"Narren, kamu yakin mau menikah dengan cara seperti ini?" Suara Lady terdengar bergetar.
Bagaimana tidak? Saat ini dirinya tiba-tiba saja sudah menginjakkan kakinya di dalam gereja.
"Hm?"
Lady menghela napas sejenak untuk menenangkan pikirannya. "Pernikahan adalah hal yang sangat sakral. Kamu yakin mau menggunakan satu kesempatan berharga ini hanya demi menolongku? Maksudku... ini terlalu berisiko untukmu. Setelah ini, hidupmu akan berubah hanya dsmi membantuku."
Narren tersenyum hangat lalu menggenggam tangan Lady yang sedikit gemetar.
Gereja kecil di sudut kota itu tampak sunyi, jauh dari hiruk-pikuk kita yang begitu ramai. Tak ada dekorasi pesta atau apapun. Hanya ada keheningan yang sakral, cahaya matahari yang menerobos masuk melalui kaca patri berwarna-warni, dan aroma kayu tua yang menenangkan.
Lady menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang terasa ingin melompat keluar dari rongga d**a.
Di sampingnya, Narren berdiri dengan tegak. Pemuda itu kini mengenakan setelan jas hitam yang tampak mahal. Rambutnya disisir rapi, dan wajahnya memancarkan ketenangan dan aura kemapanan, tak seperti sosok yang beberapa hari ini Lady kenal.
"Narren..." Lady berbisik, suaranya gemetar.
Narren menoleh, memberikan tatapan yang begitu teduh tapi tajam. "Kita sudah sampai di sini. Para saksi dan pendeta yang akan menikahkan kita juga sudah hadir. Apa lagi yang kamu ragukan? Soal hadiah pernikahan dan-"
Lady menggeleng kuat. "Bukan itu. Tapi... kita baru beberapa hari kenal. Maksud aku ajak kamu nikah bukan kayak gini. Kita bisa nikah lima atau sepuluh bulan lagi. Kita benar-benar minim persiapan."
Lady menatap ke dalam gereja. Di sana, hanya ada beberapa orang pria bertubuh tegap dengan setelan jas rapi yang duduk di bangku paling depan. Mereka tampak lebih seperti pengawal daripada tamu undangan. "Kamu juga belum memberi tahu keluargamu, kan? Mereka belum tentu setuju dengan keputusanmu ini. Kalau mereka setuju, kenapa saksinya bukan keluargamu atau teman-temanmu? Aku rasa sebaiknya kita mundurkan saja pernikahannya."
Narren meraih lengan Lady. Menahannya agar tidak pergi.
Narren tersenyum tipis. "Mereka adalah orang-orang yang bisa aku percaya. Kamu bilang kamu ingin status, kan? Aku memberikannya padamu sekarang juga. Saksi adalah saksi, tidak peduli siapa mereka selama pernikahan ini sah di mata hukum."
Lady menelan ludah. Ia melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Narren, suaranya merendah penuh kekhawatiran. "Lalu bagaimana dengan orang tuamu? Narren, kamu ini masih muda. Kamu menikah secara tiba-tiba tanpa restu mereka... bagaimana kalau mereka marah? Bagaimana kalau mereka mencariku dan menyalahkanku karena menyesatkan putra mereka? Aku tidak mau menambah daftar orang yang membenciku."
Narren meraih tangan Lady, menggenggamnya dengan kekuatan yang mantap, seolah ingin menyalurkan seluruh keberaniannya.
"Dengarkan aku, Kak," ucap Narren, suaranya berat dan penuh penekanan. "Jangan pikirkan tentang orang tuaku. Jangan pikirkan tentang keluargaku. Aku adalah pria dewasa yang bisa mengambil keputusanku sendiri. Aku yang memilihmu, dan aku yang akan menanggung semua konsekuensinya. Tugasmu hari ini hanya berjalan bersamaku ke depan sana. Urusan masa depan dan siapa pun yang berani protes... itu adalah urusanku. Paham?"
Lady menatap mata Narren yang tampak sedalam samudera itu. Ia merasa kecil. Namun sekaligus merasa sangat terlindungi. "Kenapa kamu melakukan hingga sejauh ini? Padahal kamu bisa saja pergi dan mengabaikan masalahku. Kamu bisa kejar kebahagiaanmu sendiri."
"Karena aku menginginkannya," jawab Narren singkat. "Ayo masuk! Pendeta sudah menunggu."
Pintu kayu besar itu terbuka perlahan. Suara denting piano yang lembut menyambut mereka. Narren menuntun Lady berjalan menyusuri lorong gereja. Langkah mereka bergema di ruangan yang sunyi itu. Lady merasa seperti sedang bermimpi.
Tiga hari lalu ia hampir menikah dengan pria yang mengkhianatinya, dan hari ini ia berjalan menuju altar dengan pemuda yang statusnya masih menjadi misteri besar baginya.
Sesampainya di depan altar, seorang pendeta tua tersenyum ramah menyambut mereka. Saksi-saksi yang duduk di depan berdiri tegak, membuat Lady semakin bertanya-tanya.
Upacara pemberkatan dimulai. Suara pendeta yang membacakan firman Tuhan terdengar begitu khidmat.
"Narrendra Aditya Wijaya, apakah engkau bersedia menerima Kirana Lady Rahmayanti sebagai istrimu, untuk saling mencintai, menghargai, dan melindungi dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kalian?"
Narren menatap Lady lurus-lurus. Tidak ada keraguan sedikit pun di wajahnya.
"Saya bersedia," ucap Narren tegas. Suaranya bergema dengan suara yang dalam dan tegas, membuat Lady merinding.
"Kirana Lady Rahmayanti, apakah engkau bersedia menerima Narrendra Aditya Wijaya sebagai suamimu, untuk saling mencintai, menghormati, dan melayani dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kalian?"
Lady terdiam sejenak. Ia melirik wajah Narren yang tampan dan tenang. Di balik semua kebingungannya, ada satu rasa yang tidak bisa ia pungkiri. Ia merasa aman di samping pria ini. Ia merasa dihargai.
"Saya... saya bersedia," bisik Lady dengan suara yang sedikit bergetar.
"Dengan ini, atas otoritas yang diberikan kepadaku, aku menyatakan kalian sebagai suami istri. Apa yang telah dipersatukan Tuhan, tidak boleh diceraikan manusia."
Hening.
"Sekarang, silakan cium mempelai wanita."
Darah Lady seolah berdesir kencang. Ia bisa merasakan pipinya memanas hebat. Ia mendongak, mendapati Narren sudah bergerak maju, memperkecil jarak di antara mereka.
Lady merasa sangat gugup. Jemarinya mencengkeram kain gaun satinnya begitu erat hingga jemarinya memutih. Matanya tak lepas dari wajah Narren yang kini berada tepat di depan wajahnya.
"Dia benar-benar tampan," batin Lady dalam gejolak hatinya. "Bagaimana bisa aku berakhir dengan pria seperti ini? Menikah dengannya... bagaimana jika suatu hari nanti aku benar-benar akan jatuh cinta padanya?"
Mendadak, Lady menjadi khawatir. Melihat sosok Narren yang begitu tampan dan karakternya yang hangat, Lady jadi was-was kalau nantinya ia akan benar-benar jatuh cinta pada pemuda tersebut. Karena karakternya adalah tipe yang mudah untuk dicintai oleh perempuan mana saja.
Narren meletakkan kedua tangannya di pinggang Lady, menariknya lembut hingga tubuh mereka merapat. Lady bisa merasakan detak jantung Narren yang begitu kuat, sama dengan detak jantungnya sendiri yang berpacu liar.
"Tutup matamu," bisik Narren seduktif, napasnya yang hangat menerpa bibir Lady.
Lady memejamkan matanya, tubuhnya menegang saat ia merasakan bibir Narren menyentuh bibirnya. Awalnya hanya sentuhan ringan, sebuah kecupan lembut yang terasa manis. Namun, perlahan Narren menekankan ciumannya, terasa semakin dalam dan memberikan kesan protektif.
Ciuman itu terasa begitu berbeda dari ciuman penuh amarah yang mereka lakukan di depan Harris tempo hari. Ciuman kali ini berhasil menggetarkan kembali hati Lady yang sempat mati.
Lady merasa dunianya seolah berputar. Ia terbuai dalam ciuman itu. Tangannya yang tadi meremas gaun perlahan naik dan mencengkeram bahu jas Narren, mencari pegangan. Pikiran Lady mulai melayang, terbawa oleh perasaan yang aneh. Ia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Bahkan ketika bersama Harris sekali pun.
Narren melepaskan ciumannya perlahan. Namun ia tidak menjauhkan wajahnya. Dahinya masih menempel di dahi Lady. Ia menatap Lady dengan tatapan yang sangat intens, seolah ingin menelan wanita itu hidup-hidup.
"Sekarang kamu milikku, Lady," bisik Narren rendah, hanya bisa didengar oleh telinga Lady. "Dan kamu telah bersumpah di hadapan Tuhan, bahwa kamu juga bersedia menjadi milikku. Mulai sekarang, aku pastikan tidak akan ada yang bisa memisahkan kita."
Lady hanya bisa terengah, mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan. Ia menatap mata Narren dan menyadari sesuatu. Pria ini benar-benar tampak berbeda. Dia tak seperti Narren yang ia kenal. Dia tampak begitu dewasa. Tatapan matanya mengisyaratkan obsesi dan kepemilikan yang mutlak.
Dan ia... baru saja menyerahkan hidupnya pada lelaki tersebut.
"Aku harap aku tidak akan menyesali keputusanku hari ini," batin Lady.
"Narren..." Lady bergumam lirih, masih dalam pengaruh debaran jantung yang menggila.
Narren tersenyum miring, senyum yang kini terlihat sangat memesona di mata Lady. Ia meraih tangan Lady, mengecup punggung tangannya cukup lama.
"Ayo pulang, Istriku," ucap Narren.
Saksi-saksi di depan berdiri dan bertepuk tangan. Lady mengikuti langkah Narren keluar dari gereja dengan perasaan yang tak menentu. Pikirannya bising antara rasa bahagia, rasa bersalah, dan ketakutan akan rahasia apa yang sebenarnya disimpan oleh suami barunya ini.