"Bagaimana caranya aku menghasilkan uang delapan milyar dalam waktu kurang dari dua bulan?" Langkah kaki Lady terasa berat saat menyusuri lorong apartemen. Kata-kata ayahnya masih berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak yang menyiksa. Di ujung lorong, pintu lift terbuka dengan denting yang tajam. Lady nyaris menabrak sesosok tubuh tinggi yang tampak terburu-buru keluar dari sana. "Kak Lady?!" Lady mendongak, mendapati Narren berdiri di depannya dengan wajah yang merah padam. Rambut pria itu berantakan, dan kemejanya sedikit kusut. "Narren? Kamu mau ke mana—" "Dari mana saja kamu?!" Narren menyambar kedua bahu Lady, mencengkeramnya sedikit terlalu kuat hingga Lady meringis. "Aku telepon puluhan kali tidak diangkat! Pesanku tidak dibalas! Aku cek CCTV area bawah, mobilmu tid

