TIGA

1787 Kata
Hari ini Caca dan Fika sedari tadi hanya dapat memasang wajah melongo karena melihat sikap Veyla yang sangat berbeda sekali dari biasanya. Veyla yang sehari-harinya judes ke semua orang, hari ini ia sangat ramah ke semua orang yang sedang lewat di depannya ataupun yang sedang berselisih dengannya. Entah setan apa yang merasuki cewek judes itu. Lebih parahnya lagi, yang membuat Caca dan Fika bergidik ngeri karena Veyla sedari tadi senyum-senyum sendiri! Dengan tatapan yang masih tertuju pada Veyla, Caca menyenggol lengan Fika yang kini berada di sebelahnya yang tengah sibuk dengan dunia ponselnya. Merasa terganggu, Fika menoleh ke arah Caca yang berbicara dengan nada yang sangat pelan. Bahkan dirinya saja hanya samar-samar mendengar. "Si Judes kenapa? Tumben banget dia senyam-senyum kagak jelas. Biasanya juga ngomel-ngomel mulu." Caca berucap dengan nada sedikit berbisik. "Ya mana gue tau! Lo kira gue emaknya apa, hah!" Suara Fika yang begitu menggelegar seperti halilintar itu sontak membuat Veyla menoleh ke arah keduanya. Kemudian melepaskan earphone berwarna putih yang sedari tadi bertengger di kedua telinganya. "Lo pada ngebahas apaan?" tanyanya dengan tatapan penuh selidik. Tercyduk! Caca menoleh ke arah Fika yang saat ini tengah menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya. Ia merutuki dirinya sendiri karena mulutnya itu tak bisa diajak bekerja sama hari ini. Karena ia tak dapat jawaban di kepalanya, Caca menyikut lengan Fika kembali berharap teman yang memiliki sifat kegilaan sama sepertinya itu menjadi malaikat penolongnya kali ini. "Mmm... gak ada apa-apa kok, Vey." Fika berujar sambil menampilkan cengengesan khas miliknya. Merasa pertanyaannya masih belum terjawab, Veyla mengalihkan pandangannya pada Caca. Caca langsung terkesiap, kemudian melirik sebentar ke arah Fika, berharap dia dapat mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Veyla itu."A-Anu, Vey... I-iya! Kita gak ngebahas apa-apa kok, tadi itu cuman bicarain anu... Mmm... ayamnya tetangga lepas. Iya! lepas hehe," jawab Caca ngasal yang langsung mendapat sebuah kerutan di dahi dari Veyla dan Fika. Mereka berdua sama-sama berfikir dalam hati, teman mereka yang satu itu masih waras, 'kan? Atau mungkin otaknya sudah mulai bergeser? Masa ayam tetangga lepas aja dibahas. Emang gak ada lagi, ya, bahan yang bisa digosipin selain ayam lepas? "Maklumin aja lah, Vey. Belum minum obat ini anak. Heum... kalau gitu, kita mau ke kantin dulu, ya? Mau ikut gak?" Fika menawarkan agar Veyla ikut bersama mereka ke kantin, tetapi belum sempat Veyla menjawab ajakan Fika, Caca langsung angkat suara lagi. "Gak usahlah, ya. 'Kan lo paling gak mood kalo ke kantin. Ya gak, ya gak? Gak usah, ya? Oke, gue sama Fika ke kantin dulu, yah! Bye Veyla sayang, umachh..." Tangan Caca langsung menyambar tangan milik Fika dan menyeretnya keluar kelas. Veyla hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya setelah melihat kedua teman gesreknya itu sudah menghilang dari pandangannya. "Pada s***p temen gue." *** "Akhirnya pelajaran Pak Eko kelar juga," Tama berucap sambil merenggangkan otot-ototnya yang awalnya kaku karena kehadiran Pak Eko di kelasnya yang membuat seisi kelas menegang. Jangan tanyakan kini mereka berada di mana. Seperti biasanya, mereka sekarang tengah berada di wabimah untuk memberi makan para cacing-cacing di dalam perut yang sudah demo untuk meminta jatah makan. Mendengar Tama menyebut nama Pak Eko, terlintaslah di pikiran Evan untuk bernyanyi lagu DJ yang lagi hits sekarang. "Masok masok Pak Eko! masok masok Pak Eko!" Evan berjoget ria di depan Yadi dan Tama yang tengah menyeruput minumannya masing-masing. "Lo pengen Pak Eko masuk lagi, hm?" tanya Yadi sambil menyereput es jeruk miliknya dan melirik Jevan yang sangat tenang sambil memainkan game online di handphone-nya. "Ya kagaklah, anjer! Eh, Di, pesenin gue es teh ama nasgor dong ke Bi Imah. Laper nih..." pinta Evan dengan tangan yang mengelus-ngelus perutnya. "Gue pesen nasgor juga ya, Di, tapi lo yang bayarin, ye?" sahhut Tama yang berada di sebelahnya sambil terkekeh. Karena kesal dengan tingkah laku kedua temannya yang selalu minta dibayarin terus itu, Yadi pun langsung menajamkan matanya ke arah Evan dan Tama secara bergantian. Refleks, keduanya langsung menundukkan kepala dan berjalan menuju ke arah Bi Imah untuk memesan makanan. Kini perhatian Yadi teralih kepada Jevan yang berada di meja sebelah mereka. Hal ini memang sudah biasa terjadi dengan manusia dingin itu. Biasanya ia akan menjauhkan diri dari ketiga temannya karena tak ingin diganggu karena sedang bermain game online ataupun lagi malas untuk mendengarkan celotehan tak jelas dari Evan dan Tama. "Gak makan lo, Van?" tanya Yadi sambil menyereput es jeruk nya kembali. Jevan yang merasa seseorang sedang bertanya kepadanya langsung mendongakkan kepala mencari sumber suara. Sedetik kemudian, netra matanya pun menangkap seorang Yadi yang tengah menatap nya sembari meminum es jeruk miliknya. "Males," jawabnya singkat, kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke ponselnya. Yadi menghembuskan nafas beratnya setelah mendengar jawaban yang diberikan Jevan selalu singkat. "Sampai kapan lo kayak gini, Van? Lo dingin ke semua cewek, ralat ke semua orang. Apa ini semua gara-gara--" "Jangan bahas lagi," potong Jevan dengan nada tegasnya yang langsung membungkam mulut Yadi. Yadi pun menghela nafasnya kembali, menatap Jevan sebentar kemudian berlalu meninggalkan wabimah. Jevan yang melihat itu, ikut bangkit dari kursinya berniat untuk kembali ke kelas. Namun, baru saja Jevan berdiri, tiba-tiba dua orang cewek masuk ke dalam wabimah. Dan tak lupa pula, mereka juga menyapa Jevan. "Eh, ada Jevan. sayang banget Veyla tadi gak ikut," tutur salah satu cewek yang memiliki rambut berwarna hitam. "Bener banget, tuh, Fik," sahut cewek yang ada di sebelahnya dengan rambut yang berwarna agak sedikit kecoklatan. Jevan yang merasa pernah mendengar nama yang disebut salah satu cewek tersebut langsung meninggalkan wabimah dan berjalan tanpa tujuan yang pasti hendak ke mana. Veyla? Gue pernah denger nama itu. Tapi siapa? Ketika Jevan sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba langkahnya terhenti karena ia baru tersadar berada di mana. PERPUSTAKAAN SMA TARUNA Tempat yang paling ia benci adalah perpustakaan. Ia paling benci dengan hal yang berhubungan dengan membaca. Baginya, membaca adalah kegiatan yang sangat membosankan. Ketika ia ingin beranjak dari sana, tiba-tiba suara seorang cewek menghentikan aktivitasnya. "Manusia Dingin, lo mau ke perpus juga?" Jevan memutarkan badannya 180 derajat ke arah di mana cewek itu berada. "Gak," jawabnya seperti biasa, singkat. Cewek itu mengernyitkan dahinya. "Terus ngapain di depan sini?" "Suka-suka gue," jawab Jevan kembali tak mau kalah. Terdengar suara decakan dari bibir cewek itu, mungkin karena kesal dengannya yang sedari tadi menjawab pertanyaan dengan jawaban yang singkat. "Bisa gak, sih, panjangan dikit ngomongnya?" Jevan menaikkan alisnya sebelah, "Gak." "Serah lo dah," karena tak mau memperpanjang celotehannya lagi, cewek tersebut langsung meninggalkan Jevan dan masuk ke dalam perpustakaan. Sedangkan Jevan terdiam untuk beberapa sesaat sebelum ia memanggil sebutannya untuk cewek itu. "Ratu Judes!" Cewek tersebut langsung menoleh ke arah Jevan dengan tatapan memicingnya. "Nama gue itu Veyla, bukan Ratu Judes, you know?!" Gue baru inget kalo si Judes ini yang namanya Veyla "Hm, ya." Lagi-lagi sahutan singkat terdengar dari mulut Jevan. "Kenapa manggil gue?" tanya Veyla karena merasa heran dengan cowok dingin nan aneh ini. "Gak, cuman ngetes pendengaran lo doang," sahutnya santai dengan wajah acuh tak acuh membuat Veyla naik pitam akan itu. "k*****t! Lo nyita waktu satu menit gue tau gak!" serunya. "B aja." Veyla yang sudah dapat dipastikan saat ini wajahnya memerah padam langsung menarik paksa tangan kekar Jevan. "Sebagai hukumannya, lo harus nemenin gue nyari buku buat ngerjain tugas sejarah gue di perpus!" "Gak," tolak Jevan dingin sambil menarik tangannya kembali agar terlepas dari cekalan Veyla. "Ayo!" "Gak," "Ck, ayo!" Veyla menarik tangannya kembali membuat Jevan tersulut emosi. "Gue bilang gak ya gak! Lo b***k?!" bentak Jevan dan langsung menarik tangannya dari Veyla secara paksa. Cewek berbola mata hazel itu sontak memejamkan matanya ketika mendengar bentakan dari Jevan. Ia masih teringat akan kejadian itu. Ia masih sangat trauma dengan kejadian itu. "Woi?" ucap Jevan tapi dihiraukan oleh Veyla. Tanpa cewek itu sadari, setitik cairan bening meluncur di pipi mulusnya. Jevan yang melihat itu langsung menghapusnya dengan lembut. "Cengeng." Jevan menarik tangan Veyla untuk lebih masuk ke dalam perpustakaan. Veyla hanya dapat membulatkan matanya saat Jevan melakukan hal itu padanya. Bukan masalah hal yang dilakukannya tadi terkesan manis, tetapi ia tak percaya, cowok yang dianggap dingin ke semua cewek itu bisa melakukan hal semanis itu. Padahal mereka baru saja kenal. Saat mendapati sebuah rak buku yang berpapan namakan 'Sejarah', Jevan pun langsung melepas tangannya yang daritadi bertengger di pergelangan tangan Veyla. "Cari," suruhnya pada Veyla sambil bersandar disalah satu rak buku. Veyla menolehkan kepalanya ke arah Jevan agar lebih leluasa melihat wajah manusia dingin itu sambil mengerucutkan bibirnya. "Kalo ngebantuin itu jangan setengah-setengah dong!" Jevan menaikkan alisnya sebelah. "Terus?" Veyla yang sudah mulai geram dengan cowok yang berhati dingin ini langsung menepuk jidatnya. "Gak peka banget, sih, lo!" Nada suara Veyla meninggi satu oktaf yang langsung membuat semua orang yang berada di perpustakaan itu menatap tajam ke arah mereka. Jevan yang sadar menjadi bahan tontonan, langsung melirik tajam ke arah Veyla. "Kecilin suara lo," ucap Jevan memperingatkan. "Pokoknya bantuin gue nyari bukunya!" "Yang perlu siapa?" tanya Jevan menghadap ke arah Veyla sambil menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. "Gue," "Ya sudah," balasnya singkat membuat Veyla berdecak akan sifat Jevan yang terkadang berubah-ubah seperti bunglon itu. "Tapi apa salahnya, sih, lo bantuin gue, hah? Malahan dapet pahala lagi. Ya? Ayolah, Jev. Lo 'kan gans, banyak fans, lo--" Jevan yang mulai jengah dengan pujian yang terkesan terpaksa diucapkan oleh cewek itu langsung memutar bola matanya dan memotong kalimat Veyla. "Fine," putusnya final. Mendengar hal itu tentu saja membuat Veyla tersenyum penuh kemenangan. Baginya, cukup mudah menaklukan hati cowok dingin bernama Jevan itu. Ketika Jevan sedang sibuk mencari buku yang dimaksud Veyla, tanpa sengaja Veyla melihat Jevan yang sedang serius membaca sebuah buku sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Veyla mengintip di balik buku-buku yang ada berada di rak buku tepat sebelah rak buku di mana Jevan berdiri sekarang. Sambil tersenyum samar, ia baru menyadari kalau Jevan memiliki hidung yang mancung, alis yang tebal dan rahang yang kokoh juga tegas. Apalagi ketika ia sedang serius dengan buku yang dipegangnya, Veyla merasa tingkat ketampanannya naik secara drastis! Tapi sebentar, sejak kapan Veyla mengatakan Jevan tampan? Mungkin mulai saat ini ia mengakui kalau Jevan, si Manusia Dingin itu tampan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN