12 - Pemuda Sinting!

1088 Kata
Cahaya matahari pagi yang berani menyusup masuk melalui celah gorden yang terbuka lebar memaksa kelopak mata Lady bergerak gelisah. Ia mengerang pelan, merasakan kepalanya berdenyut ringan, sisa dari tangisan hebat dan ketegangan luar biasa semalam. Namun, kesadarannya belum pulih sepenuhnya saat ia melihat sesosok bayangan jangkung berdiri membelakanginya, sedang menyibak sisa gorden yang masih tertutup. Sosok itu mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, menunjukkan otot lengan yang kokoh dan kulit yang bersih. Begitu pria itu berbalik, jantung Lady seolah berhenti berdetak sesaat. Narren. Pemuda itu terlihat sangat berbeda di bawah guyuran cahaya pagi. Rambutnya yang sedikit berantakan tertimpa cahaya keemasan, menonjolkan rahangnya yang tegas dan sorot mata yang begitu jernih. Lady terpaku. Untuk beberapa detik, ia hanya bisa diam menatap wajah tampan di hadapannya, merasa seolah-olah sedang melihat karakter yang keluar dari film layar lebar. Pipi Lady memanas. "Kenapa... kenapa dia terlihat tampan sekali pagi ini?" batinnya meronta, tak menyadari bahwa ia tengah melamunkan pria yang baru beberapa hari lalu ia pungut itu. Narren berjalan mendekat. Langkahnya tidak lagi terasa ragu seperti seorang pemuda yang butuh perlindungan, melainkan mantap dan berwibawa. Ia duduk di sisi ranjang, tepat di depan Lady yang masih bergelung di balik selimut. "Sudah bangun?" suara Narren mengalun rendah, serak khas bangun tidur yang sangat maskulin. "N-Narren...?" Narren tidak menjawab. Ia justru mengulurkan tangannya. Jemarinya yang panjang dan hangat menyentuh pipi kiri Lady—titik di mana tamparan sang ayah mendarat dengan telak kemarin malam. "Aw!" Lady meringis, reflek menarik wajahnya sedikit menjauh. Narren mengernyit. Gurat kemarahan sekilas melintasi matanya saat melihat lebam yang menghitam di kulit putih Lady. "Masih sakit?" Lady mengangguk kaku, mendadak merasa sangat gugup. "Sedikit. Cuma perih kalau tersentuh." Narren meraih sebuah gelas berisi air hangat dari nakas dan menyodorkannya pada Lady. "Minum ini dulu. Kamu butuh cairan setelah dehidrasi karena menangis semalaman." Lady menerimanya tanpa protes, menenggak air itu perlahan sementara matanya tetap memperhatikan setiap gerak-gerik Narren. Begitu gelas itu kosong, Narren mengambilnya kembali dan meletakkannya, lalu ia meraih sebuah mangkuk kecil berisi es batu dan kain lembut yang sudah ia siapkan. "Diamlah sebentar," perintah Narren. Ia mulai menyeka lebam di pipi Lady dengan kain dingin itu. Gerakannya begitu hati-hati, seolah-olah Lady adalah barang pecah belah yang sangat rapuh. Lady terkesiap, tubuhnya menegang saat wajah Narren hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Ia bisa menghirup aroma mint dan sabun segar dari tubuh pemuda itu. "N-Narren, aku bisa sendiri," ucap Lady terbata, mencoba meraih kain itu. "Kamu tidak perlu repot-repot..." "Aku bilang diam, Kak," potong Narren tanpa menoleh, fokusnya tetap pada pipi Lady. Suaranya tidak keras, tapi mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah. "Biarkan aku melakukannya. Aku ingin memastikan bengkaknya berkurang sebelum kita keluar nanti." Lady terdiam, terkunci oleh tatapan intens Narren. Ia merasa seolah-olah oksigen di kamar ini mendadak menipis. Ketegasan Narren pagi ini terasa sangat asing. Namun entah kenapa, sangat mendominasi. Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya bagi jantung Lady, Narren akhirnya menjauhkan kain itu. Ia bangkit berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. "Sekarang mandilah," ucap Narren sambil menunjuk ke arah sofa kecil di sudut kamar. "Aku sudah menyiapkan peralatan mandi dan baju ganti untukmu di sana. Semua sudah lengkap." Seketika, Lady menarik selimutnya tinggi-tinggi, memeluk tubuhnya sendiri dengan wajah yang sudah semerah tomat. "N-Narren! Kamu... kamu yang menyiapkan itu?!" seru Lady dengan suara melengking. "Semuanya? Termasuk... yang itu?!" Narren melirik tumpukan pakaian dalam tersebut dengan wajah datar tanpa dosa. "Iya. Kenapa? Kamu tidak punya tenaga untuk mencari baju di lemari tadi. Jadi aku mengambilkannya untukmu." "Kamu menyentuh dalamanku?!" Lady menjerit pelan, matanya membulat sempurna karena syok. Bayangan Narren mengaduk-aduk laci pribadinya membuatnya ingin tenggelam ke dalam kasur sekarang juga. Narren hanya mengangkat bahu, seolah hal itu tidak lebih penting daripada memilih menu sarapan. "Aku hanya mengambil apa yang ada di laci paling atas. Tidak usah berlebihan, Kak. Aku tidak melihat apa pun yang seharusnya tidak kulihat." Lady menarik napas pendek-pendek, mencoba menenangkan jantungnya. "Kamu... kamu benar-benar tidak punya sopan santun ya!" "Kita tidak punya banyak waktu untuk membahas sopan santun pakaian dalam, Kak Lady," ucap Narren tenang, sambil melirik jam di pergelangan tangannya. "Lebih baik kamu segera bersiap. Kamu tidak perlu ke kantor hari ini. Aku sudah mengirim pesan ke atasanmu menggunakan ponselmu semalam, bilang kalau kamu sedang sakit." Lady melotot. "Kamu apa?! Kamu memegang ponselku tanpa izin?" "Daripada kamu dipusingkan oleh panggilan kantor di hari pernikahanmu, kan?" Narren menjawab santai. "P-pernikahan apa? Hari ini?!" Lady nyaris terjatuh dari ranjang. "Narren, kamu gila? Kita baru bicara semalam! Aku belum mempersiapkan apa pun! Dokumen, gaun, gereja, pendeta, surat-surat... itu butuh waktu berminggu-minggu, Narren! Kita bahkan belum mengurus ke catatan sipil!" Narren berjalan menuju pintu kamar, namun ia berhenti dan menoleh. Memberikan senyum miring yang terlihat sangat percaya diri—senyum yang membuat Lady merinding sekaligus terpukau. "Aku sudah menyiapkan semuanya semalam. Semuanya. Termasuk semua data tentang dirimu yang dibutuhkan untuk administrasi. Pendeta sudah menunggumu jam untuk pemberkatan." "Semalam? Bagaimana mungkin?" Lady bergumam lirih, suaranya melemah karena rasa tidak percaya. "Hanya dalam beberapa jam... kamu menyiapkan pernikahan? Kamu bahkan tidak punya uang, Narren! Siapa yang kamu suap untuk mempercepat semua ini?" Narren tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru menatap Lady dengan sorot mata yang mendadak protektif dan sangat dominan. "Tugasmu sekarang cuma mandi, pakai baju lalu sarapan. Sisanya biar aku yang urus." "Tapi Narren—" "Aku tunggu di dapur. Aku sedang menyiapkan sarapan. Sepuluh menit, Kak. Jangan telat." Pintu kamar tertutup, meninggalkan Lady dalam keheningan yang menyesakkan. Lady ternganga, menatap pintu kayu itu dengan perasaan campur aduk. "Apa yang sebenarnya terjadi?" bisiknya pada dirinya sendiri. Ia bangkit perlahan, berjalan menuju sofa untuk melihat pakaian yang disiapkan Narren. Ia masih tidak menyangka jika Narren benar-benar akan berani membuka lemarinya, bahkan mengambil dua buah barang keramat miliknya itu. "D-dia benar-benar gila!" Lady menyentuh dadanya yang berdebar kencang. Ia merasa seolah-olah perannya telah tertukar. Bukankah seharusnya ia yang memegang kendali? Bukankah ia yang akan memanfaatkan Narren di sini? Namun kenapa pagi ini, Narren bersikap seolah-olah dialah sang penguasa di apartemen ini? "Narren... siapa kamu sebenarnya?" gumam Lady lirih. "Kenapa kamu bisa menyiapkan segalanya secepat ini? Hal seperti ini nggak mungkin bisa dilakukan oleh orang biasa." Bising di kepala Lady semakin menjadi-jadi. Antara rasa takut akan kegilaan pernikahan mendadak ini, rasa penasaran pada sosok Narren yang berubah total, dan rasa hangat yang aneh karena diperlakukan hangat dan protektif yang Narren berikan sejak semalam. Dengan tangan gemetar, ia menyentuh pipinya yang lebam, lalu meraih handuk. Hari ini, di pagi yang cerah ini, hidupnya benar-benar akan berubah selamanya oleh tangan seorang pria yang bahkan belum genap satu minggu masuk ke dalam hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN