8 ISI HATI

1578 Kata
       Sekarang Nadia sudah kelas sebelas. Ia jadi bersekolah di JIS bersama Felicia sementara Jasmine harus pindah ke Surabaya karena ayahnya yang seorang anggota polisi dipindah tugaskan kesana. Dan Lily, harus bersekolah di Bandung karena memang sudah keinginannya sejak dulu.      "Hai Nadia," suara  laki-laki yang sedikit mengejutkan telinga  Nadia.      "Hai juga Kak Rama," balas gadis itu sambil tersenyum manis. Ini jam makan siang, mereka berdua sedang berada di kantin sekolah.      "Sendirian aja? Mana itu, si toa demo?" tanya Rama sarkas membuat Nadia tertawa geli.      "Sembarangan ih, ntar kena sembur Felice rasain," ujar Nadia santai sambil mengunyah nuggetnya.      "Santai aja. Udah kebal ini," kata Rama sambil menunjuk telinganya.      "Hihi, lagi ibadah dia," sahut  Nadia santai.      "Kamu nggak?" tanya Rama sambil menaikkan alisnya. Nadia menggeleng pelan.      "Biasa, cewek," ujarnya sambil tersenyum. Rama mengangguk-angguk faham.      "Tumben sendirian kak?" sambung Nadia heran karena tidak melihat para buntut Rama yang biasanya berjumlah lima orang  itu.      "Anak-anak lagi kena hukuman pak Roni," jawab Rama santai sebelum meneguk es teh manisnya.      "What? Why?"      "Apalagi, gara-gara mecahin bola basket," ujarnya sambil terkekeh.      "Ya ampun. Ganas-ganas banget yahh anak basket. Itu ring basket nggak sekalian di telan?  Ck." Nadia berdecak ringan membuat Rama terkekeh.      Laki-laki dihadapan Nadia adalah Ramadhansyah Adiputra, kelas dua belas. Sang leader team basket JIS yang sebenarnya sudah menyukai Nadia sejak gadis itu pertama kali menginjakkan kakinya di JIS. Rama sudah pernah mengutarakan isi hatinya. Namun waktu itu Nadia menolak dengan alasan dia masih siswa baru, masih kecil dan masih belum ingin terlibat  hal-hal semacam itu.      Hingga saat ini, laki-laki itu masih menyukai Nadia dan masih mengharapkan perasaan Nadia. Namun ia tidak menunjukkan keagresifannya karena khawatir Nadia malah menjauh. Bukan tanpa alasan. Rama pernah melakukan hal itu dan Nadia benar-benar menjauhinya. Nadia memang unik di mata Rama. Selain cantik dan cerdas, terbukti  dengan prestasinya yang sangat menyilaukan mata sejak duduk di kelas sepuluh, sikap Nadia yang tenang meskipun terkesan sedikit cuek justru menjadi daya tarik sendiri untuknya.      Sementara Nadia memang tidak ingin terlalu menanggapi perasaan Rama. Pertama, sejak awal memang Nadia tidak memiliki rasa ketertarikan apapun pada laki-laki yang sudah dua kali menyatakan perasaan padanya itu. Kedua, Nadia sama sekali tidak berminat menjalin  hubungan cinta atau apapun itu dimasa SMA. Ada mimpi dan cita-cita yang tinggi dihidupnya, dan ia tidak mau  ada yang menghalangi itu. Ketiga, Nadia hanya  memiliki rasa tertarik itu pada satu laki-laki. Dan yang membuatnya sesak ialah, laki- laki itu menjauh darinya.      Ya, Nadia dengan sangat sadar mengakui dalam hatinya bahwa ia hanya tertarik pada kakak lelakinya. Alvino Syahreza Aldrean. Awalnya ia ingin menampik semua rasa yang baginya tidak masuk akal itu. mungkin karena selama ini terlalu dekat, Nadia hanya merasa terlalu bergantung pada Alvin.       Tapi semakin hari Nadia sendiri merasakan bahwa hal itu bukan sekedar rasa sayang sebagai saudara. Nadia sendiri tidak tahu bagaimana. Bahkan ketika Rama mengungkapkan perasaannya, wajah Alvin seketika berkelebat dalam ingatan Nadia.      Nadia tahu, sangat tahu bahwa perasaan yang dia miliki untuk Alvin adalah hal yang terlarang. Itu sebabnya ia tidak sedikitpun mengakui kepada siapapun selain dirinya sendiri mengenai isi hatinya. Bagaimanapun, ia dan Alvin adalah saudara, meskipun bukan saudara kandung. Bahkan jika agama mengijinkan, masih ada nurani yang harus dia jaga. Yaitu, hati kedua orang  tuanya.      "Oii, hayoo pacaran nggak ngajak-ngajak gue." Terdengar suara melengking beberapa meter di belakang Nadia. Membuat Nadia dan Rama kompak mengamankan gendang telinga  mereka.      "Panjang umur nih bocah," ujar Rama dengan seringai jahilnya. Felicia kemudian mengambil tempat disamping Nadia.      “Anak aneh. Ya kali pacaran ngajak-ngajak,” desis Nadia.      "Apaan? Lo berdua pasti lagi gosipin gue ya. Uala beby, ya Tuhan terima kasih selalu menjadikan hamba topik pembahasan yang menarik buat orang-orang disekitarku," ujarnya dengan ekspresi seolah tengah berdoa dengan khusyuknya.      "Awwh." Gadis itu kembali bersuara dan meringis sambil mengusap dahinya yang terasa sakit akibat jitakan sendok seseorang. Siapa lagi pelakunya kalau bukan  Nadia.      "Lo yakin nggak salah masuk ruang ibadah tadi? Kenapa jadi makin gesrek sih," ujar Nadia sarkas, mau  tidak mau Rama pun terkekeh mendengarnya.      "Sembarangan lo ngatain gue gesrek. Gue udah berdoa banyak-banyak lho tadi supaya lo menang olimpiade minggu depan," kata Felice membuat Nadia tergelak.      "Eh alien, lo kenapa doain gue? Nggak doain diri lo sendiri?" "Gue bisa masuk semifinal aja udah happy Nad." "Ya kalo masuk," seloroh  Nadia santai membuat Felicia mendelik. Nadia segera menutup kedua telinganya diikuti Rama.      "Ihh, Nadia lo kok gitu siihhhh."      "Gimana ceritanya bisa betah sama ni bocah sih Nad?" tanya Rama memancing teriakan Felicia yang lain. Jujur saja, menggoda Felicia menjadi hiburan tersendiri bagi laki-laki itu.      "Eitt, untungnya aku nggak  pernah sebangku sama ni anak, Kak."      "Lo sih kejam Nad. Dari SMP sama gue, ehh duduknya milih sama Bella. Untung gue punya Davina." Nadia menyolek bibir manyun Felicia menggunakan sendok.      "Gue kira lo bakal milih sebangku sama Clause, secara lo kan fans beratnya si bule. Taunya melempem juga deket dia. Lo ngefans apa naksir sih Fel," ejek Nadia membuat wajah Felice memerah.      "Ih, merah Nad mukanya. Eh tunggu, maksudnya Clause ketua team angkatan kalian?" buru Rama sambil meledek Felicia. Nadia mengangguk. Seketika tawa Rama pecah.      "Kak Rama apa yang lucu?" tanya Felicia mengernyitkan dahinya, Nadia pun sama. Rama hanya semakin tertawa karena ia tahu, Clause sebenarnya menyukai Felicia. Hanya saja, untuk urusan cinta laki-laki itu bisa mendadak ciut nyali. Apalagi jika mengetahui saat Felice melihatnya sedang berlatih. Kegarangan saat bermain basket seperti menguap entah kemana. Untung saja Felicia belum pernah datang menonton jika ada pertandingan resmi.      "Ternyata dunia ini begitu  rumit," gumam Rama pelan.      "Maksud kakak?" buru Felice.      "Ah, bukan  Fel. Nanti pada saatnya lo juga tau."      "Ah terserah," sahut  Felice jengkel. Nadia menatap ke arah  Rama dengan pandangan bertanya. Ia harap firasatnya tidak salah. Namun  Rama hanya  tersenyum dan mengendikkan bahunya sebagai jawaban. Karena memang bukan kapasitasnya untuk mengatakan hal apapun.      "Balik kelas dulu, Kak. Bentar lagi bel," pamit Nadia. Rama mengangguk kemudian menatap Felicia dengan tatapan menggoda.      "Pindah bangku sama Clause nggak  pa-pa kali Fel. Kalau suka jangan malu."      "Kak Rama nyebelin," ujar Felice sambil berlalu setelah sebelumnya menjulurkan lidahnya pada kakak kelasnya itu. Rama hanya tersenyum geli sementara Nadia menggeleng ringan melihat keabsurdan sahabatnya itu.      "Tuh cowok masih ngedeketin lo Nad?" tanya Felice dari bangkunya yang memang berada di depan Nadia. Nadia menatapnya sejenak lalu hanya tersenyum sebagai jawabannya.      "Ditanya senyum-senyum doang. Emang lo beneran nggak punya rasa atau something gitu ke dia?" sambungnya lagi.      "Kenapa? Lo suka sma dia? Pangeran lo mau lo kemanain," goda Nadia sambil menaik turunkan alisnya membuat Felicie jengah.      "Gue serius Nadi. Maksud gue, dia tuh kurang apa sih sampai seorang Nadia sama sekali nggak kepincut sedikitpun. Ganteng, gentle, pinter juga, dari keluarga baik-baik nan terpandang. Gambaran sesempurna itu dan lo masih menolaknya? Dia bahkan definisi paling sempurna dari semua cowok yang pernah deketin lo sebelumnya. Emang cowok model  gimana sih yang lo cari, huh." Nadia mendesah pelan. Susah sih kalau berteman sama modelan Felicia yang otaknya cowok lagi cowok lagi.      "Ya kan nggak semua cowok sempurna harus gue milikin Fel. Lah kalau dasarnya gue nggak pengen, masa ia gue pura-pura terima dia? Kan kasihan dianya."      "Nadi, Nadi. Cinta bisa ada karena terbiasa,” kata Felicia sok puitis membuat Nadia berdecak.      "Makan tuh cinta. Udah ah Fel. Males gue lo ngomongin cowok mulu. Tuh cowok lo masuk noh," ujar Nadia santai sambil menunjukkan dagunya ke arah pintu. Tampak pangeran pujaan Felicia memasuki kelas.      "Nadiiii." Felicia melotot dengan wajah memerah yang membuat Nadia terkekeh.      "Lo berdua gosipin apa sih, seru amat," seloroh  Davina sembari duduk di samping Felicia. Bel masuk sudah berbunyi 3 menit yang lalu namun guru mereka yang terkenal sangat on time belum juga memasuki kelas.      "Eh, Nad lo abis kencan yah di kantin? Duhh, akhirnya lo luluh juga ya Nad," kikik Bella spontan. Ganti Nadia yang melotot.      "Kencan mbahmu." Ujung penggaris Nadia akhirnya mendarat sempurna di dahi mulus Bella, membuat sang empunya meringis.      "Filter mulut lo udah rusak apa? Sembarangan ngomong," kata Nadia membuat ketiga temannya terkekeh.      "Kata Felice, dari dulu lo nggak  pernah deket  sama cowok manapun karena punya kakak ganteng yang selalu melindungi lo," kata Davina santai. Nadia mendelik ke arah  Felicia.      “Penasaran dong Nad, gimana gantengnya kakak lo itu,” timpal Bela dengan wajah sok polosnya membuat Nadia jengah.      "Lo cerita apa aja, eh." Nadia menatap Felicia tajam, sementara yang ditanya hanya tersenyum tanpa dosa.      "Yahh gimana yaa, tapi sumpah deh. Sekarang kakak lo udah nggak disisi lo malah lonya yang nggak mau deket sama cowok."      "Udah, udah. Udah ada cowok dihati gue," kata Nadia final membuat ketiga geng rempongnya kompak menatapnya terkejut.      "Sumpah lo? Siapa?" buru Bella.      "A .... da aja. Kepo ih lo pada," jawab Nadia sambil menyeringai jahil.      "Ahh, nggak asyik lo," dengus Felicia. Percakapan mereka akhirnya terhenti karena mata pelajaran Kimia segera dimulai begitu Bu Wilda memasuki kelas.      "Selamat siang anak-anak," sapa beliau dengan ekspresi yang sulit diartikan. Tumpukan kertas ditangannya menjadi perhatian tersendiri bagi murid- muridnya.      "Siang buuuu......."      “Kenapa mendadak firasat gue nggak enak Nad,” celetuk Bella. Nadia hanya tersenyum tipis mendengarnya.      "Hari ini kita daily test," ujar Bu Wilda singkat tanpa berniat menerima protes.      "Whaaatttt???....." suara kompak dari seisi kelas yang berjumlah 32 siswa tersebut.      "Mampus..." seloroh Nadia and the geng.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN