Dalam keheningan apartemen yang begitu mencekam, Lady hanya bisa mendengar suara isak tangisnya sendiri. Ia merasa seperti pecundang besar. Seluruh harga diri yang ia bangun bertahun-tahun sebagai wanita karier yang mandiri hancur berkeping-keping dalam satu hari.
"Aku nggak punya apa-apa lagi sekarang..." ratapnya pelan. "Pekerjaan hilang, Ayah benci aku, Harris mengkhianatiku. Dan sekarang... Narren juga nggak ada."
Namun, di tengah keputusasaan itu, Lady merasakan sebuah sentuhan hangat mendarat di lengan atasnya. Lady tersentak, kelopak matanya yang sembab dan lengket perlahan terbuka.
Melalui kabut air mata, ia melihat sesosok pria berlutut di depannya. Narren. Pemuda itu masih mengenakan pakaian rapi. Tatapannya begitu dalam, dipenuhi rasa khawatir.
"Kamu kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa menangis seperti ini?"
Lady terpaku sejenak. Melihat wajah Narren kembali ada di depannya seolah-olah menjadi oase di tengah padang pasir yang gersang. Ketakutan akan ditinggalkan mendadak sirna, berganti dengan luapan emosi yang membuncah.
Tanpa sepatah kata pun, Lady langsung menghambur ke pelukan Narren. Ia melingkarkan lengannya di leher pria itu begitu erat, seakan-akan jika ia melepaskannya sedikit saja, Narren akan kembali hilang.
Lady kembali menangis, kali ini jauh lebih kencang. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Narren, membasahi kemeja pria itu dengan air mata.
"Hei, hey... tenanglah," bisik Narren. Ia mencoba mengurai pelukan itu untuk menatap wajah Lady.
"Katakan padaku, siapa yang menyakitimu di kantor tadi? Apa Harris datang ke sana? Atau ayahmu mengancammu? Cerita padaku."
Lady hanya menggeleng kuat-kuat. Lidahnya kelu. Rasa sesak di dadanya membuatnya tidak bisa mengeluarkan satu kata pun selain isakan yang tersengal-sengal.
Narren menghela napas panjang. Ia tahu Lady belum siap untuk membagikan cerita itu padanya.
Ia mengusap rambut Lady lembut, menyisir helaian rambut yang berantakan itu dengan jari-jarinya. Tangannya yang lain bergerak mengusap punggung Lady, memberikan kehangatan yang perlahan-lahan meredakan getaran di tubuh wanita itu.
"Sshhh... sudah. Aku di sini. Aku tidak akan ke mana-mana," gumam Narren.
Narren kemudian bangkit berdiri tanpa melepaskan Lady. Ia justru mengangkat tubuh Lady dengan mudah dan membawanya duduk di sofa. Alih-alih mendudukkan Lady di sampingnya, Narren membiarkan Lady tetap berada di pangkuannya, mendekapnya erat seperti melindungi permata yang paling berharga.
Hampir sepuluh menit berlalu dalam diam, hanya terdengar suara napas Lady yang perlahan mulai teratur. Kehangatan tubuh Narren dan aroma maskulin yang menguar dari pria itu seolah menjadi obat bius yang paling ampuh. Lady perlahan mengurai pelukannya, menyeka matanya dengan punggung tangan yang gemetar.
Narren menarik tangan Lady, lalu menggunakan ibu jarinya untuk mengusap sisa-sisa air mata di pipi Lady.
"Sekarang, sudah merasa lebih tenang? Sudah siap bercerita?" tanya Narren lembut.
Lady tersadar sepenuhnya. Ia menyadari posisinya yang sedang duduk di pangkuan Narren. Rasa malu mendadak menyergapnya.
"N-Narren... maaf. Aku... aku bisa duduk sendiri. Maaf aku sudah berlebihan tadi." Lady berusaha bangkit dari pangkuan suaminya.
Namun, alih-alih melepaskannya, tangan Narren justru semakin kuat melingkar di pinggang ramping Lady. Ia menahan posisi itu dengan tegas, membuat Lady kembali terduduk diam di tempatnya.
"Narren, lepas! Ini tidak sopan!" protes Lady dengan wajah yang kini memerah karena malu.
"Tidak sopan kepada siapa? Kita sudah sah secara hukum dan agama, Kak," sahut Narren dengan nada bicara yang berubah menjadi dominan. Matanya menatap Lady tajam, menuntut penjelasan.
"Aku tidak akan melepaskanmu sampai kamu menceritakan apa yang terjadi di kantor tadi. Kenapa pulang-pulang kamu menangis seperti ini? Siapa yang menyakitimu?"
Lady memalingkan wajahnya, menghindari kontak mata. "Bukan apa-apa. Aku cuma capek saja."
Lady takut, jika Narren tahu ia kehilangan pekerjaannya, pemuda itu juga akan meninggalkannya. Posisinya saat ini benar-benar lemah. Tak ada lagi yang bisa ia banggakan di depan suami mudanya itu.
Narren tidak menerima jawaban itu. Ia meraih dagu Lady, memutar wajah wanita itu agar kembali menatapnya. "Jangan berbohong padaku. Tatap mataku. Ingat apa yang kukatakan di gereja tadi? Sekarang kita suami istri. Kita tinggal bersama, bernapas di bawah atap yang sama. Aku ingin kamu terbuka. Jangan ada rahasia, Lady."
Lady menatap mata Narren. Ada keteduhan yang luar biasa di sana. Namun juga ada kekuatan yang memaksanya untuk menyerah. Bibir Lady bergetar, keraguannya masih ada, meski perlahan runtuh karena ia merasa tak sanggup lagi memikul beban ini sendirian.
"Narren... aku... aku benar-benar telah kehilangan semuanya sekarang. Setelah aku melepas Harris, memilih pergi dari Ayah. Dan sekarang..." Lady menggantungkan ucapannya.
Lady menatap Narren dengan pandangan yang penuh permohonan. "Sebelum aku cerita lebih jauh... janji dulu sama aku. Janji kamu nggak akan pergi ninggalin aku setelah kamu tahu apa yang terjadi hari ini. Tolong... aku nggak kuat kalau harus kehilangan satu orang lagi. Hanya kamu yang ada di sisiku saat ini."
Dengan tegas, Narren mengangguk. "Aku janji. Demi Tuhan, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kamu adalah tanggung jawabku sekarang. Apapun kondisimu, aku akan tetap di sini."
Narren memegang kedua pipi wajah Lady, menatapnya dengan teduh untuk memberi kesan aman dan setia. "Katakan padaku, Lady. Ada apa?"
Lady menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa keberaniannya. "Pak Burhan... dia baru saja memberitahuku kalau pengunduran diriku sudah disetujui. Dan besok adalah hari terakhirku bekerja."
Lady tertawa getir, tawa yang penuh dengan rasa sakit. "Lucu kan? Selama ini aku pamer padamu kalau aku wanita mandiri yang mapan. Aku bisa menghidupimu dan memberimu kehidupan yang layak saat bersamaku. Tapi sekarang... aku pengangguran, Narren. Aku sudah nggak punya apa-apa lagi."
Suaranya kembali mengecil. "Bukan cuma itu. Tabunganku... tabunganku benar-benar ludes untuk biaya pernikahan dengan Harris kemarin. Aku pikir Harris akan menggantinya setelah kami sah, tapi nyatanya? Dan sekarang, Ayah sudah memblokir semua akses debit dan kredit card-ku... aku nggak punya uang, Narren. Aku jatuh miskin."
Lady mulai terlihat kalut lagi. Ia mencengkeram kemeja Narren. "Kamu pasti kecewa kan? Kamu nikah sama aku karena kamu pikir aku punya uang dan bisa jamin hidupmu. Tapi sekarang aku justru bakal jadi beban buat kamu. Kamu pasti bakal mikir buat ninggalin aku karena aku nggak berguna lagi. Iya kan? Bilang saja, Narren! Kamu mau pergi sekarang?"
Lady mulai meracau, ketakutannya mengaburkan logika. Ia merasa seperti barang rongsokan yang tidak diinginkan siapapun. "Aku nggak punya apa-apa lagi! Aku nggak punya uang, nggak punya jabatan, nggak punya keluarga! Kamu boleh pergi sekarang kalau mau!"
Tiba-tiba, Narren menarik kepala Lady dan mendekapkannya ke dadanya yang bidang. Ia memeluk Lady dengan sangat erat, seolah ingin menyerap semua kegelisahan perempuan itu.
"Sshhh... diamlah, Lady. Cukup," bisik Narren.
Lady terdiam. Kepalanya bersandar di d**a Narren.
"Dengarkan detak jantungku," perintah Narren lembut. "Apa kamu bisa merasakannya? Aku nggak peduli dengan uang kamu. Yang aku khawatirkan adalah kamu."
"Hanya kehilangan pekerjaan, kan? Syukurlah... setidaknya aku tahu kamu tidak terluka," imbuh pria itu.
Lady hanya bisa terdiam, merasakan kehangatan yang menjalar dari tubuh Narren ke tubuhnya.
"Dengarkan aku! Itu bukan masalah besar. Bahkan itu sama sekali bukan masalah buatku. Aku menikahimu karena aku memang ingin melakukannya. Kamu pikir aku selemah itu sampai harus hidup dari uang wanita?"
"Tapi... tapi aku sudah janji mau biayain kamu..." cicit Lady.
Narren tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat tulus di telinga Lady. "Biarkan itu jadi janji masa lalu. Sekarang, biarkan aku yang membuktikan janji pernikahanku. Soal pekerjaan, soal uang... jangan pernah pikirkan itu lagi. Aku suamimu, Lady. Tugas mencari nafkah itu ada di pundakku, bukan di pundakmu."
Lady mendongak sedikit, menatap Narren tidak percaya. "Tapi kamu kan... kamu kan belum kerja, Narren. Kamu mau cari uang dari mana secepat ini?"
Narren memberikan senyum misterius yang terlihat sangat memesona di mata Lady. "Kamu lupa kalau suamimu ini punya banyak kenalan? Jangan meremehkan aku, Kak. Aku mungkin terlihat muda, tapi aku tidak sebodoh yang kamu kira. Aku punya simpanan yang cukup untuk menghidupimu lebih dari sekadar layak."
"Tapi—"
"Tidak ada tapi-tapi. Mulai besok, kamu tidak perlu pusing mencari kerja baru. Istirahatlah. Tenangkan pikiranmu. Biarkan aku yang bekerja di luar. Kamu hanya perlu percaya padaku. Bisa?"
Lady menatap mata Narren lama. Ia melihat keteguhan dan tanggung jawab yang besar di sana. Perlahan, Lady mengangguk.
"Terima kasih, Narren... terima kasih banyak," bisik Lady.
Narren kembali mengeratkan pelukannya. "Jangan pernah bilang kamu sendirian lagi. Kamu punya aku. Selamanya."
Di dalam dekapan hangat itu, Lady merasa seolah-olah beban berat yang menghimpitnya selama ini perlahan-lahan terangkat.
Meski masa depannya masih belum jelas, tapi kehadiran Narren di sisinya memberikan satu alasan bagi Lady untuk tetap bertahan.
Ia tidak tahu siapa Narren sebenarnya, atau dari mana ia akan mendapatkan uang, tapi entah kenapa ia begitu percaya dengan ucapan pria itu.
"Narren... jangan pernah lepasin aku ya?" gumam Lady sebelum ia benar-benar merasa tenang dan kantuk mulai menyerangnya karena kelelahan.
"Tidak akan, Lady. Tidak akan pernah," jawab Narren pelan, mencium puncak kepala istrinya dengan penuh janji.