Cinta, satu kata yang mampu membuat perasaan seseorang bagai menaiki roller coaster. Selalu datang tanpa kau minta, tanpa bisa kau tolak. Ia bisa datang dengan tiba-tiba, namun tak jarang hadir karena kebiasaan. Bagi sebagian orang, cinta bisa menjadi suatu kekuatan. Ia merubah duri menjadi mawar. Merubah penjara jadi istana. Mengubah sakit menjadi sehat. Bahkan, ia bisa mengubah iblis menjadi malaikat.
Sementara bagi beberapa orang lainnya, cinta adalah suatu kata tanpa definisi. Sekalipun telah diuraikan dengan panjang lebar, namun saat cinta itu datang semua uraian akan menguap begitu saja. Bahkan kata-katapun akan pecah berkeping-keping begitu ia sampai pada hal yang bernama cinta. Sampai difase ini, nyatanya cinta mampu membuat seseorang selaksa keledai bodoh yang berbaring dalam lumpur.
Sepasang tangan masih memegang erat beberapa peralatan untuk penelitiannya. Namum siapapun yang memandangnya pasti bisa menebak jika orang itu tak sepenuhnya fokus dengan apa yang tengah ia lakukan.
“Nadia. Hello,” seseorang mengibaskan tangannya dihadapan gadis itu. Membuat Nadia mengerjapkan mata beberapa kali.
“Eh?”
“Lo ngelamun?”
Yang ditanya justru hanya tersenyum simpul, “Nggak kok,”
“Nggak salah. Dari tadi lo udah dilihatin Prof. Anne tuh,” ujar Andini serius.
“Serius lo?” kini Nadia yang melotot.
“Muka gue kelihatan lagi bercanda?”
Nadia mendadak panik. Saat ini gadis itu tengah melakukan penelitian untuk menyelesaikan skripsinya. Dan profesor Anne adalah pembimbingnya. Ia memang tidak sendirian, tapi Nadia tahu pembimbingnya itu akan sangat memperhatikan mahasiswanya.
“Duh, Din. Gue nggak bikin ngelakuin hal-hal b**o kan tadi?”
“Enggak sih, Cuma hampir nyiram paha gue pake sianida,” Andini nyengir kuda. Untung saja tadi dia sedang dalam mode sigap sehingga bisa menghindar dari keteledoran teman dekatnya itu.
“Kita akhiri praktikum hari ini. Nadia, kamu bisa datang ke ruangan saya?” suara Profesor Anne membuyarkan konsentrasi para mahasiswa disitu. Pandangan mereka sepenuhnya menghadap pada gadis kandidiat calon wisudawan terbaik itu.
“Ba-baik, Prof,” sahut Nadia terbata. Ia seketika melongo sambil menatap Andini sementara yang ditatap hanya mengangkat bahunya acuh.
“Selamat menikmati,” ledeknya. Kedua bergegas mengemasi perlengkapan penelitian. Dengan langkah tergesa Nadia memasuki ruangan Profesor Anne di lantai empat.
Tok, tok!
“Masuk,” suara dingin dari dalam.
“Permisi, Prof.” Nadia menghadap dengan wajah tertunduk.
“Duduk, Nadia,” Nadia menurut dan mengambil posisi duduk di hadaan pembimbing yang sangAt diseganinya itu.
“Langsung saja, ada apa dengan kamu hari ini Nadia? Kamu sepertinya kehilangan fokus akhir-akhir ini?”
“Maafkan saya, Prof,” jawab Nadia dengan masih tertunduk.
“Kamu tahu bukan jawaban itu yang saya inginkan,”
“Saya ... saya mengerti, Prof. Tetapi, maaf. Mungkin saya sedikit kelelahan beberapa hari belakangan,” jelas Nadia sedikit berbohong. Ia memang kelelahan tapi bukan karena penelitiannya. Lebih tepatnya, hatinya yang lelah.
“Nadia, bukannya saya tidak mau mengerti. Tapi jujur harus saya katakan kalau kamu itu salah satu harapan terbesar saya semester ini,” aku Profesor Anne.
“Saya mengerti, Prof,” ujar Nadia lirih.
“Kamu bisa menceritakan pada saya jika memang ada masalah,”
“Bukan, Prof ... hanya,”
“Kamu mau beristirahat dulu? Atau kamu merasa tema yang kamu ambil terlalu berat? Bagaimana kalau kamu ganti tema?” potong Profesor Anne cepat. Nadia menggeleng cepat. Penelitiannya sudah jalan dua per tiga bagian. Bisa gila dia kalau mendadak ganti tema.
“Tidak perlu, Prof. Saya hanya butuh istirahat satu atau dua hari saja,” ucap Nadia yakin.
“Kamu yakin, Nadia?” gadis itu mengangguk pasti.
“Baik kalau begitu. Kamu boleh keluar,” suara profesor muda itu sudah tidak sedingin sebelumnya. Nadia undur diri setelah berpamitan. Sesampainya di lobi fakultas ternyata Andini sudah menunggunya.
“Lo mau ngomelin gue juga?” tanya Nadia dengan nada merendah. Andini menggeleng cepat.
“Kok cepet? Gue kira lo bakal di ceramahin tujuh turunan tujuh tanjakan tujuh hari tujuh malem,” kikinya. Nadia hanya tersenyum miring.
“Lo berisik banget, sumpah. Ngalahin Felicia,” sungut Nadia.
Andini terkekeh, “Kantin yuk, Nad.” Nadia mengangguk.
“Lo ngelamun apa sih tadi Nad? Eh, bukan Cuma tadi, akhir-akhir ini gue lihat lo sering banget bengong,” tanya Andini begitu keduanya menghempaskan p****t di bangku kantin.
Nadia menghela nafas lemah. Perasaannya begitu sesak. Ia butuh tempat untuk bercerita, hanya saja Nadia tidak yakin untuk menceritakan kegundahan hatinya pada orang lain. Namun jika ditahan sendiri ia tidak yakin sejauh mana ia akan mampu bertahan.
“Nad,” suara Andini kembali menginterupsi telinganya. Nadia memangku dagunya dengan sebelah tangan.
“Din, lo pernah suka sama seseorang?” Pertanyaan yang tidak terduga itu nyaris membuat Andini menyembur. Namun urung dilakukannya ketika melihat raut wajah Nadia yang sekalut itu.
“Lo lost fokus gara-gara cowok? Sejak kapan, Nad?” tanya Andin yang terdengar setengah mengejek. Namun, memang begitulah nada bicara gadis itu.
Baru saja Nadia akan bersuara, ponselnya berdering. Nadia seketika membatu melihat nama yang terpampang dilayarnya.
“Nad,” panggil Andin.
“Eh?”
“Handphone lo bunyi tuh, kok malah diem?” tanya Andin.
“Eh, iya.” Nadia menggeser tombol hijau. Ia berusaha sedemikian keras menahan agar tangannya tidak bergetar. Mengingat dentaman dijantungnya begitu keras terasa.
“Halo,”
“Hallo, De’. Kamu lagi dimana?” tanya suara dari seberang. Ia berusaha menutupi kegugupannya ketika mendengar suara Nadia yang mampu memporak-porandakan hatinya.
“Lagi dikampus, Kak. Kenapa?” tanya Nadia dengan tak kalah gugup. Namun sekaligus penasaran. Ini adalah kali pertama kakaknya itu meneleponnya secara pribadi.
“Kirain dirumah. Kak Alvin coba hubungi Papah sama Mamah nggak bisa. Kenapa ya?” Ekspresi Nadia seketika berubah mengernyit.
“Eng ... mungkin di kantor lagi sibuk, Kak. Kalau Mamah, Nadia nggak tahu sih. Mungkin lagi arisan. Emang ada apa, Kak?”
“Yaudah, tolong bilang ke Papah sama Mamah ya, Nad. Hari ini kakak terbang ke Zurich. Niatnya sih mau pamit tapi pada nggak bisa dihubungin,” jelas Alvin. Nadia manggut-manggut sementara Andini menatapnya aneh.
“Iya, nanti Nadia bilangin,”
“Makasih ya, Nad. Kak Alvin tutup dulu. Bye,”
“Iya, Kak. Bye,”
Klik! Sambungan terputus. Nadia menghela nafasnya yang tercekat. Ada perasaan sedikit tidak rela Alvin mengakhiri panggilan secepat itu. Ia tidak memungkiri ada perasaan bahagia mendapat telepon pertama dari kakaknya itu setelah sekian tahun. Namun, Nadia merasa Alvin tidak seperti yang dulu. Alvin yang selalu jahil dan hangat padanya. Perasaan sakit itu kembali muncul manakala ingatannya berputar pada saat hari kepergian Alvin ke Paris.
“Siapa? Kakak lo?” tanya Andin begitu Nadia meletakkan ponselnya. Nadia mengangguk.
“Habis telepon Mamah sama Papah tapi katanya nggak bisa,” jawab Nadia. Andini ber oh ria.
“Abang lo jarang pulang ya Nad?” tanyanya seraya mencomot pempek goreng dihadapannya.
“Bukan jarang lagi. Belum pulang sama sekali malahan dia,” tukas Nadia santai. Jika membicarakan perihal kepulangan kakaknya Nadia justru bisa mengabaikan perasaannya.
“Eh? Serius lo? Sekian tahun? Kalah dong Bang Toyib,” Andini mendelik yang dijawab senyuman miring oleh Nadia.
“Betah juga ya. Emang nggak kangen sama keluarga? Terutama sama adek yang kemana-mana selalu sama dia ini,” ujar Andini menjawil dagu Nadia.
“Lo tanya sendiri sama orangnya.”
“Ogah, orang dingin gitu,” celetuk Andini. Nadia terkekeh pelan. Ia jadi memikirkan ucapan temannya itu. Apa memang Alvin tidak merindukannya?
Sementara nun jauh disana, Alvin masih berjuang keras menormalkan detak jantungnya yang sempat memburu. Mendengar suara lembut Nadia nyaris membuat pertahanannya luntur. Awalnya, Alvin terpaksa menghubungi Nadia karena ia kehabisan cara untuk menghubungi kedua orang tuanya. Namun tak bisa dipungkiri bahwa ia sendiri begitu merindukan adiknya itu. Ada perasaan membuncah dalam hatinya yang membuatnya mengulas senyum.
Memendam cinta dan rindu dalam waktu yang lama bukanlah perkara gampang. Mungkin saat ini kamu merasa hatimu telah tertaut pada sebuah nama yang membuat harimu tak lagi sama. Mengagumi dari jauh, saling mendoakan dalam diam hanyalah segelintir cerita yang akan kamu lalui setiap hari. Terlepas dari segala kegalauan yang menerpa, ada hal lain yang terasah ketika kamu lebih memilih untuk menutup rapat perasaanmu. Keberanian. Mencintai dalam diam bukanlah suatu tindakan pengecut, melainkan sebuah tindakan paling berani yang tidak semua orang akan berani melakukannya.
Hal itu pula yang tengah dialami Alvin dan juga Nadia. Namun untuk saat ini mungkin itu adalah keputusan yang terbaik. Kelak jika mereka memutuskan untuk saling menyatukan, mereka telah siap apabila ada hal lain yang harus dikorbankan. Sementara ini, baik Alvin maupun Nadia memilih mengorbankan perasaannya masing-masing.