Lady merasa telapak tangannya sedikit berkeringat. Ia mendorong troli dengan ragu, matanya terus melirik ke arah Narren yang berjalan dengan langkah santai di sampingnya. Narren tampak begitu bersemangat memilih berbagai bahan makanan di sekitar mereka.
"Narren," bisik Lady saat mereka sampai di rak daging. "Kamu yakin mau ambil yang ini? Ini daging sapi impor, harganya mahal sekali."
Narren tidak menoleh, tangannya justru meraih dua bungkus wagyu ribeye dengan marbling yang sempurna. "Kandungan proteinnya bagus. Kemarin kamu bilang ingin makan steak, kan? Aku akan masakkan nanti malam."
"Tapi kan kita bisa beli daging lokal biasa saja. Narren, dengar ya, kamu baru mulai kerja besok. Kita belum tahu berapa gaji pertamamu. Kita harus hemat. Bagaimana kalau nanti uangmu habis sebelum akhir bulan?"
Narren menoleh, memberikan senyum yang terlihat sangat tenang. "Jangan khawatir. Aku sudah bilang, kan? Uang bukan masalah. Lagipula, istriku tidak boleh makan sembarangan."
Lady hanya bisa menelan ludah saat melihat Narren beralih ke rak buah-buahan. Pria itu mengambil dua keranjang stroberi Korea dan sekotak blueberry.
"Duh, Narren... kamu benar-benar tidak punya konsep manajemen keuangan ya?" batin Lady merana. "Apa dia pikir gaji pegawai biasa di hotel itu besar? Apa lagi dia masih baru. Bisa jadi belum akan terima gaji full bulan ini."
"Narren, tunggu!" Lady menahan lengan Narren saat pria itu hendak mengambil sebotol minyak zaitun extra virgin dari Italia. "Itu harganya tiga kali lipat dari minyak biasa! Narren, tolonglah... beli yang biasa saja, ya! Aku janji setelah aku dapat kerja lagi nanti, kamu boleh beli semua bahan premium itu lagi."
Narren tertawa kecil, suara tawanya memantul di antara rak-rak supermarket. Ia meletakkan botol minyak itu di troli dan merangkul bahu Lady, menariknya mendekat.
"Kenapa kamu sangat tidak percaya pada suamimu sendiri, hm?" tanya Narren dengan nada rendah yang menggoda.
"Bukan begitu. Hanya saja-"
"Ssstt... sudah. Daripada mikirin harga-harga belanjaan kita, mending kamu pilih camilan buat kita sana! Ambil beberapa es krim dan jajanan!"
Lady mendengus. Ia mengambil beberapa snack kesukaannya lalu ia masukkan ke dalam troli.
Sepanjang proses pemindaian barang di kasir, Lady benar-benar merasa gugup. Angka di layar monitor terus bergerak naik, melampaui angka satu juta, lalu dua juta, hingga berhenti di angka yang membuat Lady ingin pingsan.
"Totalnya tiga juta delapan ratus ribu rupiah, Pak," ucap kasir itu dengan sopan.
Lady buru-buru merogoh tasnya, mencari dompetnya dengan tangan gemetar. "Pakai uangku saja, Narren. Aku ada sisa dikit di kartu ini, mungkin masih bisa—"
"Tidak perlu, Kak," potong Narren tegas.
Lady terdiam saat melihat Narren mengeluarkan sebuah kartu berwarna platinum dari dompetnya.
"Hah? Dari mana dia dapat kartu seperti itu?" pikiran Lady mulai liar.
Transaksi berhasil.
"Terima kasih, kami tunggu kedatangannya kembali," ucap kasir itu dengan ramah.
Narren menenteng kantong-kantong belanjaan besar itu dengan santai, sementara Lady mengikuti di belakangnya dengan tatapan kosong. Pikirannya benar-benar bising.
"Hey, kenapa melamun?"
Lady mengejap. Akhirnya ia sadar kalau sekarang mereka telah sampai di parkiran. "Kartu itu... milikmu? Kamu punya debit card platinum? Aku yang gajinya hampir dua kali UMK aja masih pakai yang silver. Bukannya biaya admin bulanan dan yang lainnya lebih mahal ya?"
Narren berhenti di depan bagasi mobil Lady, menaruh belanjaan di sana, lalu berbalik menatap Lady. "Memang iya, ya? Aku baru tahu."
Bagi Narren itu hanyalah kartu biasa. Salah satu kartu yang ia miliki. Sesuatu yang menurut Narren harusnya tak akan membuat Lady curiga, tidak seperti sebuah kartu yang berwarna hitam pekat di dompetnya.
"Kamu nggak tahu kalau debit card itu ada tahapan-tahapannya? Kalau yang aku pakai, warnanya silver. Itu udah cukup banget buat transaksi sehari-hari orang kayak kita. Biaya bulanan kartu lebih murah. Di atas silver ada yang gold, dengan limit lebih besar. Dan punyamu tadi... platinum. Itu biasa dipakai untuk transaksi tiga digit."
Narren menghela napas, dia melangkah mendekat ke arah Lady. "Aku benar-benar nggak tahu kalau bisa beda-beda begitu."
Lady menghela napas panjang. "Pasti kamu ditipu sama tellernya. Duh... sayang banget potongan bulanannya padahal. Besok-"
Saat Lady belum selesai bicara, ponsel di saku celana Narren bergetar. Narren melirik layar ponselnya, dan raut wajahnya berubah sedikit serius.
"Aku angkat telepon dulu sebentar. Kamu tunggu di sini dulu ya?" ucap Narren.
"Telepon dari siapa? Dari kantor baru kamu?" tanya Lady penasaran.
"Bisa dibilang begitu. Tunggu sebentar ya, jangan ke mana-mana." Narren menjauh beberapa meter, berdiri di balik pilar besar parkiran sambil berbicara dengan suara rendah yang tidak bisa didengar Lady.
Lady bersandar pada pintu mobil, menghela napas panjang. "Dia benar-benar polos. Bikin rekening aja bisa dikibulin teller bank. Ck. Kasihan sekali."
Lady sibuk menatap belanjaan di bagasi, mencoba menghitung-hitung lagi pengeluaran mereka, sampai sebuah suara yang sangat ia kenal terdengar dari arah belakang.
"Wah, wah... lihat siapa yang ada di sini. Gara-gara batal nikah sama aku, kamu jadi harus belanja sendiri, kan?"
Lady membuang muka. Menghela napas jengah mendengar ucapan mantan tunangannya itu.
"Andai saja saat itu kamu tidak berulah. Pasti sekarang kita lagi belanja bareng," kata Harris lagi.
Dia berjalan semakin mendekat. Dan Lady segera menghindar saat Harris benar-benar telah ada di hadapannya.
"Coba tebak siapa yang sekarang jadi pengangguran?"
Pupil mata Lady melebar. Ia menatap Harris dengan tajam. Bagaimana mungkin kabar itu sampai di telinga Harris secepat ini?
"Kamu-"
"Jadi gimana? Sudah berubah pikiran? Ayolah, Lady. Turunkan sedikit egomu! Kalau kamu jadi istriku, kamu akan hidup enak tanpa bekerja."
Harris meraih lengan Lady saat perempuan itu berniat menjauh.
Lady tersentak. Tubuhnya menegang seketika. Ia perlahan berbalik dan mendapati Harris menatapnya dalam. Perlahan ia sadar. Ada aroma tak wajar dari tubuh pria itu.
"Kamu... mabuk?" tanya Lady, suaranya bergetar tapi ia mencoba tetap tenang.
Harris tertawa sinis. "Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kamu memblokir nomor teleponku, kamu mengusirku dari apartemenmu, dan laki-laki itu... sebenarnya siapa si berengsek itu? Kenapa dia ada di apartemenmu malam-malam begitu?"
Lady meringis karena Harris yang mengguncangkan tubuhnya. "Kamu ngomong apa sih? Lepas!"
"Hubungan kita sudah berakhir, Harris! Kamu sendiri yang menghancurkannya! Pergi dari sini sebelum aku panggil satpam!" teriak Lady.
"Tidak ada yang berakhir sampai aku bilang berakhir, Lady! Kamu tahu betapa malunya aku? Berita itu sudah menyebar sampai ke mana-mana sekarang. Nggak bisa. Kita nggak boleh berakhir seperti ini."
"Itu bukan salahku! Itu karena perbuatanmu sendiri!" Lady berusaha melepaskan tangannya, namun Harris semakin kuat mencengkeramnya. "Lepas, Harris! Sakit!"
"Sakit? Ini tidak seberapa dibanding rasa maluku! Sekarang ikut aku! Kita harus mengurus kembali pernikahan kita! Kalau perlu, kita menikah sekarang."
"Kamu gila! Lepaskan aku!" Lady memberontak. Namun, Harris justru memelintir tangan Lady hingga Lady memekik kesakitan. Kulit putih Lady mulai memerah dan tergores karena kuku Harris yang tajam.
"Ikut aku sekarang juga!" bentak Harris, wajahnya memerah karena emosi yang tidak stabil.
"Lepas! Sakit, Harris! Kamu menyakitiku!"
"Nggak. Aku nggak bakal lepasin kamu. Kamu harus jadi istri aku. Kamu harus menikah denganku!" ucap Harris seperti orang yang sudah kehilangan akalnya.
"Dia bilang lepaskan, b******n!"
Sebuah suara dingin, setajam silet, terdengar dari belakang Harris. Belum sempat Harris menoleh, sebuah tangan kekar sudah mendarat di kerah bajunya dan menariknya menjauh dari Lady dengan sekali sentakan kuat.
Bugh!
Satu pukulan mentah mendarat telak di rahang Harris, membuatnya tersungkur di lantai semen parkiran. Harris ambruk seketika, mengerang kesakitan sambil memegangi wajahnya yang mulai membengkak.
Narren berdiri di sana, napasnya memburu. Namun matanya memancarkan amarah yang begitu mengerikan. Ia tidak terlihat seperti pemuda hangat seperti yang Lady kenal. Ia terlihat seperti iblis yang siap mencabut nyawa targetnya.
"Narren..." bisik Lady, suaranya tercekat. Ia memegangi pergelangan tangannya yang terluka.
Narren mengabaikan Harris yang terkapar. Ia langsung menghampiri Lady, meraih tangan wanita itu dengan sangat lembut. Saat melihat luka goresan dan memar di pergelangan tangan Lady, rahang Narren mengetat hingga berbunyi.
"Dia melukaimu..." suara Narren bergetar karena emosi yang tertahan. "b******n itu berani menyentuhmu sampai seperti ini?"
"Narren, sudah... aku tidak apa-apa," Lady mencoba menenangkan. Namun ia sendiri masih gemetar hebat.
Narren tidak mendengarkan. Ia berbalik ke arah Harris yang mulai berusaha bangkit sambil mengumpat. Narren melangkah mendekat. Auranya begitu mendominasi hingga Harris yang tadinya ingin membalas mendadak pucat pasi.
"Berengsek! Beraninya kamu menyentuh milikku!" sentak Narren sambil melayangkan pukulan keduanya.
Harris kembali terkapar di lantai. Namun, mata Narren masih menatapnya nyalang. Siap menyerangnya kembali.
Rasa takut melingkupi Lady. Ia belum pernah melihat Narren semarah ini. Ia masih cukup waras untuk tak membiarkan keadaan menjadi semakin runyam.
Ia berusaha meraih lengan Narren untuk menghentikannya. Namun, Narren sudah lebih dulu menginjak d**a Harris hingga pria malang itu meringis kesakitan.
"Naren... Narren udah!"
"Ingat! Ini peringatan terakhirku. Kalau kamu berani menyentuh wanitaku lagi, aku akan patahkan tanganmu yang menyentuhnya," ancam Narren pada Harris.
"Arrrgh!" Harris semakin kesakitan karena Narren yang menguatkan injakannya.
"Narren, udah plis. Aku nggak mau kamu dapat masalah. Sudah..." ucap Lady berusaha menghentikan Narren.
"Plis... kita pulang sekarang, ya! Aku mohon!"
Wajah Narren masih memerah. Ia kembali menginjak d**a Harris. "Aarrgh!"
"Narren! Plis! Ah.. tanganku sakit!" pekik Lady.
Akhirnya, usaha Lady berhasil. Narren langsung menoleh ke arahnya. Tatapan tajamnya meredup, perlahan berubah menjadi sendu ketika ia memeriksa tangan Lady yang terluka.
"Masih sakit?" tanyanya lembut.
Benar-benar seperti sosok yang berbeda dari sosoknya beberapa detik yang lalu saat menghadapi Harris.
Lady mengangguk. "Kita pulang sekarang, ya! Aku mohon!" pinta Lady memelas.
Narren memejamkan matanya sejenak, sebelum akhirnya ia mengangguk. Setelah itu, ia menggandeng lembut tangan Lady yang tidak terluka. Membukakan pintu mobil untuk wanitanya. Memastikannya masuk dengan aman.