19 - Kabar Baik

1193 Kata
Pagi menyapa dengan suasana yang sedikit mendung di luar jendela apartemen, seolah mewakili perasaan Lady yang masih diselimuti mendung abu-abu. Lady keluar dari kamar tidurnya dengan langkah lesu. Rambutnya sedikit berantakan, dan meskipun matanya tidak selembap semalam, aura kesedihan itu masih terpancar jelas dari bahunya yang merosot. Begitu sampai di area ruang tengah, aroma harum bawang putih yang ditumis dengan mentega menyapa indra penciumannya. Ia melihat Narren di sana, sudah rapi dengan kaus polos berwarna biru navy yang membungkus tubuh atletisnya, sibuk di depan kompor. "Pagi, Istriku," sapa Narren tanpa menoleh, seolah ia punya mata di belakang kepalanya. "Baru mau aku bangunkan. Tidurmu nyenyak?" Lady tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat ke arah dapur, berdiri di samping Narren dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ia menatap punggung lebar suaminya itu dengan perasaan bersalah yang amat dalam. "Narren..." panggil Lady lirih. Narren mematikan kompor, lalu berbalik sambil tersenyum hangat. "Ya? Kenapa wajahnya ditekuk begitu? Harusnya pengantin baru bangun dengan senyuman, kan?" Lady mengabaikan candaan itu. Ia meraih spatula yang ada di dekat Narren. "Sini, biar aku saja yang lanjut. Kamu duduk saja. Kamu sudah menyiapkan sarapan kemarin, masa hari ini masak lagi. Aku bisa bantu apa? Potong sayur? Cuci piring? Intinya, aku mau bantu." Narren menahan tangan Lady, mengambil kembali spatula itu dengan gerakan lembut. "Tidak perlu. Tinggal sedikit lagi. Kamu duduk saja di meja makan." "Tapi, Narren!" Lady bersikeras, suaranya sedikit meninggi karena frustrasi. "Aku tidak enak kalau cuma diam. Aku takut kamu merasa berat melakukan pekerjaan rumah sendirian. Apalagi... apalagi setelah kamu tahu kalau aku sekarang sudah tidak punya apa-apa. Aku tidak bisa lagi menjamin hidupmu seperti janjiku di awal. Kalau aku tidak bisa kasih uang, setidaknya biarkan aku jadi asisten rumah tangga yang berguna di sini." Narren terdiam sejenak, menatap Lady dengan tatapan yang sangat dalam. Ia meletakkan spatula, lalu menuntun Lady menuju kursi meja makan, menekan bahunya pelan agar wanita itu duduk. "Dengar ya. Kamu bukan asisten rumah tangga. Kamu istriku. Pekerjaan rumah bukan beban buatku. Oh ya, omong-omong, bahan makanan di kulkas sudah mulai menipis karena aku masak besar kemarin. Setelah sarapan, aku mau ajak kamu belanja bulanan. Kita butuh stok untuk seminggu ke depan." Mendengar kata 'belanja', Lady langsung tersentak. Ia teringat saldo di rekeningnya yang sangat kritis. Namun, harga dirinya sebagai wanita yang lebih dewasa mencoba bertahan. "Belanja? Oke, aku ikut. Jangan khawatir soal biayanya. Tabunganku... ya, meskipun sudah menipis banget buat bayar vendor pernikahan yang gagal kemarin, tapi buat belanja bulanan masih ada. Pakai uangku saja." Narren tiba-tiba terkekeh. Suara tawanya terdengar renyah, membuat Lady sedikit tersinggung. "Kenapa tertawa? Aku serius! Aku belum sampai semiskin itu kok," protes Lady. "Lucu saja melihatmu tetap berusaha keras jadi wanita provider di depanku," ucap Narren sambil mencubit pelan hidung Lady. "Biar kali ini aku yang bayar. Semuanya. Aku yang tanggung belanjaan hari ini." Lady menggeleng kuat. "Jangan! Kamu kan belum punya penghasilan, Narren. Kamu mau pakai uang dari mana? Uang sakumu? Jangan gaya-gayaan. Aku masih bisa nanggung biaya hidup kita berdua untuk sebulan ini, kok. Aku masih punya beberapa perhiasan yang bisa kujual kalau memang mendesak." Narren berdiri, ia berjalan kembali ke kompor dan memindahkan masakan ke atas piring. Ia membawanya ke meja makan, lalu meletakkannya di depan Lady. Bukannya langsung makan, Narren justru menggenggam kedua tangan Lady di atas meja. Sentuhan itu membuat jantung Lady berdegup kencang secara tiba-tiba. Kulit tangan Narren yang hangat dan kokoh seolah mengirimkan aliran listrik ke seluruh tubuhnya. "Ada apa sih? Jangan pegang-pegang, aku lagi serius bahas finansial kita!" cicit Lady, meski ia tidak menarik tangannya. "Aku punya kabar baik," ucap Narren, matanya berkilat cerah. "Kabar baik apa?" Narren tersenyum bangga. "Aku sudah dapat kerja. Mulai besok aku masuk." Lady membelalakkan matanya. "Hah? Secepat itu? Di mana?" "Hotel Marryland," jawab Narren singkat. Lady nyaris tersedak ludahnya sendiri. "Marryland? Itu kan hotel bintang lima paling elit di kota ini! Kamu... kamu kerja jadi apa di sana? Kok bisa langsung diterima?" Lady bukannya tidak senang, tapi ia kaget. Hotel Marryland adalah tempat yang sangat sulit ditembus, bahkan untuk posisi staf administrasi sekalipun. Namun, setelah rasa kaget itu lewat, wajah Lady mendadak berubah menjadi semakin sedih. Ia menundukkan kepalanya, menatap tautan tangan mereka. "Loh, kenapa? Kamu tidak senang suamimu dapat kerja?" tanya Narren, mengernyit bingung melihat perubahan ekspresi Lady. Lady memaksakan sebuah senyum tipis yang tampak sangat pahit. "Senang... tentu saja aku senang. Tapi..." "Tapi apa?" "Tapi, kalau kamu sudah punya penghasilan sendiri, kalau kamu sudah bisa menghidupi dirimu sendiri tanpa bantuanku... itu artinya kamu akan segera meninggalkanku, kan?" bisik Lady lirih. "Tujuan awal kamu mau nikah sama aku kan karena kamu butuh tumpangan dan jaminan hidup. Sekarang kamu sudah dapat kerja bagus di Marryland. Sedangkan aku malah jatuh, nggak bisa kasih apa-apa lagi ke kamu. Jadi, kamu sudah tidak membutuhkanku lagi." Narren menghela napas panjang, ia meremas tangan Lady sedikit lebih erat. "Kak, lihat aku." Lady mendongak pelan. "Aku tidak akan ke mana-mana. Justru karena aku sudah dapat kerja, aku merasa lebih layak berdiri di sampingmu. Aku yang akan gantian menanggung hidup kita berdua. Aku akan menjalankan peranku sebagai suami mulai sekarang. Kamu tidak perlu pusing lagi soal uang belanja atau tagihan. Biarkan aku yang tanggung." Lady bicara dalam hatinya, "Duh, Narren... kamu itu polos banget atau gimana sih? Kamu kan baru lulus, paling-paling di Marryland jadi staf junior atau bagian back office. Gaji fresh graduate di sana paling berapa sih? Memang cukup buat bayar maintenance apartemen ini, listrik, wifi, belum lagi gaya hidup kita? Marryland itu elit, tapi kalau posisi bawah, gajinya pasti kecil. Aku takut nanti dia stres sendiri karena harus menanggung aku yang sudah biasa hidup nyaman." Lady merasa tidak enak jika harus mengungkapkan keraguannya soal nominal gaji Narren. Ia tidak ingin melukai harga diri pria yang baru saja bersemangat itu. "Narren, Marryland itu lingkungannya keras. Gajinya mungkin... ya, cukup buat kamu, tapi kalau buat kita berdua... Aku juga tidak mau berdiam diri. Aku akan segera cari kerja lagi. Aku akan lamar ke perusahaan apa saja. Aku tidak mau jadi beban kamu." Narren tersenyum manis, sebuah senyum yang tampak begitu tulus hingga membuat Lady merasa sedikit tenang. "Tidak ada yang merasa terbebani di sini, Kak. Kamu istriku, bukan beban. Kalau aku bilang aku mampu, artinya aku mampu. Sekarang, jangan dipikirkan lagi. Makanlah sarapanmu." Narren melepaskan tangan Lady dan mempersilakan wanita itu untuk mulai makan. "Ayo, habiskan. Ikan dorinya enak kalau masih hangat. Setelah ini kita belanja. Aku mau beli banyak daging dan stok camilan buat kamu, supaya kamu nggak melamun terus kalau aku tinggal kerja nanti." Lady menyuapkan makanan itu ke mulutnya dengan pikiran yang masih bising. Ia menatap Narren yang mulai makan dengan lahap di hadapannya. "Dia terlihat sangat yakin. Tapi aku tetap nggak bisa tenang. Aku harus tetap cari kerja. Aku nggak mau suatu hari nanti Narren menyesal menikahiku karena aku menghabiskan masa mudanya untuk membiayai hidupku. Tapi... kenapa dia bisa dapat kerja di Marryland secepat itu, ya?" "Enak?" tanya Narren memecah lamunan Lady. "Eh? Iya, enak banget," sahut Lady gugup. "Bagus. Karena mulai sekarang, kamu harus terbiasa dengan hidup yang lebih baik. Aku janji, kamu nggak akan pernah kesusahan lagi," ucap Narren dengan nada bicara yang terdengar lebih seperti janji seorang pria dewasa. Lady hanya bisa mengangguk, mencoba mempercayai suaminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN