18 - Satu-Satunya Milikku

1234 Kata
Malam telah tiba, membawa suhu udara yang semakin dingin menyelinap melalui celah ventilasi apartemen. Di dalam kamar yang hanya diterangi oleh lampu tidur temaram, suasana terasa begitu kontras dengan badai emosi yang melanda beberapa jam lalu. Lady tertidur lelap dalam posisi meringkuk. Kedua lengannya melingkar erat di pinggang Narren, seolah pria itu adalah satu-satunya penopang yang ia miliki saat ini. Bahkan dalam tidurnya, napas Lady masih sesekali tersengal, sisa dari tangisan hebat yang menguras seluruh energinya seharian. Narren bersandar di kepala ranjang, membiarkan dirinya menjadi sandaran bagi istrinya. Tangannya bergerak, mengusap bahu Lady dengan gerakan yang sangat lembut. Ia menatap wajah Lady yang tampak begitu rapuh. Mata yang sembab, pipi yang masih sedikit memerah, dan bibir yang sesekali bergetar. "Kamu terlalu banyak memikul beban sendirian," gumam Narren sangat pelan, nyaris seperti bisikan angin. "Mulai sekarang, biarkan aku yang memikul semuanya untukmu." Tiba-tiba, keheningan itu pecah oleh getaran ponsel Lady di atas nakas. Cahaya layar ponsel yang terang benderang menyilaukan mata Narren. Ia melirik layar itu dan rahangnya seketika mengeras saat melihat nama yang tertera di sana. Harris. Narren melirik Lady yang masih terlelap. Ia tidak ingin kebisingan ini membangunkan istrinya yang baru saja menemukan kedamaian. Dengan gerakan cepat, Narren meraih ponsel itu dan menggeser tombol hijau. Ia tidak meletakkan ponsel itu di telinganya, melainkan hanya menjauhkannya sedikit dari Lady. "Halo?" suara Narren terdengar sangat dingin, seolah-olah suhu di ruangan itu mendadak turun beberapa derajat. "Heh! Siapa ini?! Mana Lady?! Berikan teleponnya pada calon istriku sekarang juga!" Suara Harris terdengar meledak-ledak di seberang sana. Pria itu terdengar sangat kacau, mungkin sedang di bawah pengaruh alkohol atau hanya sekadar dikuasai ego yang terluka. Narren melirik Lady sekali lagi, memastikan wanita itu tidak terganggu. Sebuah senyum miring yang penuh penghinaan muncul di wajahnya. "Calon istri?" Narren terkekeh rendah, suara tawanya terdengar sangat berbahaya. "Sepertinya ingatanmu sedang bermasalah, Pak Harris. Lady sudah bukan siapa-siapa bagimu sejak kamu memilih untuk menghianatinya. Dan asal kamu tahu, dia tidak bisa bicara sekarang. Dia sudah tidur. Di sampingku." Di seberang telepon, terdengar suara umpatan kasar. Harris sepertinya mulai menyadari siapa yang sedang bicara dengannya. "Kau si berondong sialan itu, kan?! Apa maksudmu dia sudah tidur?! Ini baru jam sepuluh malam! Dan apa katamu? Dia tidur di sampingmu? Tidak mungkin. Lady bukan perempuan yang seperti itu!" Narren menyipitkan matanya. Namun seringaian di bibirnya semakin menajam. "Seperti itu bagaimana maksudmu? Jika maksudmu wanita yang layak untukmu, tentu dia bukan. Kamu dan dia sama sekali tidak cocok. Dia sudah jadi milikku sekarang." "b******n! KAU BERANI MENYENTUHNYA?! Lady itu milikku! Ayahnya sudah menyerahkannya padaku! Kau tidak punya hak apa pun atas dia!" teriak Harris penuh amarah. Narren mendengarkan makian itu dengan raut wajah bosan. Ia menyesuaikan posisi duduknya, tetap membiarkan Lady bersandar di dadanya. "Hak? Kamu bicara soal hak setelah kamu mengkhianati dan membiarkannya menangis sendirian? Lucu sekali. Biar aku perjelas satu hal padamu, Pak Harris. Lady bukan lagi milik keluarganya, dan dia jelas bukan milikmu. Dia milikku. Secara hukum, secara agama, dan secara utuh. Dia adalah istriku." Hening sejenak di seberang sana, sebelum Harris kembali berteriak seperti orang kesurupan. "Istri?! Jangan membual, bocah! Kau pikir aku bodoh?! Lady tidak mungkin menikah dengan gembel sepertimu dalam waktu sesingkat ini! Dengarkan aku, sekarang juga keluar dari apartemennya atau aku akan menghancurkanmu!" Narren hanya tersenyum kecut. "Hancurkan aku? Silakan coba. Tapi sebelumnya, biarkan aku menikmati waktu istirahatku dengan istriku. Kami cukup lelah setelah acara pemberkatan hari ini." "KAU—! Dengar ya, aku sekarang ada di depan pintu apartemen Lady! Aku di depan lobi!" Suara Harris terdengar semakin histeris. "Kalau Lady tidak segera turun dan menemuiku, aku akan mendobraknya! Aku akan membuat keributan di gedung ini sampai Lady malu dan diusir dari sini!" Seketika, senyum di wajah Narren menghilang. Matanya berubah menjadi tajam, memancarkan aura predator yang siap menerkam. Keberanian Harris untuk datang dan mengancam ketenangan Lady adalah kesalahan fatal yang tidak bisa dimaafkan. "Kamu di depan?" tanya Narren dengan suara yang sangat tenang, namun siapa pun yang mengenalnya tahu bahwa ketenangan ini adalah tanda badai besar akan datang. "IYA! AKU DI DEPAN! DAN AKU TIDAK AKAN PERGI SAMPAI LADY KELUAR!" "Baiklah," ucap Narren pendek. Tanpa menunggu balasan lagi, Narren mematikan sambungan telepon itu secara sepihak. Ia meletakkan ponsel Lady kembali ke nakas dengan gerakan pelan agar tidak menimbulkan bunyi. Narren kemudian merogoh ponsel miliknya sendiri dari saku jas yang tersampir di kursi dekat ranjang. Ia menekan sebuah nomor singkat. "Tuan Muda?" suara di seberang sana langsung menyahut dengan sigap. "Ada lalat pengganggu di depan lobi apartemen istriku. Namanya Harris," ucap Narren. Suaranya tidak lagi menunjukkan emosi. "Perlu kami bawa ke mana, Tuan Muda?" "Bawa dia ke tempat yang sepi. Beri dia sedikit pelajaran tentang tata krama dan cara menghormati milik orang lain," ucap Narren dingin. "Pastikan dia tidak punya keberanian lagi untuk menginjakkan kaki di radius satu kilometer dari gedung ini. Dan satu lagi... pastikan dia tidak bisa menghubungi nomor Lady lagi. Selamanya." "Dimengerti, Tuan Muda. Dalam lima menit, area lobi akan steril." "Bagus." Narren mematikan ponselnya. Ia menarik napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa amarahnya sebelum kembali fokus pada sosok yang ada di pelukannya. Ia menunduk, menatap Lady yang sempat bergerak karena suara bising tadi, namun kembali tenang setelah Narren menepuk-nepuk bahunya pelan. Narren mengulurkan tangannya, membelai wajah Lady dengan ujung jarinya. Ia menelusuri garis rahang Lady, lalu jemarinya berhenti di pipi yang tadi sempat basah oleh air mata. Sebuah kekehan kecil lolos dari bibir Narren. Ia teringat percakapan mereka sore tadi saat Lady tampak hancur karena kehilangan pekerjaan. "Dasar bodoh. Kamu menangis seolah-olah dunia kiamat hanya karena tidak punya pekerjaan. Kamu takut aku akan meninggalkanmu karena kamu tidak punya uang lagi?" Narren menggelengkan kepalanya pelan, matanya memancarkan rasa sayang yang sangat dalam, bercampur dengan kepemilikan yang obsesif. "Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu, Lady? Kamu bahkan tidak tahu kalau aku bisa membeli perusahaan tempatmu bekerja itu hanya dengan satu jentikan jari jika aku mau." Ia teringat betapa kalutnya Lady tadi, mengira dirinya hanya akan menjadi beban. Lady yang malang, dia benar-benar mengira suaminya ini adalah pemuda jalanan yang butuh belas kasihan. "Kamu pikir aku menikahimu untuk uangmu?" gumam Narren lagi. "Aku sudah menjatuhkan tujuanku padamu saat kamu menciumku hari itu. Aku hanya menunggu waktu yang tepat agar kamu sendiri yang menarikku masuk ke dalam hidupmu. Dan sekarang... kamu sendiri yang mengunci pintunya." Narren mendekatkan wajahnya, mengecup kening Lady dengan sangat lama. Kecupan itu bukan hanya sekadar tanda sayang, tapi sebuah segel kepemilikan. Ia menghirup aroma rambut Lady yang wangi lavender, aroma yang mulai menjadi favoritnya. "Jangan pernah takut akan kekurangan apa pun selama bersamaku," bisik Narren di dekat telinga Lady. "Aku akan memberikan dunia padamu, asalkan kamu tetap berada di sisiku seperti ini. Jangan pernah berpikir untuk pergi, karena aku tidak akan pernah melepaskan apa yang sudah menjadi milikku." Narren kemudian membenahi posisi tidurnya. Ia berbaring sepenuhnya di sisi Lady, membiarkan wanita itu tetap memeluknya. Ia menarik selimut hingga menutupi bahu mereka berdua, lalu melingkarkan lengannya yang kokoh di pinggang Lady, menarik tubuh istrinya itu semakin merapat tanpa celah. Dalam kegelapan kamar itu, Narren menatap langit-langit dengan tatapan waspada. Di luar sana, anak buahnya mungkin sedang menyeret Harris menjauh dari hidup mereka. Besok, ia akan memastikan Lady bangun dalam keadaan damai, tanpa perlu tahu bahwa ada monster yang baru saja ia usir dari depan pintunya. "Tidurlah yang nyenyak, Istriku," ucap Narren sebelum akhirnya ia memejamkan mata, membiarkan dirinya terhanyut dalam kehangatan pelukan Lady yang begitu tulus. "Besok, duniamu akan jauh lebih indah dari hari ini. Aku jamin itu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN