Chapter 5

473 Kata
Ciuman tidak dapat di elakan. Oleh dua pasangan yang tengah di mabuk asmara tersebut. Padahal mereka sudah mengisi kebutuhan batin sebelum berangkat. Namun, orang yang sedang di landa hormon yang tinggi, merasa kebutuhan tersebut tidak pernah puas. Bunyi decapan, mengisi suasana dalam mobil tersebut.  "Semangat kerjanya." Darren memegang wajah kekasihnya. Walau, tidak ada pengikraran tetap. Namun, dari masing-masing sudah mengklaim mereka sepasang kekasih.  "Semoga judulnya, cepati di ACC. Biar cepat lulus."  "Makasih sayang." Ilona memeluk kekasihnya dengan sayang. Lelaki ini, sudah mengisi semua hatinya. Tidak ada sisa sedikitpun.  Rasanya mereka tidak ikhlas, harus berpisah beberapa jam. Padahal yang mereka inginkan, bermesraan di dalam rumah. Dengan melakukan hal-hal sederhana. Namun, tuntutan hidup mengharuskan mereka berpisah beberapa jam.  "Aku kerja dulu, jangan ganjen sama cewek-cewek di kampus." Darren hanya tersenyum dan mencium wajah kekasihnya.  Mereka saling bertatapan, tidak ingin melepaskan.  Ilona melihat temannya datang. Dia menurunkan kaca mobil.  "Pisang." Darren heran, pisang? Emang ada yang jualan pisang di arena perkantoran ini?  "Ada si brondong?" Hannah berteriak, namun masih berbicara dengan suaminya. Ilona dengan semangat mengangguk. Dia ingin memamerkan, pendonor spermanya kepada semua orang bahwa dia telah menemukan tambatan hatinya.  "Kamu mau kenalan sama temanku nggak?" Lagi-lagi Darren hanya tersenyum.  Ilona mencubit pipi Darren gemas, "kenapa sih, nih pipi ngejek aku terus?" Darren mencium pipi wanitanya.  "Kamu nggak turun?"  "Nunggu pisang kesini. Biar aku kenalin."  "Nggak usahlah. Kapan-kapan aja." Ilona mengerti, mungkin Darren merasa tidak nyaman dan belum terbiasa dengan lingkungannya.  Keduanya saling mengecup bibir, sebelum benar-benar berpisah. Ilona mengambil tasnya, dan keluar. Dia mendesah panjang, harus kembali ke rutinitas yang membosankan. Padahal dia sudah menemukan kesenangannya yang baru. Ilona berjalan ke arah Hannah.  "Ya, si brondong pergi?"  "Iya, dia mau ke kampusnya."  "Gimana, kegiatan kalian?"  "Kegiatan apa? Gotong royong?"  "Gotong royong, memindahkan s****a brondong ke rahimmu."  "Gitu deh."  "Aku penasaran. Mau lihat, wajahnya langsung. Hot bangat ya? Perkasa ya? Aku mau jugalah, brondong."  "Ku lapor suamimu pisang!" Hannah tertawa.  "Sekali-kali, pasti suamiku izinkan."  "Gila!" Ilona berlalu, dan menuju ruagannya. Lagi-lagi, dia tidak ikhlas harus berpisah. Rasanya, dia ingin berlari mengejar Darren. Dan mereka bercinta gila-gilaan di dalam mobil. Ilona hanya menggelengkan kepalanya. Ini masih pagi, dan hormonnya sudah bergejolak.  Ilona duduk di meja kerjanya. Tugas segunung, sudah menunggunya.  Ia harus menulis dan merancang presentasi, untuk perusahaannya. Memang tugasnya sangat berat, tanggung jawab yang di embannya begitu besar. Namun, sepadan dengan gaji yang di dapat. Untung saja, Ilona seseorang yang creative.  Pagi ini, dia akan merancang informasi, jurnal, laporan, brosur publisitas, serta informasi untuk di masukan di situs web milik perusahaan dan vidoe promosi. Menjadi, seorang PR juga, harus pandai berbicara. Untung saja, bakat berbicara sudah di dapatkannya sejak kecil.  Sejak kecil, Ilona selalu mengikuti lomba pidato. Dia pemberani, dan bisa tampil di depan umum.  Ilona mulai mengerjakan kewajibannya, namun pikirannya selalu tertuju ke brondong manisnya.  Rasanya dia tidak sabar, miliknya segera di isi milik Darren. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN