Satu tahun lagi berjalan, aku masih tetap dengan perasaan yang sama, tetapi kita telah satu tahun pula tidak saling menyapa. Tidak pernah kudengar suaramu via telepon, atau sekedar menggetarkan ponsel nokiaku. Tidak ada sama sekali, sebuah kata manis yang kamu perjuangkan, Mas. Mungkin kamu sudah lupa, tetapi perasaanku justru semakin menggebu setiap harinya. Terkadang aku menyesal, aku ingin memilikimu tetapi aku ingat kembali seragammu dan aku sedikit benci.
Hari-hari berjalan lagi, semakin lama-semakin lama, orang-orang berusaha menyadarkanku akan kecintaan terhadap negeri, termasuk Dewi yang tanpa lelah memberiku buku-buku bertema nasionalisme dan kehidupan sejarah, tetapi aku belum berniat.
"Kamu nggak apa-apa deh nggak jatuh cinta lagi sama Mas Dipta, tapi jangan sampai kehilangan rasa , nasionalismemu, itu kebodohan, Tika," ucap Dewi dua hari yang lalu. "Memang apa tujuanmu mengambil jurusan keguruan? Bukan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, to?"
Aku diam.
"Bagaimana negara ini mau maju jika murid-muridnya punya guru yang tidak memiliki rasa nasionalisme?"
Kembali lagi hanya diam. Terserah apa mau dikata.
Hari ini aku wisuda, Mas. Mungkin kamu tidak tahu, tapi aku coba untuk memberitahumu melalui tulisan ini, aku juga harus mengakui bahwa perasaanku ternyata tidak mudah mati. Aku tahu percuma, toh kamu juga tidak akan datang, kamu juga sudah menghilang, kamu pun sudah menyerah atas diriku.
Terlepas dari perasaanku, aku senang Mas Dipta akhirnya menyerah atas diriku. Memang lebih baik begitu, aku yang jauh dari kata sempurna untuk jadi Ibu Persit ini memang tidak pantas mendampingi Mas Dipta. Selamat berbahagia, Mas.
Tetapi, tulisan yang awalnya aku hentikan ini tiba-tiba berubah. Kamu datang dengan seragam dan baretmu, lengkap, tanpa kurang suatu apa pun. Berdiri di tengah-tengah keramaian, membawa megaphone dan mengatakan, "Aku sungguh tidak perlu perempuan yang mencintai negeri ini mati-matian, aku butuh seseorang yang menyambutku saat pulang. Aku tidak butuh perempuan yang berjiwa nasionalisme tinggi hingga orang-orang terkagum-kagum, aku hanya perlu rumah untukku kembali. Nasionalisme, aku bisa mengajarkan padanya agar dia jatuh cinta pada negeri ini, tetapi aku tidak bisa membuatnya jatuh cinta padaku. Berhubung aku tahu kamu tidak memiliki nasionalisme tetapi cintamu padaku tak mudah padam, aku mau kamu yang mendampingiku, menjadi rumah tempatku kembali, Kartika Rahma Sakia, Sarjana Pendidikan."
Semua mata tertuju padaku, aku yang sudah menitikkan air mata.
"Kamu hanya perlu mencintaiku karena itu yang aku mau Kartika Rahma Sakia, maukah kamu menjadi istriku?"
Aku berlari pergi, dan kamu mengejarku.
"Kartika, aku tahu kamu masih mencintaiku, dan aku pun sama. Aku sungguh ingin menikahimu, tolong lihat aku sebagai seorang laki-laki, bukan sebagai seorang tentara."
"Mas, bagaimana pun, aku harus menerima semua yang ada pada dirimu, tapi tidak dengan seragammu dan semua risiko yang mengikutinya."
"Apakah perasaanmu begitu memperdulikan seragam?"
Aku mengangguk.
"Tolong, tolong jujur pada hatimu. Apa kamu mau menikah denganku atau memang mau melepasku? Tolong gunakan hatimu, Tika. Jangan hanya pikiran dan kebencianmu."
Aku menatapmu begitu lekat dan entah setan mana yang ada di sebelahmu, tiba-tiba kamu memelukku dan mencium keningku singkat. Masih, getarannya masih sama, Mas.
"Tika, aku belum pernah segila ini, tapi kamu berhasil membuatku gila. Oke, baik, aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa ini yang terakhir kali memintamu. Aku tidak bisa selalu egois dan memaksamu, aku juga tidak ingin mempertaruhkan impianku untuk menjadi pejuang. Terima kasih, maaf karena telah mendaratkan kecupan di keningmu, mungkin banyak orang melihatnya."
Kamu berbalik dan hendak pergi.
"Mas, kamu tahu? Tidak mudah melupakanmu, tidak mudah menyerah atas dirimu, dan aku tidak bisa," kataku membuat langkahmu terhenti. "Aku benci dengan sergammu, tetapi aku tidak bisa membencimu. Aku harus bagaimana?" tangisku sudah amat sesak.
Kamu berbalik lagi.
"Aku masih mencintaimu, masih, sangat."
Tersenyum. "Aku tahu. Maka beri aku kesempatan lebih banyak untuk memilikimu, meski tidak sebanyak orang lain, Tika. Izinkan aku memelukmu meski waktuku memelukmu tidak sebanyak orang lain. Izinkan aku menyentuhmu meski pulangku tidak sesering orang lain. Tika, meskipun tidak banyak waktu, aku akan memberimu cinta lebih dari orang lain mencintaimu. Menikahlah denganku, jangan berlari."
"Aku menyerah, Mas. Aku menyerah akan usahaku untuk melupakanmu."
Semarang, 12 April 2009
Yang Mencintaimu,
Kartika Rahma Sakia