"Nasib puluhan karyawan ada di tanganmu." Lady tahu ayahnya telah memanipulasinya. Namun, bayangan wajah-wajah para staf di kantor yang menggantungkan hidup pada gaji bulanan mereka membuat Lady tidak bisa diam saja. Ia tidak bisa membiarkan puluhan orang kehilangan pekerjaan hanya karena skandal pernikahannya yang gagal. "Maafkan aku, Narren. Aku tidak bisa hanya bersembunyi di sini sementara orang-orang di sekitarku hancur," bisik Lady pelan pada ruangan yang kosong. Dengan gerakan cepat, Lady mengganti piyamanya dengan setelan blazer formal. Ia memoles wajahnya tipis untuk menutupi sembap di matanya, lalu menyambar kunci mobil dan tasnya. Ia melangkah keluar dengan tekad bulat, menuju kantor ayahnya tanpa memberi tahu Narren. Setelah menempuh perjalanan selama lebih dari tiga puluh

