15 - Tiba-tiba Menikah

1140 Kata
Lady menahan napas sejenak begitu kakinya menapaki lantai keramik apartemen miliknya. Lalu, tatapannya jatuh pada jari manisnya. Ada sebuah cincin emas putih melingkar di jari manisnya. Benda kecil yang secara hukum dan agama telah mengikatnya dengan pria yang baru beberapa hari ia kenal. "Aku sudah menikah. Aku benar-benar sudah jadi istri orang. Dan orang itu... bukan Harris," batinnya berteriak, antara percaya dan tidak. Narren menutup pintu di belakangnya. Ia tidak langsung pergi ke dapur atau mengganti baju. Ia melangkah mendekati Lady, lalu dengan gerakan lembut, ia memutar tubuh Lady dan memegang kedua bahunya. Mereka kini berdiri berhadapan, sangat dekat. "Kak Lady," panggil Narren. Suaranya rendah, menenangkan gejolak di d**a Lady. Lady mendongak, menatap mata Narren yang kini tampak begitu jernih. "Benarkah... ini semua tidak mimpi? Pada akhirnya yang jadi suamiku malah dia? Pemuda asing yang aku manfaarkan untuk menggagalkan pernikahanku dengan Harris beberapa hari yang lalu?" batin Lady. "Ya?" "Mulai detik ini, kamu tidak perlu takut lagi pada Harris. Jangan pernah merasa sendirian saat menghadapi masalah apapun," ucap Narren serius. Matanya mengunci pandangan Lady. "Aku akan menjagamu. Kamu bisa ceritakan apapun padaku. Aku pasti akan membantu dan melindungimu. Paham?" Lady terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya, menatap jas hitam mahal yang melekat di tubuh Narren. "T- tapi kenapa? Kenapa kamu harus sampai nekat bertindak sejauh ini? Kita bisa saja pura-pura, atau hanya sekadar tunangan sandiwara. Kenapa harus sampai benar-benar menikah?" Narren tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Lady dengan intens, membuat Lady merasa pria itu bisa menembus apa saja yang ada di kepalanya. "Karena ini cara terbaik yang bisa aku lakukan untuk menjagamu. Dengan status kita, kalau Harris masih punya harga diri, dia akan tahu kalau sudah waktunya bagi dia untuk mundur," jawab Narren. "Tapi bagaimana dengan masa mudamu, Narren!" Lady akhirnya meledak, rasa bersalah yang sejak tadi ia tekan muncul ke permukaan. "Kamu masih sangat muda. Kamu tampan, kamu punya masa depan. Bagaimana setelah nanti urusanku dengan Harris selesai? Kita akan berpisah. Kamu akan menyandang status duda di usia semuda ini. Kamu akan kesulitan mencari wanita yang benar-benar mencintaimu nanti karena status itu. Aku merasa... aku egois karena sudah menyeretmu sejauh ini." Lady menunduk, menatap kakinya sendiri. Air mata hampir saja jatuh jika ia tidak segera mengerjap. "Aku merasa sudah merusak hidupmu demi menyelamatkan hidupku sendiri." Narren melepaskan pegangannya di bahu Lady, lalu ia menggunakan jarinya untuk mengangkat dagu wanita itu agar kembali menatapnya. Ia memberikan senyum yang sulit diartikan. "Kalau begitu, solusinya mudah, Kak," bisik Narren. "Mudah bagaimana?" "Jangan pernah biarkan kita bercerai," ucap Narren tegas. "Kalau Kakak memang tidak tega membiarkanku berstatus duda, maka pastikan pernikahan ini bertahan selamanya. Jangan pernah lepaskan aku, dan aku pun tidak akan pernah melepaskanmu. Adil, bukan?" Lady ternganga. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. "Kamu bicara apa sih? Mana mungkin pernikahan ini nggak akan batal nantinya? Aku... setelah semua ini selesai, aku akan kasih kamu kompensasi yang layak. Hanya saja untuk statusmu, sepertinya akan sulit untuk aku pulihkan." Narren terkekeh pelan, ia mengacak rambut Lady dengan gemas. "Siapa yang tahu apa yang terjadi di masa depan? Kalau Kakak tanya aku, aku juga nggak bakalan mau jadi duda di usia muda. Dan itu semua sekarang bergantung pada Kakak. Jadi, mohon kerjasamanya, ya." Lady kembali terpaku. Bukankah ucapan Narren terkesan sedikit ambigu? Wajah gadis itu memanas seketika. Ia juga beberapa kali menelan salivanya dengan kasar. "Nggak. Nggak mungkin! Kamu mikir apa sih, Lady? Nggak mungkin maksud Narren yang itu." Batin Lady bergejolak. Narren melepaskan tangannya, lalu berbalik dengan santai. "Sudah, jangan melamun terus. Wajahmu jadi pucat kalau terlalu banyak berpikir. Sekarang, lebih baik kita isi perut. Aku lapar setelah berjanji di depan pendeta tadi." Narren berjalan menuju dapur dengan santai. Narren membuka pintu kulkas, berdiri di sana beberapa saat untuk memilah bahan makanan yang ia beli kemarin. "Kak, mau makan apa siang ini?" teriak Narren dari arah dapur. "Aku lihat ada fillet ikan dori yang bagus di kulkas. Mau diolah jadi apa?" Lady masih berdiri di tempatnya, mencoba mencerna ucapan ambigu Narren tadi. Ia mengembuskan napas panjang, lalu berjalan lesu menuju kursi di meja makan. Ia duduk di sana, menyandarkan dagunya di atas lipatan tangan, memperhatikan punggung Narren yang sedang sibuk dengan perabot dapur. "Apa aja. Terserah koki aja maksudnya," jawab Lady kaget. Narren menoleh sekilas, tersenyum simpul melihat Lady yang tampak seperti anak kecil yang kehilangan arah. "Oke, ikan dori panggang saus lemon mentega." Lady hanya diam memerhatikan. Dari kursinya, ia bisa melihat betapa mahirnya Narren bergerak di dapur. Pemuda itu sudah melepas jasnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak sangat fokus. Cara dia memegang pisau, cara dia memarut kulit lemon, hingga aroma harum mentega yang mulai memenuhi ruangan, semuanya tampak sangat... sempurna. "Dia benar-benar paket lengkap," batin Lady sambil terus menatap punggung suaminya... Ya, suaminya. "Dia tampan, bisa bela diri, dia protektif, dia dewasa, dan dia jago masak. Bagaimana mungkin pria seperti ini luntang-lantung di jalanan kalau bukan karena ada sesuatu yang besar yang dia sembunyikan? Kenapa dia begitu gigih melindungiku? Apa mungkin... dia memang dikirim Tuhan untukku?" Lady menggelengkan kepalanya pelan, mencoba membuang pikiran romantis yang mulai meracuni logikanya. "Jangan baper, Lady. Inget, ini cuma buat perlindungan agar Harris segera menjauh. Jangan sampai kamu jatuh cinta beneran sama dia, karena kalau dia pergi, sakitnya bakal berkali-kali lipat dari yang Harris kasih." Namun, saat Narren berbalik untuk mengambil piring dan secara tidak sengaja memberikan senyum hangat ke arahnya, pertahanan Lady goyah. "Dikit lagi matang. Kakak mandi dulu atau ganti baju sana, biar makannya lebih nyaman nanti," saran Narren. "Iya, sebentar lagi. Aku masih mau lihat kamu masak," jawab Lady tanpa sadar. Narren mengangkat sebelah alisnya, seringai tipis muncul di wajahnya. "Oh? Jadi menonton suamimu masak sekarang jadi hobi barumu, Kak?" Wajah Lady seketika memerah. "N-nggak! Maksudnya... aku cuma mau pastiin kamu nggak berantakin dapurku!" Narren tertawa lepas. Suara tawa yang sangat renyah dan maskulin. "Alasan saja. Tapi aku yakin, Kakak sebenarnya sekarang udah mulai memperhatikanku, kan?" Bola mata Lady membulat. Meski tebakan pemuda itu hampir terasa benar, tapi ia masih berusaha untuk mengelak. "Buk-bukan. Aku cuma-" "Nggak papa. Pelan-pelan aja, Kak! Pria itu berjalan ke arah Lady. Berhenti di seberang Lady, dan menatap Lady begitu dalam. "Pelan-pelan Kakak akan menerimaku, lalu mulai membuka hatimu untukku. Tidak perlu terburu-buru. Karena aku punya waktu seumur hidup untuk menunggumu," lanjut Narren yang akhirnya membuat Lady hanya bisa menggigit bibirnya sendiri. "Narren!" Lady melempar serbet di dekatnya ke arah dapur, yang tentu saja dengan mudah ditangkap oleh Narren sambil tertawa. Di tengah kebisingan kepalanya dan rasa takut akan masa depan, Lady merasakan setitik kebahagiaan yang asing. Ia menatap Narren yang kembali fokus pada masakannya, dan dalam hati ia berbisik, "Tuhan, jika ini adalah sebuah kesalahan, tolong biarkan aku menikmati kesalahan yang indah ini sedikit lebih lama." Narren terus memasak dengan tenang, sementara Lady hanya bisa terus terpukau, terperangkap makin dalam pada pesona pria yang kini secara resmi telah berstatus sebagai suaminya kemarin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN