Awal tahun 2010, di mana aku memutuskan untuk memilihmu. Ternyata perasaan kita memang tidak untuk dipadamkan, Mas. Dia masih kuat sejauh apa pun kita dipisahkan, sejauh apa pun aku berlari, dan sekuat apa pun aku berusaha melemparnya pergi, dia tetap sama. Aku mulai percaya, cinta bukan hanya karena terbiasa, sebab cinta memang akan menemukan jalannya sendiri.
Di hari bahagia ini, sebelum kita dipertemukan di depan penghulu, aku telah mengucap janji yang tidak diketahui oleh orang lain, hanya aku dan Allah Swt. Bagaimana pun kondisimu nanti, seberapa pun beratnya mendampingimu, seberapa lama pun aku kamu tinggalkan, aku akan menunggumu di rumah, tidak akan pergi dan tidak akan menyerah meskipun aku ingin. Aku juga berjanji akan belajar mencintai negeri ini sebagaimana kamu begitu mencintainya, Mas. Karenamu aku akan melakukan semuanya, seperti katamu ketika melamarku, "Cinta akan mengalahkan emosi, mengalahkan benci, melunakkan ego, cinta akan mengalahkan semuanya. Kita adalah buktinya bahwa cinta telah menyatukan kita meski kita belajar saling membenci, meski kita menahan emosi, meski kita memiliki ego yang kuat masing-masing."
Iya, Mas. Cinta akan mengalahkan semua perasaann yang kita miliki, mengalahkan sikap keras yang kita miliki. Ya, aku akan banyak belajar dari itu dan menjadi istri yang baik untukmu. Aku belajar untuk tidak mengeluh terlalu banyak, kamu harus tahu bahwa denganmu aku bahagia. Kamu tidak perlu tahu ketika kamu pergi aku selalu menangis, ketika kamu bertugas senyumku lenyap, nantinya kamu tidak perlu tahu itu, semoga aku bisa menepati janjiku nanti.
Tidak ada k*****s yang indah dari perasaan kita, sejak awal kita memang ditakdirkan bersama meski aku selalu mencoba pergi. Itu adalah sesuatu hal yang aku syukuri. Sangat, Mas. Suatu saat kamu perlu tahu soal ini.
Kamu terus tersenyum sepanjang hari di sampingku, bukan senyum yang hanya segaris, tetapi senyum lebar memamerkan gigi rapimu. Percayalah senyum bahagiamu tak hanya sendirian, aku selalu mengikuti senyummu, karena aku juga bahagia hari ini, Mas.
"Hah, setelah gue harus bolak-balik Jogja-Semarang, akhirnya!" jerit Dewi tepat di depan pelaminan.
"Makasih ya, Wi. Nggak sia-sia Jogja-Semarang hampir setiap minggu," katamu.
"Ya, demi temen yang suka bohong sama dirinya sendiri. Lihat, seberapa jauh kamu bisa berbohong?" Melirikku.
"Ya, aku kalah. Aku memang tidak bisa berbohong," balasku.
"Tapi aku tahu kamu selalu bisa berpura-pura bahagia. Apa pun yang terjadi nanti, kalau harus menangis, menangislah. Tidak perlu pura-pura tersenyum. Hidup memang tidak selalu bahagia, jadi jangan dipaksa. Kalau ditinggal suamimu pergi tugas, kamu sedih dan harus nangis, ya, nangis aja. Asal nggak merengek-rengek minta dia nggak pergi perang," katanya hanya kubalas dengan senyum.
Aku tidak tahu nanti akan jadi seperti apa. Aku sudah berjanji untuk selalu bahagia.
"Selamat ya sekali lagi, Mas Dipta, Tika. Aku bener-bener titip Tika sama kamu, Mas. Jangan sampai dimadu, kalau sampai dimadu, aku masih bisa bela diri, gelut yo ayo gelut!"
"Tidak akan, Dewi. Mendapatkan dia saja kamu tahu bagaimana susahnya, mana mungkin aku menduakan dia? Aku belum gila," balasmu.
"Bagus!" katanya mengacungkan jempol lalu pergi.
Beratnya perasaan yang kita miliki seharusnya membuat kita lebih kuat mulai hari ini. Pikirku begitu, Mas. Tidak tahu kamu setuju atau tidak.
Hari ini, aku telah resmi menjadi istrimu. Semoga ini adalah akhir dari semua keluhan yang aku tuliskan. Sebab artinya aku telah berubah menjadi seseorang yang pandai bersyukur. Artinya juga kita sudah selalu bahagia, tidak ada lagi yang perlu dicurahkan dengan kesedihan. Aku sungguh berharap akan itu, Mas. Biarlah bacaanmu suatu saat nanti hanya sampai di sini, sampai pada dekapmu malam ini.
Boyolali, 17 Januari 2010
Istrimu,
Kartika Rahma Sakia