Pintu kayu kamar Lady kembali tertutup. Begitu punggungnya tak lagi terlihat oleh Lady, raut wajah Narren yang tadi tampak lembut dan perhatian seketika luruh, berganti dengan ekspresi dingin sedingin es. Aura pemuda penurut itu menguap, menyisakan sosok pria dengan aura yang mampu membuat siapa pun bergidik ngeri.
Narren merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah ponsel dan menekan satu tombol cepat. Dan dalam hitungan detik, sambungan langsung terhubung.
"Cari tahu ke mana Lady pergi setelah jam kantor kemarin," perintah Narren tanpa sapaan pembuka. Suaranya rendah, tajam, dan penuh ancaman.
"Aku ingin daftar nama setiap orang yang dia temui. Dan yang paling penting... cari tahu siapa yang berani mendaratkan tamparan di wajahnya."
Di seberang telepon, suara seorang pria terdengar gugup. "Baik, Tuan Muda. Kami akan segera melacak rekaman CCTV di rute yang dilalui Nona Lady."
"Satu lagi. Jadwalkan pernikahanku dengan Lady jam sembilan pagi ini," potong Narren dingin. "Pemberkatan sederhana di gereja terdekat. Tidak perlu undang orang-orang tidak penting. Cukup pendeta dan saksi."
Hening sejenak di seberang sana. Suara anak buahnya terdengar seperti orang yang baru saja tersedak udara. "Apa? Jam sembilan pagi ini, Tuan Muda? Tapi ini sudah hampir jam tujuh. Sangat sulit untuk mengatur jadwal dadakan dengan pihak gereja dan catatan sipil, apalagi mengurus berkas-berkasnya—"
"Itu bukan urusanku," desis Narren, matanya menatap tajam ke arah jendela apartemen. "Semua berkas sudah aku siapkan. Kalian hanya perlu memastikan pendeta dan petugas sipil berdiri di sana saat kami datang. Gunakan cara apa pun. Uang, pengaruh, atau apa pun yang kalian bisa. Jangan sampai aku mendengar kata gagal untuk hari ini."
"B-baik, Tuan Muda! Segera kami laksanakan!"
Narren mematikan telepon tepat saat bel pintu apartemen berbunyi. Narren melangkah menuju pintu depan, membukanya, dan seorang pria berpakaian serba hitam memberikan sebuah kotak besar yang terbungkus rapi tanpa sepatah kata pun.
Narren menerima paket itu dengan satu tangan, memberikan anggukan singkat, lalu menutup pintu kembali. Sebuah senyum miring tersungging di bibirnya saat ia meletakkan kotak itu di atas meja makan.
"Akhirnya, mulai hari ini kamu benar-benar akan menjadi milikku," gumamnya pelan.
Ia melepaskan kemejanya, menyisakan kaus hitam polos yang melekat ketat di tubuh atletisnya, lalu mulai menyalakan kompor. Tangannya bergerak dengan mahir memotong bawang, mengocok telur, dan menyiapkan bahan-bahan segar untuk membuat menu sarapan untuk pujaan hatinya.
***
Tiga puluh menit kemudian, pintu kamar Lady terbuka. Lady keluar dengan rambut yang masih agak lembap, mengenakan kaus santai dan celana kain. Wajahnya masih terlihat sedikit pucat, namun bengkak di pipinya sudah mereda berkat kompres es dari Narren tadi.
Begitu sampai di area dapur, langkah Lady terhenti. Ia mengendus aroma yang begitu lezat. Aroma daging asap yang digoreng mentega, roti panggang yang harum, dan kopi yang baru saja diseduh. Matanya membulat saat melihat meja makannya kini dipenuhi dengan hidangan sarapan yang sangat proper. Ada omelet lembut dengan taburan keju, potongan buah segar, dan jus jeruk yang sepertinya baru saja diperas.
"Narren...?" Lady bertanya dengan nada tak percaya. "Kamu... kamu masak semua ini?"
Narren menoleh sambil menaruh piring terakhir di atas meja. "Duduklah, Kak. Kamu butuh energi."
Lady mendekat, matanya menyapu isi dapur. Ia menyadari kulkasnya yang tadinya nyaris kosong kini terlihat penuh melalui celah pintunya yang sedikit terbuka. "Tunggu dulu. Dari mana semua bahan makanan ini? Kemarin kulkas ini cuma isinya air putih dan sisa kentang dan mie instan."
"Aku sempat belanja kemarin sore sebelum kamu pulang kerja," jawab Narren singkat sambil menarikkan kursi untuk Lady. "Aku tidak suka melihat kamu kelaparan setiap pagi."
Lady langsung merasa tidak enak hati. Ia teringat janjinya untuk menanggung biaya hidup Narren. "Astaga, Narren! Harusnya kamu bilang kalau belanja. Berapa habisnya? Sini, aku ganti uangnya."
Lady berbalik, buru-buru mencari ponselnya di atas meja nakas dapur untuk melakukan transfer. Namun gerakan tangannya dihentikan oleh suara Narren yang berat.
"Simpan uangmu, Kak. Aku tidak belanja di tempat mahal," bohong Narren dengan sangat lancar. "Makan saja dulu. Kita punya jadwal yang sangat ketat pagi ini."
Lady menelan salivanya kasar. Ia duduk perlahan, namun pikirannya tidak tertuju pada makanan di depannya. Kalimat Narren di kamar tadi kembali menghujam otaknya.
"Narren," panggil Lady lirih, suaranya bergetar. "Soal yang di kamar tadi... soal kita menikah... kamu cuma bercanda buat hibur aku, kan? Atau mungkin kamu lagi halu karena kurang tidur?"
Narren berhenti bergerak. Ia meletakkan cangkir kopinya, lalu menumpu kedua tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke arah Lady. Matanya mengunci mata Lady dengan tatapan yang sangat serius, sangat dalam, hingga Lady merasa seolah-olah ia sedang diinterogasi oleh penguasa.
"Apa wajahku terlihat seperti orang yang sedang melucu, Kak?" tanya Narren dengan nada rendah yang menggetarkan. "Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Terutama soal pernikahan. Kita akan melakukan pemberkatan jam sembilan pagi ini."
"Tapi... tapi ini gila, Narren! Kita baru kenal tiga hari! Dan pernikahan itu butuh saksi, butuh surat, butuh persiapan mental! Aku bahkan belum bilang ke siapa pun!" Lady mulai panik, tangannya bergetar saat memegang garpu.
"Kamu tidak butuh siapa-siapa selain aku," sahut Narren dominan. "Ayahmu sudah membuangmu, Harris sudah mengkhianatimu. Jadi, untuk apa kamu mempedulikan pendapat mereka? Yang perlu kamu lakukan hanyalah berdiri di sampingku dan mengatakan 'iya' di depan pendeta. Sisanya, biar aku yang urus."
Lady terdiam seribu bahasa. Aura yang dipancarkan Narren pagi ini begitu kuat, begitu protektif namun sekaligus mencekik logikanya. Ia tidak pernah melihat sisi Narren yang seperti ini. Di mana pemuda pengangguran yang polos itu? Pria di depannya sekarang terlihat seperti seseorang yang sanggup meruntuhkan gunung jika ia mau.
"Cepat makan, Kak. Jangan biarkan makanannya dingin," perintah Narren lagi, suaranya kini kembali melembut namun tetap tegas.
Dengan perasaan campur aduk, Lady mulai menyuapkan makanan ke mulutnya. Anehnya, rasa makanan itu sangat enak, namun ia nyaris tidak bisa menikmatinya karena bising di kepalanya sendiri.
Setelah piring mereka bersih, Narren bangkit dan mengambil kotak besar yang tadi ia bawa ke meja makan. Ia menyodorkannya di depan Lady.
"Ganti bajumu dengan ini," ucap Narren.
Lady menerima bingkisan itu dengan ragu. "Apa ini?"
"Lihat saja sendiri."
Lady membuka perekat kotak tersebut. Matanya berbinar saat melihat isinya. Sebuah gaun terusan berwarna putih tulang, berbahan silk yang jatuh dengan indah. Modelnya sederhana, tanpa banyak payet yang berlebihan, namun setiap jahitan dan detailnya memancarkan kemewahan yang tenang. Elegan dan sangat dewasa.
"Narren... ini cantik sekali," gumam Lady kagum. Ia menyentuh bahan gaun itu. "Tapi tunggu... kamu dapat ini dari mana secepat ini? Dan ukurannya... bagaimana kamu tahu?"
"Aku punya insting yang bagus untuk ukuran tubuh wanita yang kucintai... atau yang akan menjadi istriku," jawab Narren dengan nada menggoda yang terselubung. "Dan soal dari mana asalnya, aku punya teman yang bekerja di butik pengantin. Dia berutang budi padaku, jadi dia mengirimkan yang terbaik pagi-pagi sekali."
Lady menyipitkan matanya. "Teman? Sepagi ini? Narren, kamu ini sebenarnya siapa sih?"
Narren terkekeh, lalu ia melangkah mendekat, mengacak rambut Lady pelan dengan gerakan yang terasa sangat akrab. "Aku akan jelaskan semuanya nanti, setelah ada cincin di jarimu. Sekarang, masuk ke kamar. Pakai gaun itu, rias wajahmu sedikit untuk menutupi lebam itu, dan pastikan kamu terlihat seperti wanita paling bahagia di dunia."
"Tapi—"
"Tidak ada tapi-tapi, Kak Lady," potong Narren sambil memutar tubuh Lady menuju kamar. "Pemberkatan kita jam sembilan. Masih ada waktu satu jam untuk bertransformasi. Cepat!"
Lady hanya bisa menurut seperti orang yang terhipnotis. Ia membawa kotak itu masuk ke dalam kamar, masih dengan ribuan pertanyaan yang berputar di kepalanya.
"Gila... ini benar-benar gila," gumam Lady lirih saat ia sudah berada di dalam kamar. "Kenapa aku merasa bukan aku yang menyelamatkan dia, tapi dia yang sedang menjeratku ke dalam dunianya?"
Ia menatap gaun putih itu di atas ranjang. Di satu sisi, ia merasa takut akan ketidakpastian ini. Namun di sisi lain, ada perasaan aman yang aneh yang diberikan oleh sikap dominan Narren. Seolah-olah, selama ia bersama Narren, dunia yang kejam di luar sana tidak akan bisa menyentuhnya lagi.
"Dalam waktu semalam... dia menyiapkan gaun, dia menyiapkan pendeta, dia bahkan menyiapkan sarapan mewah begini," Lady menggeleng-gelengkan kepalanya. "Narren... kamu itu sebenarnya malaikat penolong atau iblis yang sedang menyamar?"
Bising di kepala Lady tak kunjung reda. Pikirannya terus melayang pada ucapan ayahnya kemarin yang menyebutnya perempuan tak berharga. Dan sekarang, di sini, ada seorang pria muda yang memperlakukannya seolah-olah dia adalah pusat dari semestanya.
"Baiklah, Narren," bisik Lady sambil mulai melepas kausnya. "Kalau kamu memang serius ingin masuk ke nerakaku, mari kita lihat seberapa lama kamu bisa bertahan di sana."
Di luar kamar, Narren bersandar di pintu sambil melipat tangannya di d**a. Ia menatap jam di pergelangan tangannya, lalu tersenyum tipis. Semuanya berjalan sesuai rencana. Pernikahan ini mungkin terlihat dadakan bagi Lady, tapi bagi Narren, ini adalah langkah pertama untuk memastikan bahwa wanita itu tidak akan pernah terluka lagi oleh siapa pun—termasuk keluarganya sendiri.
"Selamat datang di hidupku yang sebenarnya, Lady," batin Narren dengan tatapan yang sedingin baja. "Setelah ini, Harris dan ayahmu akan tahu apa artinya mengusik sesuatu yang sudah menjadi milikku."