Bab 14

1051 Kata
Usia kandungan Mauren kini sudah masuk bulan ke lima dan perutnya pun kini sudah membuncit. "Sayang nanti sore mau check up kan" ucap Aryan sambil menikmati sarapannya. "Hhmmm.... iya..." angguk Mauren. "Ya sudah nanti aku pulang cepat" ucap Aryan. "Bener ya..." ucap Mauren. "Iya sayangku, ya sudah aku berangkat ya" ucap Aryan ia pun melumat bibir sang istri. "Iihhh dasar biang mesum..." omel Mauren seraya memukul tangan suaminya. "Kalau aku gak m***m gak akan jadi ini" Aryan tertawa seraya mengusap perut Mauren. "Udah sana berangkat nanti kesiangan" ucap Mauren. "Iyaaa.... kamu juga mandi sana, bau iler tau udah berapa hari kamu gak mandi" ucap Aryan. Memang Mauren beberapa minggu ini sangat malas mandi bahkan ia tak akan mandi apabila tidak keluar rumah membuat seisi rumah menggelengkan kepalanya melihat kelakuan perempuan tersebut. "Malas ah nanti aja, hati-hati yank" ucap Mauren mengecup pipi Aryan. Setelah Aryan pergi Mauren pun kembali masuk kamar dan berbaring di ranjangnya bermalas-malasan. "Non...." panggil bi Surti. "Iya bi....." Mauren keluar dari kamarnya. "Itu non ada temannya" ucap Surti. "Siapa bi" tanya Mauren. "Itu loh non Michelle sama non Ule" ucap Surti lagi. "Oh ya sudah nanti Mauren turun" ucap Mauren. Mauren segera turun dari kamarnya. "Haiii.... ada apaan nih tumben banget ke sini" ucap Mauren. "Gak boleh ya kami ke rumah lo, kita kangen lagi Ren" ucap Michelle. "Eh tunggu lo belum mandi ya, sejak kapan lo jadi pemalas gini" ucap Ule menatap sang sahabat yang terlihat berantakan. "Gak tau juga nih, gue akhir-akhir ini malas banget buat ngapa-ngapain pengen tiduran aja kerjaannya" ucap Mauren. "Laki lo gak risih lihat lo kaya gini" ucap Michelle. "Gak tau tapi dia gak pernah protes sih" ucap Mauren. "Bawaan baby kali tuh kata orang nih ya kalo bumil suka malas-malasan biasanya babynya cowok" ucap Ule. "Gitu ya, gue belum USG juga sih Aryan gak mau, katanya biar jadi kejutan" ucap Mauren. "Eh bye the way ini rumah tumben banget sepi mana nih mertua gaul lo" ucap Michelle. "Ada-ada aja lo ngatain mertua gue, mama lagi ke Surabaya sama papa ada meeting gitu tapi malam ini juga udah pulang ko" ucap Mauren. "Yuk mending kita ngobrol di belakang aja santai-santai dari pada disini" ucap Mauren. Ketiganya berbicara banyak hal hingga siang hari barulah mereka pulang dan Mauren kembali ke kamarnya untuk kembali bermalas-malasan. Sore hari Aryan yang baru pulang dari kantor mencari istrinya. "Mauren mana bi" tanya Aryan. "Di kamar den gak keluar lagi setelah teman-temannya pulang" ucap Surti. "Emang siapa yang datang tadi" tanya Aryan. "Non Michelle dan non Ule den" ucap Surti lagi. "Oh... ya sudah saya ke atas dulu bi" ucap Aryan. Pria tampan itu masuk ke kamarnya dilihatnya Mauren yang sedang tertidur. "Sayang.... bangun yuk...." ucap Aryan, ia membangunkan Mauren diciumnya lengan telanjang perempuan itu. "Eeemmhhh... jam berapa ini" ucap Mauren seraya menatap Aryan. "Jam empat ayo bangun mandi dulu, pasti belum mandi dari pagi nih" ucap Aryan. "Iya malas yank...." ucap Mauren yang kembali beraksi menciumi ketiak suaminya. "Yuk bangun sayang.... ayo ah jangan malas" ucap Aryan. "Mandiin...." ucap Mauren manja. "Ya sudah ayo" Aryan mengangkat Mauren ke kamar mandi dan keduanya pun mandi bersama dan hanya benar-benar mandi. Mauren dan Aryan memasuki rumah sakit untuk melakukan check up. "Selamat sore bu Mauren gimana apa ada keluhan akhir-akhir ini" tanya dokter Ayu. "Gak ada sih dok aman-aman aja" ucap Mauren. "Apaan aman-aman aja, dia suka malas-malasan dok dan sering gak mandi" ucap Aryan. "Oh gak papa itu pak, itu bagian dari hormon kehamilan alias bawaan baby, ya sudah mari bu Mauren kita periksa dulu" ucap dokter Ayu. Setelah melakukan pemerikasaan terhadap babynya Mauren dan Aryan segera pulang. "Mama.... ko udah pulang bukannya malam ya katanya mau pulang" ucap  Aryan yang melihat mamanya sedang duduk nonton tv. "Papa kamu ngajakin balik cepat, kalian dari mana" ucap Nancy. "Dari dokter mah check up" ucap Mauren. "Oohh.. gimana cucu mama sehatkan" tanya Nancy. "Sehat mah gak ada masalah, masalahnya cuma satu mamanya malas mandi" ucap Aryan seraya mendelik pada Mauren. "Apaan sih biarin, kalau kamu gak suka gak usah dekat-dekat aku" ucap Mauren kesal dan ia segera masuk ke kamarnya. "Yah alamat deh mah ngambek" ucap Aryan. "Kamu juga sih suka banget godain Mauren udah tau dia ambekan masih aja digodain" ucap Nancy tertawa. "Gemesin sih mah makanya Aryan suka" ucap Aryan. Aryan meninggalkan mamanya dan masuk ke kamarnya. "Sayang.... maaf ya aku cuma bercanda masa kamu marah sih" ucap Aryan. "Siapa yang marah, aku gak marah" ucap Mauren ketus. "Nah tuh ngomongnya ketus banget berarti marah tuh" ucap Aryan. "Iiihh aku gak marah aku kesell" ucap Mauren. "Iya-iya maaf ya sayang ya... maafin ya" ucap Aryan, ia memeluk Mauren dan mencium puncak kepalanya. "Yank... buka baju kamu ya" ucap Mauren menatap Aryan. "Ngapain..." tanya Aryan. "Pengen ini" ucap Mauren menunjuk ketiak Aryan. "Hhh.... iya...." Aryan membuka bajunya lalu berbaring dan Mauren pun langsung menelusupkan kepalanya menciumi ketiaknya hingga keduanya terlelap. Pukul delapan malam Aryan terbangun dan ia melepaskan pelukan Mauren lalu mengenakan bajunya lalu turun dari kamarnya. "Ar.... apa kabar" ucap Leni orang tua Shilla yang datang bertamu bersama suaminya dan sedang berbincang bersama Nancy juga Chandra. "Baik tante" ucap Aryan. "Bisa kita bicara sebentar Ar" ucap Ari ayahnya Shilla. "Boleh om" ucap Aryan sambil duduk. "Begini Ar kami datang ke sini ingin minta kamu untuk menjenguk Shilla dia sakit dan dia selalu mengigau memanggil nama kamu" ucap Ari. "Kenapa harus Aryan sih om" ucap Aryan yang mulai tidak nyaman. "Ar Shilla dia masih memerlukan kamu dia masih mengharapkan kamu, keputusan dia melarikan diri saat pernikahan kalian adalah kesalahan terbesarnya dan dia menyesali itu...." ucap Leni. "Cukup mba, tidak sepantasnya mba berbicara seperti itu Aryan sudah bahagia bersama Mauren dan sangat tidak pantas untuk Shilla mengaharapkan suami orang" ucap Nancy marah. "Tapi Nan Shilla sakit dia memerlukan Aryan" ucap Leni. "Kenapa tidak Vico saja yang kalian mintai tolong bukankah waktu itu dia lari bersama Vico" ucap Nancy. "Mah..." ucap Chandra menegur. "Biar saja pah" ucap Nancy yang sangat membela menantunya. "Tapi Shilla membutuhkan Aryan Nan bukan Vico" ucap Leni lagi. "Silahkan keluar dari rumah kami dan Aryan tidak akan melakukan apapun untuk Shilla" ucap Nancy yang dikuasai rasa marahnya. "Ar tolong tante Ar demi rasa cinta yang pernah ada antara kamu dan Shilla jenguk dia" ucap Leni sambil berdiri. "Kalau ada waktu akan Aryan usahakan tante" ucap Aryan yang tak tega mendengar permohonan Leni. Dan dari atas sana Mauren mendengar dengan jelas apa yang dikatakan suaminya, ia menekan rasa sesak di dadanya dan berlari masuk kamar. "Apa-apaan sih kamu Ar, bagaimana kalau sampai Mauren tau" omel Nancy. "Dia gak akan tau kalau mama gak ngasih tau" ucap Aryan. "Ingat Ar istrimu itu sedang hamil dia lebih memerlukan perhatian kamu" ucap Nancy. "Iya Aryan tau mah" ucap Aryan. "Kalau sampai ada apa-apa sama Mauren dan bayinya mama gak akan maafin kamu" ucap Nancy marah dan berlalu dari hadapan Aryan. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN