EMPAT

1859 Kata
"Eh, Manusia Dingin!" teriak seorang cewek berambut kecoklatan sambil berlari ke arah Jevan. Cowok yang terkenal dengan sifat dinginnya ini sekarang tengah berjalan santai di koridor karena bel pulang sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu. Jadi ia lebih leluasa berjalan tanpa harus berdesak-desakan dengan siswa-siswi yang lain. Dan anehnya, cewek yang diberi gelar 'Ratu Judes' oleh Jevan itu masih berada di sekolah. Saat cewek yang diketahui bernama Veyla itu mampu mengimbangi langkah Jevan, ia pun langsung memukul lengannya sambil tersengal-sengal akibat lari yang ia lakukan di siang bolong seperti ini. "Gue tadi manggil-manggil lo k*****t! Lo b***k apa tuli, sih, hah?! Punyy--mphh!!!" Belum selesai Veyla memarahi Jevan, mulutnya sudah terdahulu ditutup oleh laki-laki itu menggunakan telapak tangannya yang kekar. Kalau tidak diberhentikan, bisa-bisa cewek judes itu akan mengoceh terus sampai ayam jantan bertelur. Veyla menatap ke arah Jevan dengan tatapan yang tajam, kemudian menyingkirkan tangan kekar Jevan yang masih setia berada di depan mulutnya dengan paksa. "Apa-apaan, sih!" sungut Veyla kesal. Hampir saja ia susah bernafas karena Jevan yang terlalu membekap mulutnya. Jika saja ia tidak segera menyingkirkan tangan cowok itu, mungkin ia sudah limbung di hadapan Jevan sekarang. Karena muak mendengar sungutan Veyla, Jevan hanya bersifat acuh tak acuh padanya. Bagi Jevan, percuma dia meladeni cewek judes bin keras kepala seperti Veyla ini. Yang ada hanya menguras tenaganya saja. "Bacot," jawab Jevan singkat, padat, dan jelas. Bukannya kesal, malahan Veyla menerbitkan senyum yang teramat lebar. "Gue itu mau ngucapin makasih sama lo. Karena lo udah bantuin gue ngerjain tugas tadi. Soalnya, gue tadi dapat nilai sempurna." Jevan melirik sebentar ke arah cewek yang ada di sebelahnya itu dengan tatapan datar namun memabukkan. Cantik Satu kata beribu makna itu tersirat di dalam hati Jevan saat melihat Veyla tersenyum seperti sekarang. Veyla yang sadar Jevan sedang memperhatikannya langsung mengangkat alisnya sebelah. "Kenapa lo liat-liat?" tanyanya dengan memasang wajah polos nan imut. "Gak," jawab Jevan sambil mengalihkan pandangannya ke depan. "Kebiasaan banget irit ngomong," gumam Veyla yang masih dapat didengar oleh Jevan. "Itu tau." Dirasa tak ada sahutan lagi dari Veyla, Jevan pun melajukan tempo berjalannya hingga Veyla tertinggal cukup jauh. Ia tak memperdulikan teriakan Veyla yang menyebut namanya agar memelankan tempo jalannya. Saat dirinya sudah sampai di area parkir SMA Taruna, ia kembali bertemu dengan cowok yang kala itu dengan lancangnya berbuat kasar kepada Veylanya. Sebentar, Veylanya? Apa ini berarti Jevan sudah mulai menyukai Veyla? Ah, mana mungkin Jevan menyukai cewek judes kayak Veyla. "Wohoo! Pahlawan kesiangannya Veyla muncul juga," tutur Daniel sambil menerbitkan senyum meremehkan ke arah Jevan. Namun, bukan Jevan namanya kalo tak menanggapi ucapan cowok banci macam Daniel itu hanya dengan alis yang terangkat sebelah. Melihat respon dari Jevan yang terkesan cuek membuat Daniel ingin lebih memancing emosinya lagi. "Gue gak ada urusan, sih, sama lo. Gue cuma mau ngejemput honey gue aja." Honey? Cih! Jevan rasanya ingin muntah saat mendengar ucapan Daniel yang menurutnya alay bin lebay itu. Karena merasa masa bodo akan hal itu, Jevan langsung berlalu dan berjalan menghampiri kuda besinya yang terparkir manis di ujung sana. Daniel mengendikkan kedua bahunya ketika melihat Jevan menjauh dari hadapannya. Namun, sedetik kemudian raut wajahnya langsung berubah saat kedua bola matanya melihat Veyla berjalan ke arahnya. "Hai, Sayang!" sapa Daniel dengan senyum manisnya. Sedangkan Veyla yang melihat Daniel seperti itu sontak memundurkan kakinya beberapa langkah. "Jangan takut, aku gak bakal kasar lagi, kok," ucap Daniel lembut agar hati Veyla luluh akannya. Namun, Veyla bukanlah cewek yang akan gampang luluh dengan suara lembut atau gombalan dari cowok. Apalagi dengan cowok tak tahu diri macam Daniel ini. "PERGI LO!" teriak Veyla sambil memundurkan langkahnya kembali. Jevan yang melihat kedua orang manusia yang berbeda jenis kelamin itu dari jarak beberapa meter saja, dapat melihat ada semburat ketakutan yang terpancar di mata hazel Veyla. "Jangan teriak-teriak," ucap Daniel yang terdengar seperti perintah agar Veyla diam dan mematuhinya. "GUE BILANG PERGI!" Teriak Veyla lebih kencang lagi membuat Daniel mau tak mau terpancing emosi. "GUE BILANG JANGAN TERIAK-TERIAK! LO b***k, HAH?!" Daniel langsung mencengkram pergelangan tangan Veyla dengan amat kuat sampai-sampai Veyla ingin menitikkan air matanya karena merasa kuku tajam sedang menusuk kulit putihnya. "Mau lo apa...?" lirih Veyla dibarengi dengan cairan bening yang kini sudah lolos dari kelopak matanya. "Mau gue? Lo tanya mau gue apa?" tanya Daniel sambil tersenyum miring. "Gue mau lo jadi milik gue lagi. Karena lo, HANYALAH MILIK GUE," lanjutnya sambil menekankan tiga kata terakhir di kalimatnya. Veyla menggelengkan kepalanya pelan. "Tapi gue gak mau balik sama cowok kasar dan b******k kayak lo!" pekiknya tepat di telinga Daniel dengan tangisan yang sudah pecah akibat terkenang kembali dengan masa lampaunya bersama Daniel. "Apa lo bilang?!" Daniel semakin mencengkram tangan Veyla sampai pergelangan tangan cewek itu sangat merah. Beberapa detik kemudian sebuah bogeman mentah mendarat di pipi Daniel dengan amat mulusnya yang langsung membuat cengkraman Daniel lepas begitu saja dari tangan Veyla. Namun, bukan hanya sekali dua kali, tetapi berkali-kali bogeman itu didaratkan oleh seseorang tepat di wajah Daniel. Dan seseorang itu adalah cowok dingin yang bernama Jevan Alvaro. Sebelum Jevan gelap mata, Veyla pun langsung menarik lengan cowok itu agar menghentikan aksinya memukuli Daniel. "JEVAN, UDAH!" perintah Veyla tapi masih dihiraukan Jevan. "JEVAN, STOP! PLIS!" teriak Veyla sekali lagi, membuat Jevan langsung menghentikan bogemannya pada Daniel. Jevan kini mengalihkan pandangannya pada Veyla. Namun, betapa geramnya ia saat melihat mata Veyla yang memerah akibat tangisan yang dikarenakan kelakuan Daniel yang begitu kasar terhadap cewek yang tak memiliki salah apa-apa itu. Jevan melirik sebentar ke arah Daniel yang sudah terkapar di tanah akibat serangan dadakan yang diberikan olehnya tadi. "Jangan ganggu Veyla lagi, atau gak lo berurusan SAMA GUE." Setelah mengucapkan itu, Jevan langsung menarik tangan Veyla menjauh dari sana dan berjalan ke arah motornya. Setelah memasang helm full face miliknya dan menaiki motor ninja kesayangannya, Jevan pun menyuruh Veyla untuk naik ke atas kuda besi yang saat ini sudah ia tunggangi. "Naik," terdengar nada dingin saat Jevan mengucapkan kata itu. "Tapi Dan--" "Naik!" Nada suara Jevan naik satu oktaf yang membuat Veyla tersentak kaget dan langsung naik ke atas motor ninja milik Jevan, meninggalkan Daniel yang tak berdaya di sana. Dan mulai hari ini, entah setan dari mana yang membuatnya untuk tidak membiarkan cowok manapun lagi menyakiti Veyla. *** 03:30 PM Kedua orang anak manusia yang berbeda jenis kelamin itu sama-sama membisu saat mereka dalam perjalanan pulang. Suasana canggung pun juga turut melanda mereka berdua setelah kejadian yang beberapa menit lalu terjadi. Untungnya keadaan itu berakhir saat sang laki-laki berhasil mengantarkan si perempuan dengan selamat dan memberhentikan laju motornya tepat di depan rumah bertipe minimalis milik cewek itu. Dengan penuh hati-hati, cewek berambut kecoklatan itu turun dari motor ninja milik cowok dingin bernama Jevan itu. Kemudian merapikan rok abu-abunya yang berantakan akibat terkena angin di jalan. "Mmm Jev..." ucap Veyla sambil menundukkan kepalanya karena tak berani menatap secara langsung wajah Jevan. Jevan yang melihat itu, tiba-tiba saja mengulurkan tangannya ke arah dagu milik Veyla dan mengangkat dagu mungil itu secara perlahan. "Jangan nunduk." Nada bicaranya terdengar dingin, tetapi jika dilihat-lihat ia juga memiliki sifat romantis di balik sifat dinginnya itu. Dengan keberanian yang ada, Veyla pun menatap Jevan tepat di bola matanya yang berwarna hitam. "Maaf, mmm... makasih... bu-buat semuanya," ucapnya gugup. Jevan tersenyum kecil melihat kegugupan Veyla tadi, tetapi sangat sayang pemandangan itu tak sempat dilihat Veyla. Cewek itu malah menundukkan kepalanya kembali menatap jalan yang ditapakinya saat ini. "Hm, ya. Gue juga... minta maaf." Hampir saja Veyla membuat bola matanya keluar dari tempatnya karena terlalu lebar membelalakkan matanya. Saking terkejutnya mendengar permintaan maaf dari mulut Jevan sampai-sampai membuat Veyla seperti itu. Memang tidak ada yang salah kalau seseorang minta maaf. Namun, ini terdengar langka bagi Veyla jika Jevan yang mengucapkannya. Jevan 'kan memiliki sifat dingin dan acuh tak acuh, jadi... mengapa bisa? "Minta maaf buat?" Veyla memandang Jevan dengan tatapan yang bingung. "Ngebentak lo." "Oh... mmm... iya gak papa kok. Santai aja." Veyla tersenyum kikuk karena merasa canggung saat ini. Jevan menganggukkan kepalanya kecil, kemudian menatap Veyla intens. "Gue boleh nanya?" "Boleh," Jevan terdiam sejenak. Memang pertanyaan ini dari kemarin sudah mengganggu pikirannya. Awalnya ia ingin menanyakan ini kemarin, namun ia nanti akan dituduh terlalu kepo dengan hidup orang. "Masalah apa yang lo alami selama lo pacaran sama Daniel sampai lo takut sama dia?" Kalimat pertanyaan yang terbilang panjang terucap di mulut Jevan. Ini adalah kali pertamanya ia berbicara cukup panjang dengan Veyla, mungkin ini perlu diabadikan dan diberi rekor muri? Untuk beberapa saat Veyla terdiam. Rasa-rasanya aliran darahnya terhenti saat itu juga. Ia paling benci mengingat hal itu, sungguh. Mengingat kejadian di mana ia ditampar keras oleh seorang lelaki yang ia cintai, sampai-sampai ia ingin dilecehkan oleh lelaki itu hanya gara-gara ia menanyakan kepadanya tentang seorang cewek yang ia lihat tengah berjalan berdua dengannya. Betapa egoisnya lelaki itu? Yang tak lain dan tak bukan adalah Daniel, si cowok b******k yang pernah Veyla kenal selama hidupnya. Tiba-tiba saja kejadian itu kembali terputar di otaknya. Tanpa ia sadari, ia kembali menangis dalam diam, kepalanya kembali tertunduk seperti tadi. Jevan yang paham akan kondisi, langsung menghapus air mata itu menggunakan tangan kekar miliknya. "Maaf, jangan nangis," ucap Jevan lembut. Veyla pun menatap Jevan dengan hidung yang memerah. Ia tatap dalam-dalam bola mata hitam milik Jevan tersebut. Satu detik Dua detik Detik ketiga Veyla langsung memeluk Jevan dan menumpah-ruahkan seluruh tangisannya di sana. Jevan hanya bisa membeku saat kedua tangan lembut itu memeluk tubuhnya erat. "Dia jahat sama gue, Van. Dia jahat! Gue benci sama dia! Gue benci!" Tangan Veyla memukul d**a bidang milik Jevan untuk menyalurkan kekesalannya. Namun, anehnya Jevan tak merasa risih dengan semua itu. Ia malah memberikan waktu untuk Veyla meluapkan seluruh emosinya. "Dia itu b******k! b***t! Gue benci dia! Gue Benci! Benci! Benci!!" lanjut Veyla dengan tangis yang mulai pecah seiring dengan pukulan yang ia berikan kepada Jevan. Karena merasa pukulan Veyla di d**a bidangnya terlalu kuat, akhirnya ia memutuskan untuk menahan tangan Veyla kemudian menuntun tangan cewek itu agar memeluknya lagi. Dan siapa sangka, Jevan membalas pelukan itu bahkan merengkuhnya dengan amat erat. "Keluarin semuanya. Keluarin sampai gak ada yang tersisa," ucap Jevan sambil mengusap pelan rambut kecoklatan milik Veyla. Sedangkan Veyla hanya bisa tersedu dalam pelukan itu. Dan hari ini, Jevan dapat melihat sisi rapuh wanita yang ia anggap selama ini hanya baik-baik saja. Ia kini melihat Ratu Judesnya menangis tersedu seolah beban yang ia pikul sangat berat. Ia melihat tatapan mata Veyla yang sangat rapuh. Sangat-sangat rapuh Jevan berjanji pada dirinya mulai saat ini, agar menjadi perisai Veylanya. Karena Ratu Judesnya, hanya miliknya seorang. Hanya miliknya....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN