"Hahaha. Mbak, bukan hanya mulutnya jahat. Tapi otaknya terlalu dangkal, untung saja cantik, jadi termaafkan." Rio tertawa mengejek Ilona. Sialan! Ilona tak pernah disepelekan oleh siapapun. "Oh iya. Otakku dangkal, setidaknya aku bukan kue lapis. Dengan macam rasa, depan lain, belakang lain." Balas Ilona tak kalah sengit. Ia dikalahkan oleh tikus busuk? Hell, no! "Kami pulang dulu ya kak. Nggak enak, debat hal nggak penting. Kakak jaga kesehatan, kalau dah sembuh, jenguk Darren." Kata Tasha menengahi. Rio itu suka menggoda Ilona, dan Ilona itu tak suka Rio. Bagai tikus dan air yang tak bisa menyatu. "Sialan, kau bilang tak penting! Membusuk saja kalian di neraka!" Teriak Ilona. Tasha dan Rio sudah keluar, bahkan Rio sempat menggejek Ilona. Ilona benar-benar memusuhi sobat Darren

