Tanpa Kamu, 2006

585 Kata
Entah salah atau tepat keputusanku waktu itu untuk melepasmu. Yang jelas saat ini, aku merasa ada sesuatu yang hilang dan itu lebih buruk dari sebuah kerinduan yang tidak berbalas. Ada kebiasaan yang hilang, ada perasaan yang pantas sekali disalahkan, ada ego yang aku rutuki sendiri, ada berbagai hal yang kusebut dengan kesepian. Kupikir, hanya karena aku belum terbiasa tanpamu, Mas.  Ya, aku harus terbiasa entah bagaimana caranya. Aku harus segera meninggalkan perasaan yang lalu, melupakanmu, dan mencari orang baru untuk benar-benar berdamai darimu. Jalanku masih panjang untuk urusan cinta, andaikata Tuhan memang memberiku banyak waktu di dunia. Tak apa, tanpamu pun aku masih bisa hidup meski tak sempurna.  Aku juga tahu sesekali kamu menanyakanku pada Dewi, tetapi tidak satu pun pesanmu masuk dalam ponselku. Tidak, tidak ada satu patah kata pun yang masuk, jangankan satu patah kata, Mas, satu huruf saja tidak ada. Ya, mungkin kamu teramat marah dengan keputusanku, mungkin kita masih memiliki rasa yang sama, namun kekecewaanmu padaku pastilah lebih besar saar ini.  "Kalau kalian masih saling mencintai, untuk apa berpisah? Bukankah seharusnya cinta lebih kuat daripada keinginan untuk berpisah, Tik? Aku capek terus menerus mengunjungi kosmu dari Jogja ke Semarang hanya untuk memastikan kamu baik-baik saja," protes Dewi tidur di kamar kosku.  "Kamu tidak perlu mengunjungiku, jangan terlalu penurut sama Mas Dipta." Dewi justru tertawa dan mengatakan bahwa dia sungguh lelah karena setiap kali mengunjungiku, tak nampak raut bahagia dariku, selalu saja murung dan enggan membahas tentang cinta. Dia senang mengunjungiku, senang sekali, yang membuatnya lelah adalah hilangnya senyumku. Entah dia itu sahabat macam apa, dia memang begitu adanya, maksudku, suka sekali jika aku bahagia dan ikut susah sekali jika aku bersedih. Padahal dia bisa bersikap biasa saja.  "Balikan saja, Tika. Kamu juga masih sayang sama dia, kan?"  Aku tertawa, bukan kah dia dulu menyarankan aku mencari kekasih lain dan melepaskan Mas Dipta. Mengapa sekarang lain lagi? Lalu dia jelaskan, setelah berpisah dengan Mas Dipta, ternyata aku tidak baik-baik saja. Itu alasannya berubah pikiran dan memintaku kembali pada Mas Dipta saja.  "Ya, katakanlah cobaan untuk kekuatan cinta kalian, sampai sejauh mana. Tuhan tidak akan menciptakan jarak jika dalam setiap jengkalnya tidak mengandung sebuah makna serta keindahan, bukan? Ingat, Tuhan tidak menciptakan benda atau kondisi tertentu jika tidak dengan maksud yang jelas baik bagi hamba-Nya." Setuju, aku setuju dengan itu.  "Mungkin memang cinta kami yang terlalu lemah," balasku merapikan pakaian yang baru saja kering.  "Kalian masing saling mencari tetapi mengatakan bahwa cinta kalian lemah, cinta kalian besar, kenyataanya berpisah dan jarak tidak menghapusnya. Yang lemah adalah mental kalian dan ego buruk kalian yang terlalu tinggi. Ah, kalian sudah beranjak dewasa, yang terpenting dari sebuah hubungan bukan kah rasa yang sama meskipun tidak selalu bersama?" Menggeleng heran. Terserah padanya mau mengatakan apa.  "Aku bahkan tidak pernah mencari Mas Dipta, menghubungi saja tidak."   Dewi tertawa lagi. "Ha ha ha, setiap kali aku berkata padamu bahwa Mas Dipta bertanya bagaimana kabarmu, kamu diam, tetapi matamu selalu menjawab bahwa kamu tidak dalam keadaan baik, lalu bagaimana dengan Mas Dipta? Dalam hal lain, ketika aku bilang Mas Dipta ingin kembali denganmu, tetapi tidak tahu lewat jalan yang mana. Matamu bahkan mengatakan bahwa kamu juga sedang mencari jalan untuk kembali." "Tidak, selama dia masih menjadi prajurit TNI, ku tidak suka dengan seragamnya, tidak pernah suka dengan pekerjaannya." "Semudah itu sebuah rasa terhapuskan? Karena seragam?" Aku diam, Dewi tidak akan mengerti, mau aku jelaskan sampai berbusa sekalipun. Ya, beginilah aku tanpamu, Mas. Tidak berarti apa-apa tetapi aku juga tidak ingin kembali.  Semarang, 5  Desember 2006 Masa Lalumu,  Kartika Rahma Sakia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN