Hari ketiga aku bergelar sebagai Nyonya Adipta Prastiyo, istri sahmu, Mas. Hari ini kita selesai melaksanakan acara ngunduh mantu, kita seharusnya berangkat bulan madu esok hari. Sekedar menyewa vila di Tawangmangu, Karanganyar pun aku mau, Mas. Sekedar menyewa vila di Selo, Boyolali pun aku juga mau. Tidak perlu pergi ke Seoul, Korea Selatan, tidak pula ke Hawaii, atau bahkan ke Bali saja tidak perlu. Yang terpenting adalah adanya waktu untuk kita menikmati kebersamaan yang baru saja kita rayakan. Sayangnya, Mas, aku hanyalah istri yang tidak tahu malu, meminta belas kasih negara dalam diamku. Aku sudah berjanji tak akan memprotes apalagi mengeluh. Tak apa, aku tak punya banyak waktu denganmu. Asal perasaanku masih memiliki pemiliknya dengan halal.
Malam ini biar kuhabiskan saja malamku dengan menatapmu, aku harus puas memandangmu malam ini hingga pagi, sebab akan butuh berbulan-bulan lagi untuk menatap wajahmu di bawah remang kamar kita. Esok siang kamu harus kembali ke tempat tugasmu, habis sudah waktu cuti yang diberikan, memaksa kita tak seperti pengantin pada umumnya.
Mas, sejujurnya aku iri pada teman-temanku, yang masih bisa pamer kemesraan dalam cerita berjudul Bulan Madu, sementara aku hanya bisa bersamamu tiga hari, itu pun terlalu sibuk pada urusan pernikahan kita. Aku iri pada mereka yang masih bisa memeluk suaminya di satu minggu pernikahannya. Aku iri tetapi aku tidak ingin, aku telah berjanji. Iri hanya akan membawaku pada keluhan-keluhan tak berujung.
"Dik, mau sampai jam berapa lihatin Mas kaya gitu?" tanyamu dengan mata tertutup, kemudian merengkuhku dalam pelukanmu. Hangat, sama seperti senyum dan tatapanmu padaku.
"Sampai besok pagi, mubadzir kalau pemandangan indah dibiarkan begitu saja," jawabku mengusap pipimu.
"Kalau begitu nikmati sesukamu."
Kamu terlelap sembari memelukku, sementara aku masih terus menikmati setiap guratan wajahmu di balik remang. Hingga subuh tiba, aku baru membangunkanmu untuk ke masjid. Aku sanggup tidak tidur dan hanya menatap wajahmu? Mungkin wajahmu mengandung kafeina, Mas. Sehingga membuatku kesulitan memejamkan mata.
Menjelang siang, aku membantumu merpikan baju-baju, sementara kamu mulai memberikan petuahmu untukku. Apa saja?
"Jangan lupa mendoakan suamimu usai salat, tetaplah menjaga kehormatan suamimu sebagaimana kamu menjaga kehormatanmu. Tunggulah aku dan jangann berpaling, masa itu akan datang, di mana kita akan saling memeluk setiap harinya, semau kita, tanpa gangguan negara. Bersabarlah, biarkan suamimu mengabdi pada negaramu, ia telah mewakilkan Tuhan untuk memberimu nikmat tinggal di sini."
Aku mengangguk. Aku bisa saja mengeluh dan menangis, tetapi aku tidak ingin. Kamu harus pergi dengan senyumku yang menyimpul sempurna, agar kamu pun tak merasa berat meninggalkanku, Mas. Meskipun hatiku meronta-ronta.
"Kamu istirahat saja di rumah nanti, ya?"
"Tidak mau. Harus antar ke bandara dong, Mas."
"Kamu nggak capek? Semalam kamu tidak tidur, Dik."
"Ndak apa-apa, bisa tidur di jalan pulang nanti."
Menikmati jalan panjang menuju Bandara Adi Soemarmo bersamamu, seperti menikmati hari-hari sebelum rindu ini membeku. Entah kapan dapat dicairkan dengan temu, entah kapan aku dapat memelukmu lagi, entah kapan negara memberi sedikit belas kasihnya. Aku akan terus bertanya meski tak tahu kapan mendapatkan jawabnya. Aku juga akan belajar untuk tidak mengeluh, sesuai dengan janjiku. Toh, aku hanya akan menunggu.
Di bandara, aku hanya bisa mengucapkan sampai jumpa lagi, sebab yang tertahan hanyalah air mata. Ia memaksa untuk menjelaskan ketidakikhlasanku apabila mulutku terus berbicara banyak hal denganmu. Maka, kubiarkan dirimu pergi begitu saja tanpa kalimat manis dariku. Sekedar, sampai jumpa lagi di lain kesempatan. Kemudian menyaksikan punggungmu menghilang.
Aku akan sangat merindukanmu, Mas. Percayalah.
Boyolali, 20 Januari 2010
Yang Kau Tinggalkan,
Kartika Rahma Sakia