Benar, Mas. Aku melewatkan satu tahun setengah yang kita jalani dengan bentang jarak yang panjang. Keinginanmu pulang tahun lalu harus diurungkan oleh sebab biaya kepulangan yang tidak sesuai dengan gajimu. Kamu harus mengumpulkan receh demi receh, tapi syukur, kebijakan presiden yang baru memberi tentara angin yang segar. Sedikit kenaikan gaji, tunjangan, dan berbagai fassilitas yang lebih baik. Meskipun aku tahu, tak cukup semua itu untuk membalas para pejuang.
Aku juga bersyukur atas reformasi yang telah dijalankan, meskipun tidak juga mengurangi tugas seorang tentara, yang pasti, tidak ada kebijakan yang dapat menciptakan tentara berhati kejam. Setelah banyaknya p*********n di masa orde baru yang cukup mengerikan, keterlibatan tentara dan para pejuang lainnya. Entah berstatus korban, atau mungkin dituduh sebagai tersangka.
Dan hari ini, aku tulis lagi apa yang kita alami, dikarenakan kepulanganmu yang telah lama aku nantikan.
Kepulanganmu seharusnya merupakan kabar yang menggembirakan, tetapi menjadi sesuatu yang menakutkan pun membingungkan bagiku. Kurasa, aku tidak bisa berteman dengan jarak dan bersaudara dengan kerinduan terlalu lama, Mas. Kuakui, aku memang terlalu lemah, aku ingin kuat untukmu, tetapi sekali lagi, kenyataannya aku memang begitu lemah.
Pagi ini kamu menjemputku di rumah, setelah hari sebelumnya kamu sibukkan dengan menemui keluargamu. Kita dalam perjalanan menuju Kota Tua Semarang, tempat yang paling kamu sukai dengan arsitektur khas zaman kolonial. Beberapa bangunan juga terkesan klasik. Dan sepanjang perjalanan ini, aku hanya ingin kembali ke rumah, lalu mengatakan padamu bahwa kita harus berhenti sebelum saling melukai.
Sampai di Kota Lama dengan senyummu yang selalu kurindukan, tapi kenapa rasanya begitu hambar, tidak meneduhkan, lebih terkesan terlalu dingin di tengah kemarau? Kenapa bisa di saat rasa kita masih sama saja, Mas.
"Akhirnya, kepulangan pertamaku. Terima kasih karena kamu masih setia denganku, melewati semua masa sulit untuk mempertahankan perasaan kita. Aku sungguh berniat untuk tidak melepasmu, tunggu sebentar lagi, aku pasti menikahimu," katamu tiba-tiba menggenggam tangan kananku.
"Aku masih kuliah, Mas."
"Ya, sudah hampir satu tahun, kan? Tak tunggu beberapa tahun lagi. Bertahanlah, Tika. Lalu biarkan aku membawamu, ke mana pun aku pergi."
Aku tersenyum getir untuk itu.
"Kamu tahu, berat menjaga negeri ini. Tetapi aku selalu merasa puas telah sedikit membalas jasa pada negara ini."
Sungguh aku tidak peduli, Mas. Negara carut marut ini, dia sungguh beruntung telah kamu prioritaskan.
Kita berjalan berdampingan, cukup jauh hingga berhenti di depan gereja besar. Mungkin sudah saatnya aku mengatakan semuanya. keputusanku sepertinya sudah bulat. Apa? Mas, meskipun rasa kita masih sama, itu bukan alasan paling utama untuk tetap bersama. Karena berdua itu tidak bisa hanya dengan sebuah rasa, harus ada pertimbangan apakah kita sama-sama puas dan bahagia.
"Mas, kamu bisa melepasku sekarang. Aku pun akan melepasmu," kataku.
Tak masalah, tak harus menunggu di rumah untuk melepasmu. Tidak perlu takut kamu campakkan hari ini, lalu tidak diantar pulang. Aku bisa naik taksi sampai ke kosku di dekat UNNES. Aku sunguh hanya ingin mengatakan itu padamu, kamu yang masih tertegun dengan ucapanku.
"Aku tidak sanggup, aku pun tidak menyanggupinya. Aku, ternyata aku tidak cukup dewasa untuk mendampingi seorang tentara. Aku iri pada pasangan lain yang setiap kali rindu hanya menunggu satu atau dua hari untuk bertemu. Bukan satu atau dua tahun kemudian. Aku ingin berhenti." Air mataku yang berharga akhirnya jatuh di hadapanmu juga.
"Kenapa tiba-tiba, Tika? Bahkan kita baru saja meleburkan rindu yang kita bangun bersama-sama."
"Tidak mendadak, aku sudah lama menunggu saat ini, Mas. Sudah lama sejak kamu pergi pendidikan, sudah lama saat kamu mengatakan akan menjadi seorang pejuang. Tapi selama itu aku tidak memiliki kesanggupan. Pada akhirnya, jarak menyadarkanku bahwa aku terlalu lemah untuk semua perasaan yang jarak ciptakan. Aku menunggu saat kapan kita bisa bertemu dan bulat tekadku untuk mengatakan demikian."
"Bagaimana jika aku tidak melepasmu, Tika?" Sorot matamu mengatakan itu dengan jelas, Mas. Sungguh aku mengetahuinya. Bukankah sorot mataku mengatakan hal yang sama?
"Aku tetap akan berhenti."
"Oke, berhentilah dan aku yang akan berjalan ke arahmu."
Menggeleng, tersenyum getir utuk keputusan tepat yang telah kuambil.
"Tika. Sungguh, bertahanlah sedikit lagi, sampai aku menyelesaikan satu tandaku dan kamu menyelesaikan pendidikanmu."
"Mas, bahkan dua sampai tiga tahun saja aku memutuskan untuk berhenti. Kupikir aku bisa beradaptasi, tapi kenyataannya tidak. Bagaimana aku harus melanjutkan tiga sampai empat tahun lagi? Bukan kah begitu jika menunggu lulus kuliahku?"
Kamu menelan ludahmu.
Mas, sungguh tidak ada solusi yang tepat dari hubungan yang kita mulai. Tidak ada yang bisa dipertahankan kecuali perasaan kita. Namun kamu tahu apa yang terjadi jika kita bertahan karena perasaan yang kita miliki? Ya, hanya siksaan jarak yang sedikitpun tidak mau mengerti.
Berakhirlah hari ini tanpa kata kita, Mas. Aku dan kamu kembali hanyalah kakak kelas dan adik kelas yang tidak memiliki apa pun untuk di simpan. Selamat tinggal, Mas. Selamat bertugas.
Semarang, 14 April 2006
Yang Menyerah Atas Dirimu,
Kartika Rahma Sakia