"Lepaskan untukku sayang." Bisik Darren. Menambah, gairah wanita itu. Kenikmatan, masih bertubi-tubi, di berikan Darren.
Lawan di bawahnya mencium bibirnya, dengan lembut Darren menciumnya. Dengan, di bawah dia masih menghentak-hentakan miliknya. Dosa ternikmat yang pernah di lakukannya sejauh ini.
Dia memainkan, p******a bulat milik lawannya ini. Walau, tidak sebesar milik Mia Khalifa. Namun, menurutnya ini ukuran di atas rata-rata, wanita yang pernah di cicipinya. Bulatnya, membuat Darren geram ingin menelannya.
Darren memberi tanda merah, di atas gunung bulat itu. Bentuknya, sangat sempurna. Darren, mengenyotnya sedikit. Membuat, lawannya di bawah makin kelimpunan.
Wanita di bawahnya, mengenjang. Telah, sampai tahap puncak. Teriakannya, seperti melodi indah tersendiri bagi indra pendengaran Darren. Dan, dia akan merekam memori indah ini dalam otaknya.
"Aku belum sampai."
Dengan sigap, mereka berganti posisi. Posisi berdiri, Darren mengendong Ilona sambil memompanya. Raungan dan erangan tidak dapat di elakan. Mulut pedas milik Ilona, tergantikan dengan mendesah-desah.
Dia hanya menarik-narik rambut brondong yang gondrong ini. Kepalanya sudah pusing, saking nikmatnya. Dia berjanji, hanya lelaki ini yang akan memberinya kepuasan sepanjang sisa hidupnya.
Dan keluarlah, s****a yang di inginkan. Sangat banyak, sampai Ilona merasa s****a itu akan tumpah.
Mereka masih, menetralkan nafas masing-masing. Setelah pergulatan nikmat tersebut.
Ilona hanya duduk di tepi ranjang, dengan selimut menutupi tubuh telanjangnya.
"Mau mandi? Mandilah, nanti pakai handuk aku aja." Lelaki di depannya hanya tersenyum, dengan tubuh telanjangnya di kursi kebesaran milik Ilona.
Ilona masih meringis, melihat milik lawannya ini. Terasa mengerikan, sakit dan nikmat secara bersamaan.
"Kalau kamu mau tinggal disini nggak-papa. Orang tua ku juga, jarang kesini." Darren hanya mengangguk. Mungkin, belum terbiasa pikir Ilona.
Ilona akhirnya, menyerah duluan dan mandi.
Darren mengamati, lawannya yang baru saja di nikmati. Rasanya luar biasa, sampai dia ingin mengulang detik ini juga. Sayangnya lawannya sudah duluan membersihkan diri. Padahal, dia duduk di kursi tersebut sebagai kode. Bahwa, dia ingin lagi. Namun, sayangnya makhluk bernama Ilona tersebut tidak peka terhadap maksud Darren.
Darren hanya menunggu, semoga keluar dari kamar mandi masih ada kesempatan untuknya.
Dia mengingat, harus menunda pertemuannya demi sedikit musibah yang terjadi.
Ya, dia harus kembali ke kampus untuk mengurus ekuivalensi entah apa namanya. Karena kampusnya
Darren mundur, Ilona segara menangkap maksud lawannya. Dengan gerakan menggoda dan sensual dia keluar, bathrobe tersebut.
Berkali-kali, Darren menelan ludah. Dan dia merasakan miliknya, semakin keras seperti batu.
Ilona semakin dekat. Suasan di kamar tersebut begitu panas dan b*******h.
Bunyi telfon, mengintrupsi kegiatan panas dua orang ini.
"Hannah sialan!" Pekik Ilona. Hannah video call.
*gue lagi ena-ena.* Ilona memberi pesan dan menolak panggilan tersebut.
*aku mau lihat live.* memang tak tahu malu, dua orang dewasa ini. Ilona membiarkan, dan tidak membalas pesan itu lagi.
Darren duduk lagi dia kursi kebesaran tersebut. Ilona duduk di pangkuannya. Dia meneliti kukunya, yang begitu terawat dan di beri pewarna kuku warna pink soft. Seusia dengan idolanya yang menyukai warna pink.
Mereka kembali berciuman mesra. Dan bunyi handphone lagi-lagi megusik.
"Ku bunuh kau pisang." Geram Ilona.
Hannah vidoe call. Ilona mengangkatnya.
"Bagi- bagilah, aku mau____ eh anjing!" Hannah mencampakan HPnya.
Ilona tertawa, berhasil mengerjai temannya. Dia menunjukan p******a bulatnya, di depan Hannah.
"Mampus!" Senyum Ilona puas.