"Ssh... perih, Narren," rintih Lady pelan saat cairan antiseptik itu menyentuh luka terbukanya. Narren menghentikan gerakannya seketika. Ia mendongak, menatap mata Lady dengan tatapan yang begitu pekat. "Maaf. Aku akan lebih pelan. Tahan sebentar ya." Ia kemudian meniup luka itu dengan lembut. Embusan napasnya hangat terasa menenangkan di kulit Lady. Narren kembali fokus, mengoleskan salep memar dengan gerakan memutar dengan sangat berhati-hati. Wajahnya begitu tegang, alisnya bertaut rapat, dan bibirnya terkatup rapat—menunjukkan konsentrasi penuh sekaligus amarah yang masih tersisa di dalam dadanya. Lady terpaku. Dari posisinya yang lebih tinggi, ia bisa dengan leluasa memperhatikan fitur wajah Narren. Garis rahangnya yang tegas, bulu matanya yang lentur, dan sorot matanya yang begit

