Chapter 4

864 Kata
Sekarang sudah gelap, matahari telah berpulang ke peristirahatannya. Ilona dan Darren sedang keluar, mereka menuju kos Darren. Untuk mengambil baju lelaki itu.  Ilona senang bukan main, dia akan memiliki teman di rumahanya. Dan temannya bercinta. Andai dari dulu, dia mempromosikan dirinya. Pasti, hidupnya sudah berwarna dari dulu.  Mereka sampai di arena kos-kosan. Bagunan memanjang, khas kos-kosan. Dengan dua lantai, dan cat berwarna hijau. Kamar Darren di lantai dua. Di pojokan, dekat tangga naik.  Mereka masuk ke dalam, hanya kos-kosan satu kamar dan kamar mandi di dalamnya. Tidak ada barang berharga, hanya kasur tipis, tv yang sangat mini, dispenser, printer, selanjutnya baju Darren yang hanya beberapa helai.  "Berapa bayarnya satu bulan?"  "Satu juta seratus."  "Semahal itu?" Ilona tidak percaya, kamar sempit ini segitu. Dia memang tidak pernah menjadi anak kos. Jadi, ketika dia bertandang ke kos temannya pasti dia merasa asing.  "Ini paling murah."  Ilona memeriksa kamar mandinya, bisa di katakan. Ketika masuk kamar mandi tersebut, kita tidak bisa bernafas saking sempitnya. Luas kamar mandi miliknya, seluas kamar kos Darren.  Mungkin sepadan harganya karena, Ilona baru menyadari ada fasilitas AC, lemari, dan tempat tidur. Walau kasurnya sangat tipis. Ilona yakin, jika dia tidur disana badanya akan luka-luka besoknya.  Ilona hanya duduk di kasur tipis itu. p****t montoknya saja terasa sakit, apalagi dia mencoba tidur disini.  "Mungkin kita bisa mencoba satu ronde, sebagai perpisahan?"  "Jangan, ini tempat umum. Aku nggak mau tercyduk. Bisa di bunuh papaku kalau tahu, kelakuan bejatku. Karena mereka tahu, aku anak penurut, dan pekerja keras." Tolak Ilona. Walau dia sedang mabuk spermanya Darren, dia tidak senekat itu untuk indehoy di kos-kosan orang.  Darren selesai mengemas. Hanya satu ransel, itu pun tidak penuh. Begitulah lelaki, sangat simple. Jadi, jika mereka pindah hanya butuh satu ransel. Berbeda dengan wanita, pasti membutuhkan beberapa koper dan beberapa kotak tambahan.  "Baju kamu dikit bangat. Nanti kita beli ya." Darren hanya tersenyum. Sekarang dia merasa seperti peliharaan tante-tante.  "Mana menurut kamu bagus aja sayang. Aku nggak mau di anggap menguras kamu. Karena, tujuan aku bukan itu."  "Jadi, apa tujuannya?"  "Donor s****a?" Ilona hanya tertawa. Ternyata, istilah donor s****a sangat lucu terdengar di telinganya.  Tanpa sadar, mulut keduanya sudah menyatu. Darren menindih Ilona ke kasur. Ciuman semakin panas, dan menuntut lebih. Ilona mendorong Darren.  Dia duduk mengatur nafasnya dan mendeteksi sekeliling.  "Trus barang-barang, di dalam sini?"  "Itu fasilitas kos." Ilona merapikan lagi rambutnya. Dan merapikan lagi jaketnya. Dia memakai jaket berwarna pink soft, leggings  dan sendal jepit. Walau sangat sederhana, namun outfit yang di pilih Ilona sangat sesuai membuatnya makin memukau.  Mereka turun ke bawah.  "Abang Darren." Ilona dan Darren masih di atas tangga. Seorang perempuan, mungkin mahasiswa. Hanya memakai handuk, dan tanpa malu menjemur dalamannya dan memanggil Darren.  Ilona menoleh melihat ekspresi Darren. Dia hanya tersenyum simpul, sengaja menampakan lesung pipinya.  "Pacar kak Darren?" Entah alasan darimana, Ilona merasa di bawa terbang ke awan. Dia bahagia di bilang pacar Darren. Apakah dia sudah jatuh cinta sama lelaki ini?  Darren turun, dan mendekati adik tingkatnya.  "Dek, titip kunci ya. Nanti kasih ibu ya. Abang, mau pindah."  "Abang mau tinggal sama pacar?"  "Dia bukan pacar abang. Titip ya dek." Tadi di bawa terbang, sekarang di hempaskan ke dasar. Tanpa alasan lagi, Ilona merasa begitu kecewa. Padahal, dia berharap lelaki ini mengakui sebagai pacarnya.  Apa kurangnya dia? Cantik, kaya, seksi, panas di ranjang.  Cewek yang berbalut handuk itu mengangguk dan menerima kunci itu.  Darren mengandeng tangan Ilona. Walau sudah di gandeng, rasa kecewanya belum hilang.  Dia hanya diam, mendadak moodnya buruk.  Mereka masuk ke dalam mobil metalic milik Ilona. Suasana menjadi begitu hening.  "Aku nggak mau, Dena berpikiran tidak-tidak, kalau jawab tinggal sama kamu." Ilona sedikit lega mendengarnya, lagian ada benarnya juga. Dan harusnya dia tahu diri. Mereka bukan sepasang kekasih, walau mereka sangat panas dan romantis di tiap kesempatan.  "Kamu nggak marah kan sayang?" Darren memegang wajah Ilona dan menciumnya lembut. Ilona terbuai. Ciuman mereka makin panas, Darren memasukan tangannya dalam jaket Ilona.  Darren meremas gundukan bulat yang terasa hangat di tangannya.  Ilona mendesah. Ia semakin mencium lawannya. Badan mereka semakin berdesakan akan gairah.  "Pindah belakang." Bisik Darren. Benar, mereka membutuhkan ruang. Lagian, sekarang gelap. Jadi, tidak akan ada yang mengetahui perbuatan mereka.  Mereka telah berpindah ke belakang.  Jaket Ilona telah terbuka. Darren mulai menyusu dengan lapar. Ciumana mereka semakin intens dengan tangan masing-masing sudah di area milik lawan.  Dan mulai penyatuan itu. Mereka menggerang dan mendesah, seiring dengan birahi yang memuncak mendesak agar di tuntaskan.  Mobil itu bergerak.  Mobil mereka di ketuk, Ilona menutup mulutnya.  Pintu mobil di ketuk lagi. Mobil pintu semakin di desak.  Posisinya Ilona di bawah dan Darren di atas. Darren membuka pintu mobil, tanpa melepas penyatuan mereka. Semoga, tidak ada yang melihat Ilona sedang bugil di bawah keperkasaan seorang Darren.  "Oi bro. Wah, sama siapa? Ini mobil siapa?"  "Aku pindah."  "Seriusan?"  "Hati-hati, buat dirumah aja. Jangan di tempat umum geng, rawan."  "Siap. Makasih, jagain dong. Lagi nanggung belum keluar." Kata Darren tanpa malu. Oh Tuhan, jika keadaan terang, wajah Ilona sudah semerah tomat busuk.  Darren menutup kaca mobil, dan mulai mengejar puncaknya yang sempat tertunda. Ilona menutup mulutnya, agar suara mendesahanya tidak kedengaran dari luar.  Benar-benar memacu adrenalin. Bercinta di dalam mobil, yang ada pawangnya di luar. "Bro cepat, di luar banyak nyamuk!" _________________________________________
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN