Pagi itu, rumah tua itu diselimuti keheningan yang berbeda. Bukan lagi sunyi yang mencekam, melainkan ketenangan pascabada, seolah udara masih menyimpan gema energi yang baru saja dilepaskan. Cahaya matahari akhirnya berhasil menembus celah-celah jendela, membasahi lantai dengan pola-pola terang yang menari.
Ansel terbangun dari tidur singkatnya di kursi berlengan, tubuhnya terasa kaku. Matanya langsung tertuju pada Reyshard yang masih terbaring di ranjang, napasnya teratur.
Namun, ada sesuatu yang berbeda. Aura di sekeliling Reyshard tidak lagi dipenuhi celah atau bayangan pekat. Kini, ada untaian energi keperakan yang berdenyut lembut, melingkupi tubuhnya seperti jubah tak kasat mata.
Ansel mendekat, menyentuh dahi Reyshard yang kini terasa dingin, bukan lagi panas. Ia menyentuh pergelangan tangannya. Denyut nadinya kuat, stabil, namun ada getaran halus yang berbeda. Sebuah frekuensi baru.
Tiba-tiba, mata Reyshard terbuka. Warnanya bukan lagi cokelat gelap seperti biasanya, melainkan perpaduan abu-abu keperakan yang memantulkan cahaya redup ruangan. Matanya menatap lurus ke arah Ansel, dan ada kilatan kesadaran yang dalam di sana.
"Ansel," suaranya lebih jernih, meskipun masih sedikit serak. "Aku merasa... berbeda."
Ansel mengangguk pelan, tatapannya penuh rasa ingin tahu. "Aku tahu. Kekuatan itu... sudah menyatu denganmu. Kau bukan lagi wadah, Rey. Kau adalah sumbernya."
Reyshard perlahan bangkit, duduk di tepi ranjang. Ia melihat tangannya sendiri, lalu mengangkatnya ke arah lilin yang masih menyala di meja. Tanpa menyentuhnya, nyala api itu bergetar, memanjang, lalu menari mengikuti gerakan jemarinya. Reyshard menatapnya dengan keterkejutan bercampur ketakjuban.
"Aku bisa merasakannya," bisiknya. "Udara... dinding... bahkan bisikan dari luar sana. Semuanya terasa hidup."
Ansel merasakan getaran yang sama. Kekuatan Reyshard kini tak hanya tersembunyi, tapi terpancar nyata, memengaruhi lingkungan sekitarnya. Ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan.
"Kita harus lebih hati-hati," kata Ansel, suaranya dipenuhi kewaspadaan. "Energi sebesar ini bisa menarik perhatian yang tidak kita inginkan."
Reyshard menoleh padanya, sorot matanya yang baru itu menembus ke dalam jiwa Ansel. "Kau tahu, saat aku menyatu dengannya, aku melihat sesuatu. Bukan hanya masa lalu, tapi... masa depan yang retak."
Ansel mendekat, duduk di sampingnya. "Apa yang kau lihat?"
Reyshard menarik napas dalam. "Aku melihat Nayaka. Dia tidak sendirian. Ada mereka di belakangnya. Mereka menginginkan Segel Utama. Bukan untuk menutupnya, melainkan untuk memanfaatkannya."
"Memanfaatkannya untuk apa?"
"Untuk menguasai. Bukan hanya dunia manusia, tapi juga dunia astral. Mereka percaya Segel itu adalah kunci ke dimensi lain, tempat kekuatan tak terbatas bersemayam."
Ansel merasakan hawa dingin merayap di punggungnya. Ini jauh lebih besar daripada sekadar kutukan pribadi. Ini adalah perang yang akan datang.
"Lalu... apa yang harus kita lakukan?" tanya Ansel, menatap Reyshard yang kini tampak begitu berbeda, begitu kuat, namun juga begitu rentan.
Reyshard menggenggam tangan Ansel, tatapan matanya mengunci. Ada keteguhan di sana, bercampur dengan kehangatan yang baru terasa. "Kita harus mencari tahu lebih banyak tentang Arkava. Ibuku, dan warisan yang dia tinggalkan. Aku merasa... di situlah jawabannya."
Tiba-tiba, ponsel Reyshard berdering. Layar menunjukkan panggilan dari nomor tak dikenal. Reyshard menatapnya, ada intuisi baru yang memberitahunya siapa itu.
"Siapa?" tanya Ansel.
Reyshard tersenyum dingin. "Selamat datang di babak baru, Ansel. Ini telepon dari... masa lalu yang tidak mau mati."
Ia mengangkat telepon, dan sebuah suara berat, penuh otoritas, langsung menyambutnya. "Reyshard Mahendra. Kau telah membuat kami menunggu terlalu lama. Sudah waktunya kau kembali ke tempatmu yang sebenarnya. Kami tahu apa yang ada padamu. Dan kami akan datang mengambilnya."
Reyshard menatap Ansel, mata keperakannya menyala. "Aku tahu."