"Tawaran kamu buat ajakin aku nikah kemarin... itu masih berlaku, kan?"
Hening seketika menyelimuti kabin mobil putih itu. Kalimat Lady yang menggantung di udara terasa begitu berat, seolah sanggup mengubah seluruh poros hidup mereka dalam satu tarikan napas.
Narren tertegun. Untuk sesaat, topeng ketenangannya retak. Mata elangnya yang tajam sedikit melebar, menatap bayangan Lady dengan keterkejutan yang nyata. Ia tahu Lady sedang hancur. Ia tahu wanita ini sedang berada di titik terendah, tapi ia tidak menyangka Lady akan langsung menagih janji gila itu secepat ini.
Namun, keterkejutan itu hanya bertahan beberapa detik. Narren segera menguasai diri. Ia tahu, di balik pertanyaan itu, ada luka yang sangat dalam. Ada pengkhianatan yang baru saja terjadi. Ada rasa sakit yang membuat Lady merasa tidak punya pilihan lain selain terjun ke dalam kegelapan bersamanya.
Perlahan, Narren bergerak. Ia mencondongkan diri ke arah kursi pengemudi. Ia meraih tangan Lady yang sedari tadi meremas kemudi hingga buku-buku jarinya memutih.
Tangan Narren terasa hangat, kontras dengan tangan Lady yang sedingin es.
"Kak..." suara Narren mengalun rendah, masuk ke telinga Lady seperti sebuah penawar rasa sakit yang magis. "Tawaran itu tidak pernah berubah. Aku mengatakannya dengan kesadaran penuh, dan aku tidak akan pernah menariknya kembali."
Lady menoleh pelan, matanya yang sembab menatap Narren dengan pandangan kosong. "Kamu sadar kan apa artinya ini? Kamu masih muda, Narren. Masa depan kamu masih panjang. Menikah denganku berarti kamu masuk ke dalam masalahku. Kamu akan berhadapan dengan Harris, kamu akan berhadapan dengan keluargaku yang... yang sudah membuangku."
Narren tidak melepaskan genggamannya. Ia justru mengeratkan jarinya di sela-sela jari Lady, memberikan kekuatan yang tidak pernah Lady dapatkan dari Harris.
"Aku tidak peduli seberapa panjang masa depanku jika di dalamnya tidak ada kamu. Dan soal masalahmu? Anggap itu sebagai masalah kita sekarang," Narren menatap Lady dengan intensitas yang sanggup meluluhkan pertahanan siapa pun.
"Aku berjanji, Kak. Aku akan menjagamu. Aku akan melakukan apa saja untuk memastikan air mata ini adalah yang terakhir. Aku akan membuatmu bahagia dengan caraku sendiri. Kamu tidak akan sendirian lagi."
Lady terpaku. Untuk sesaat, ia merasa seperti terseret ke dalam pusaran gravitasi mata Narren. Ada sesuatu yang sangat jujur, sangat kokoh, dan sangat dewasa di balik tatapan pemuda yang selama ini ia anggap lugu dan polos ini. Lady merasa hatinya sedikit bergetar, sebuah perasaan yang seharusnya tidak ada di tengah kemelut ini.
Namun, Lady segera menarik napas panjang. Ia terkekeh kecil, sebuah tawa kering yang sengaja ia buat untuk mencairkan suasana yang terlalu intim baginya. Ia membuang muka, menatap ke arah kaca depan yang gelap.
"Lucu ya," gumam Lady. "Aku yang merupakan karyawan perusahaan gaji di atas UMR, punya karier cukup mapan, malah berakhir minta perlindungan sama anak muda pengangguran kayak kamu."
Narren hanya tersenyum tipis, tidak merasa tersinggung sama sekali.
"Dengar, Narren, aku cuma butuh status. Aku butuh seseorang yang berdiri di sampingku sebagai suami agar Ayah dan Harris tahu kalau aku tidak bisa mereka injak-injak lagi. Pernikahan ini... katakanlah ini hanya pernikahan kontrak."
"Pernihan kontrak?" Narren mengangkat sebelah alisnya.
Lady mengangguk. "Iya. Sebagai kompensasi karena kamu sudah memberikan nama dan statusmu untukku, aku akan menjamin hidupmu. Kamu boleh tinggal di apartemenku selama kita menikah. Aku akan menanggung semua biaya hidupmu, makanmu, pakaianmu, apa pun. Dan..." Lady menjeda, "aku akan memberimu sejumlah uang bulanan sebagai gaji. Anggap saja kamu bekerja sebagai pelindungku sekaligus suamiku di atas kertas. Bagaimana?"
Narren melepaskan tangan Lady. Ia bersandar kembali ke kursinya, menatap langit-langit mobil sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Gaji? Biaya hidup?" Narren tertawa kecil, kali ini terdengar sedikit sarkastis. "Kak, aku tidak sedang melamar pekerjaan sebagai asisten pribadimu. Aku menawarkan pernikahan."
"Aku tahu! Tapi aku tidak mau berutang budi padamu, Narren. Aku tidak mau kamu merasa terbebani. Ini adil, kan? Aku punya uang, kamu punya status dan keberanian yang aku butuhkan saat ini. Kita saling menguntungkan."
"Aku tidak butuh uangmu, Kak Lady," ucap Narren tegas. "Aku punya caraku sendiri untuk hidup."
"Caramu bagaimana? Kamu bahkan tidak punya tempat tinggal kalau bukan karena aku!" Lady membalas dengan keras, harga dirinya yang terluka membuatnya ingin memegang kendali atas situasi ini.
"Pokoknya aku tidak mau tahu. Kalau kamu mau menikah denganku, kamu harus terima semua fasilitas yang aku kasih. Aku tidak mau orang-orang bilang suami Lady adalah seorang gelandangan. Kamu harus terlihat pantas di sampingku."
Narren menatap Lady cukup lama. Ia melihat kegigihan, ketakutan, dan ego yang terluka di mata wanita itu. Ia tahu, jika ia terus menolak, Lady mungkin akan menarik kembali keputusannya.
"Baiklah," Narren akhirnya mengalah dengan desahan panjang. "Jika itu membuatmu merasa lebih tenang dan merasa memiliki kendali, aku tidak akan menolak. Aku akan menerima gaji dan fasilitas darimu."
"Bagus," Lady mengangguk puas, meski hatinya masih terasa kosong. "Setidaknya dengan begitu, hubungan kita jelas. Kita adalah rekan kerja dalam sebuah sandiwara panjang."
"Sandiwara ya?" Narren bergumam pelan, hampir tak terdengar. Matanya berkilat misterius. "Kita lihat saja nanti seberapa lama kamu bisa menyebut ini sandiwara, Kak."
"Apa?"
"Bukan apa-apa. Sekarang, ayo naik. Sudah malam," ajak Narren.
Lady menghela napas, ia menarik hoodie hitamnya, mengenakan topinya hingga menutupi sebagian wajahnya yang bengkak. Ia merasa sangat lelah, baik secara fisik maupun mental. Tangannya meraih masker medis di kursi samping, hendak mengenakannya.
"Aku turun duluan, kamu menyusul lima menit lagi ya," ucap Lady sambil membuka pintu mobil.
Ia melangkah keluar ke area basement yang sunyi. Kakinya terasa lemas, seolah-olah seluruh energinya telah terkuras habis di rumah ayahnya tadi. Saat ia berdiri di samping pintu mobil, mencoba memantapkan pijakannya dan hendak memasang maskernya, tiba-tiba sebuah bayangan besar mendekat.
"Narren? Kan aku bilang tunggu lima—"
Belum sempat Lady menyelesaikan kalimatnya, sepasang lengan kekar tiba-tiba meluncur di bawah ketiak dan lipatan lututnya. Dalam satu gerakan halus dan bertenaga, Narren mengangkat tubuh Lady ke dalam gendongannya.
"EH?! Narren! Apa-apaan?! Turunkan aku!" Lady memekik kaget, tangannya refleks mengalung di leher Narren agar tidak jatuh. Topinya hampir saja terlepas jika ia tidak segera menunduk.
"Diamlah, Kak. Kamu bahkan hampir tidak bisa berdiri tegak," ucap Narren dingin, namun ada nada protektif yang tak terbantahkan.
"Aku bisa jalan sendiri! Ini basement, kalau ada orang lihat bagaimana?!" Lady meronta kecil, wajahnya yang tadi pucat kini mulai memanas karena malu dan terkejut.
Narren menghentikan langkahnya sejenak, menunduk untuk menatap Lady yang berada dalam dekapannya. Jarak mereka begitu dekat hingga Lady bisa merasakan hembusan napas Narren yang maskulin.
"Tadi Kakak bilang aku harus terlihat pantas di sampingmu, kan? Nah, suami yang baik tidak akan membiarkan istrinya yang sedang terluka berjalan sendirian." Narren berkata dengan suara rendah yang menggetarkan.
"Dengan begini Kakak tidak memerlukan masker itu lagi. Sembunyikan saja wajahmu di bahuku. Tidak akan ada yang bisa melihat wajah merahmu atau pipi bengkakmu jika kamu terus mendekapku seperti ini."
Lady tertegun. Kalimat Narren barusan... entah kenapa terasa begitu menenangkan sekaligus mematikan logikanya. "Sembunyikan wajahmu di bahuku."
"Tapi..."
"Sshhh. Tutup matamu. Sandarkan saja kepalamu padaku," bisik Narren lagi.
Entah sihir apa yang dibawa pemuda ini, Lady merasa seluruh kekuatannya untuk protes menguap begitu saja. Ia perlahan membenamkan wajahnya di ceruk leher Narren, menghirup aroma parfum maskulin bercampur aroma sabun yang menenangkan. Tangannya yang tadi menolak kini justru meremas kemeja Narren di bagian bahu.
Narren mendekap Lady lebih erat, memastikan wanita itu merasa aman dan sepenuhnya terlindungi dalam pelukannya. Ia berjalan dengan langkah mantap menuju lift, mengabaikan dunia luar, seolah-olah di basement yang luas itu hanya ada mereka berdua.
Lady memejamkan matanya rapat-rapat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa tidak perlu berdiri di balik topeng sosok yang kuat. Ia tidak perlu menjadi anak yang penurut. Ia tidak perlu menjadi tunangan yang sempurna. Di dalam dekapan Narren, ia merasa diizinkan untuk menjadi rapuh, dan meluapkan segala yang benar-benar sedang dia rasakan saat ini.
"Benarkah ini hanya sandiwara?" batin Lady sebelum kesadarannya perlahan tertutup oleh rasa lelah yang luar biasa.
Narren menatap pucuk kepala Lady dengan senyum miring yang kini tampak lebih lembut. Ia menekan tombol lift dengan satu tangan yang bebas, sementara tangannya yang lain tetap menopang tubuh Lady dengan kokoh.
"Perjalanan kita baru saja dimulai, sayang," gumamnya pelan saat pintu lift berdenting terbuka.