Sisa dari malam itu Reyshard habiskan dalam diam. Setelah pertempuran di stasiun tua, tubuhnya lelah, tapi bukan karena luka fisik—melainkan karena jiwanya mulai tercerai-berai. Suara jeritan makhluk astral masih terngiang di telinganya, mengendap dalam benaknya seperti luka lama yang menganga. Ia duduk di atap rumahnya, memandangi langit yang perlahan cerah. Tapi bahkan cahaya fajar tak mampu mengusir rasa dingin yang menempel di tulangnya.
Angin dini hari menyapu rambutnya, membawa aroma tanah yang lembap dan embun pagi. Ketika dunia masih terlelap, Reyshard merasa seolah hanya dia yang terjaga—mengawasi batas tipis antara nyata dan gaib yang kian memudar.
Theo datang membawa dua gelas kopi. Asap tipis mengepul dari cangkir kertas itu, seolah mengukir bentuk-bentuk tak kasat mata di udara.
“Gue bikin sendiri, nggak racun kok,” katanya, duduk tanpa diundang.
Reyshard tersenyum kecil, walau matanya masih kosong. “Paling racun rasa kopi lo.”
Theo mengangkat alis. “Itu artinya masih lo minum juga.”
Hening mengalun. Suara kota yang perlahan bangun menyusup masuk, tapi mereka tetap diam. Saling menatap, tapi tak bicara. Hingga akhirnya Theo membuka suara.
“Lo yakin bisa hadapi semua ini sendirian?”
Reyshard tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap langit, lalu menunduk menatap tangannya yang gemetar.
“Aku nggak sendirian.”
“Tapi bukan berarti lo kuat terus.”
Reyshard menoleh perlahan. Tatapan Theo begitu serius, ada ketulusan di dalamnya. Mata mereka bertemu. Di sana, Reyshard menangkap sesuatu yang lebih dari sekadar kekhawatiran. Ada kehangatan, ada perasaan yang tak pernah mereka akui.
Reyshard memegang liontin di lehernya. Sekilas, benda itu berdenyut—memberi sinyal seperti detak jantung yang tak serasi.
“Mereka belum selesai,” ucapnya lirih.
“Siapa?”
“Makhluk-makhluk itu. Mereka cuma pengantar. Yang sebenarnya... masih tertidur.”
---
Keesokan harinya, Reyshard mengunjungi rumah masa kecilnya—sebuah rumah kayu tua di pinggir hutan kota. Rumah itu sudah reyot, ditinggalkan sejak kematian ibunya. Rumput liar tumbuh liar di sekelilingnya, jendela-jendela pecah dan dipenuhi sarang laba-laba.
Di dalamnya, bau kayu lapuk dan abu dupa masih bertahan. Reyshard berjalan perlahan, mengenali setiap langkah yang membawanya ke altar tua di ruang belakang.
Di bawah lantai altar itu, ia menggali papan yang longgar. Di sanalah ia menemukan sebuah kotak kayu berukir mantra kuno. Di dalamnya, tersimpan kitab tua berbahasa Kawi dan potret hitam putih seorang wanita muda.
Ibunya.
Reyshard mengusap foto itu dengan jemari gemetar. “Kenapa kau sembunyikan semua ini dariku?”
Lembaran pertama kitab itu memuat nama yang membuat napasnya tercekat.
“Sri Ardana—Pendeta Agung Arkava.”
Itu adalah nama ibunya.
Reyshard menutup matanya. Ingatan masa kecil berkelebat—ibunya yang sering bermeditasi berjam-jam, suara nyanyian ritual dari dalam kamar, dan tatapan orang-orang desa yang selalu penuh takjub dan takut pada wanita itu.
Semua kini masuk akal. Ibunya bukan wanita biasa. Dia adalah bagian dari Arkava—sekte spiritual kuno yang dipercaya menjaga keseimbangan antara alam nyata dan astral. Bahkan mungkin... salah satu pencipta segel dunia.
Saat Reyshard membalik halaman kitab, dia menemukan sebuah peta berisi titik-titik energi di seluruh kota. Titik-titik itu menyatu membentuk lingkaran yang kompleks. Salah satu titik ditandai dengan tinta merah: “Situs Gunturwana.”
Reyshard berdiri dengan tangan gemetar. “Aku harus ke sana.”
---
Tiba-tiba, suara pecahan kaca membuyarkan pikirannya. Bayangan hitam menerobos dari jendela. Sosok kecil, mirip anak-anak, tapi wajahnya dipenuhi luka dan matanya sepenuhnya hitam. Mulutnya terbelah dari pipi ke pipi, memperlihatkan barisan gigi yang bergerigi.
Makhluk itu menyeringai dan berkata, “Terlambat... kau sudah membuka jalannya.”
Reyshard tak ragu. Ia melempar liontin ke udara. Cahaya terang memancar membentuk lingkaran pelindung. Makhluk itu terbakar, menjerit dan menghilang, tapi sebelum lenyap, ia berbisik:
“Situs itu bukan kunci... tapi penjara.”
---
Malam pun jatuh kembali.
Di depan rumah, Theo menunggu dengan jaket kulit dan ransel besar.
“Gue ikut,” katanya tanpa basa-basi.
“Ini bisa bahaya,” jawab Reyshard.
“Justru karena itu, lo butuh gue.”
Reyshard memandangi sahabatnya. Ada sesuatu di wajahnya yang berubah. Tak hanya beban, tapi tekad. Di matanya, dunia tak lagi soal hitam dan putih. Kini, garis batas itu mulai retak.
Dan perjalanan ke Situs Gunturwana akan menjadi awal dari kehancuran... atau kebangkitan.
===
Langkah kaki mereka menyusuri jalan setapak hutan Gunturwana dipenuhi suara ranting kering yang patah. Kabut pagi masih menggantung rendah, menutupi pohon-pohon tinggi yang berdiri seperti penjaga diam. Reyshard menggenggam liontin yang kini terasa semakin berat, seolah mengetahui bahwa mereka semakin dekat ke pusat energi yang selama ini tersembunyi.
“Kenapa tempat ini terasa... sunyi banget?” tanya Theo, memecah keheningan.
“Bukan sunyi,” jawab Reyshard sambil menatap lurus ke depan. “Tapi diam yang sedang mengamati.”
Situs Gunturwana bukan sekadar tempat kuno yang dilupakan. Ia adalah sisa dari zaman ketika manusia masih berdialog dengan arwah leluhur, ketika roh penjaga belum sepenuhnya menghilang dari dunia ini. Dan kini, mereka datang bukan untuk berziarah—tapi untuk membuka pintu yang telah lama dikunci.
Di tengah hutan, mereka tiba di sebuah pelataran batu yang ditumbuhi lumut tebal. Sebuah lingkaran batu tersusun rapi membentuk simbol rumit yang serupa dengan yang ada di kitab milik ibunya Reyshard. Di tengah lingkaran itu, terdapat sebuah batu menhir berukir mantra kuno yang memancarkan aura dingin.
Reyshard melangkah mendekat. Jantungnya berdegup kencang, tapi bukan karena takut—melainkan karena sesuatu dalam dirinya mulai bangkit. Seolah darahnya mengenali tempat ini. Seolah setiap langkah membangunkan ingatan yang tertidur di dalam tulangnya sendiri.
Ia menempelkan telapak tangan pada menhir. Getaran lembut menyambut, lalu berubah menjadi dorongan kuat yang membuat tubuhnya terpental ke belakang.
Theo langsung berlari dan membantu Reyshard bangun. “Lo nggak apa-apa?”
“Ini... bukan sekadar batu. Ini segel. Segel kuat yang terikat oleh darah dan janji.”
Reyshard duduk bersila di tepi lingkaran batu, napasnya masih belum stabil. Di hadapannya, menhir itu tampak semakin menyala samar, garis-garis ukirannya berpendar merah kehijauan seolah mengenali keturunannya telah datang.
“Kalau ini segel,” kata Theo, “apa yang dikunci di dalamnya?”
“Bukan apa. Tapi siapa.”
Reyshard membuka kembali kitab ibunya dan menunjuk halaman yang berisi mantra pemanggilan roh pelindung. Di situ tertulis, hanya mereka yang mewarisi darah Sri Ardana yang bisa mengakses kekuatan penuh situs ini.
“Ada makhluk penjaga yang tertidur di bawah sini. Roh pengikat yang disebut sebagai ‘Sang Penjaga Tengah’. Tapi... kalau bangkit tanpa kendali, dia bisa menghancurkan batas antara dunia kita dan dunia astral.”
Theo memandang sekeliling dengan waspada. “Lo yakin mau bangunin dia?”
Reyshard mengangguk. “Karena aku merasa... waktunya memang sudah tiba. Dan kalau aku nggak mulai membuka tabir masa lalu, maka semua yang ada di sekitarku bakal ikut musnah.”
Ia menggambar simbol di tanah dengan abu dari liontin yang dihancurkan sebagian. Lalu duduk di tengahnya, mulai merapal mantra dalam bahasa Kawi, lidahnya bergerak seolah sudah terbiasa.
Angin mulai berputar, daun-daun beterbangan. Tanah bergetar.
Kemudian... hening.
Lalu tanah terbelah.
Dari celah itu, muncul sesosok makhluk bersayap hitam, bermata banyak, dan tubuh transparan yang memancarkan cahaya temaram. Tapi wajahnya—wajah itu menyerupai wajah Reyshard sendiri.
Makhluk itu menatap Reyshard tanpa berkata apa pun. Matanya—semuanya—terfokus hanya padanya, seolah memindai hingga ke lapisan jiwanya yang terdalam.
Reyshard tidak mundur. Ia berdiri tegak, meskipun lututnya gemetar.
“Kau... siapa namamu?” tanyanya lirih.
Suara yang terdengar bukan dari mulut makhluk itu, tapi menggema langsung di dalam kepala Reyshard dan Theo. “Aku adalah bayanganmu. Cermin dari keturunan yang menyangkal darahnya. Aku... adalah yang dilupakan.”
Theo berbisik, “Gila... itu suara bikin bulu kuduk berdiri.”
Makhluk itu melangkah maju. “Engkau memanggilku, Reyshard Ardana. Maka kini dengarkan baik-baik: batas antara dua dunia semakin menipis. Keputusanmu di sini akan menentukan apakah kehancuran atau kebangkitan yang akan terjadi.”
Reyshard menelan ludah. “Apa yang harus aku lakukan?”
“Terima aku.”
“Apa maksudmu?”
“Terima darahmu sepenuhnya. Terima sisi gelapmu. Karena hanya dengan menyatukan keduanya, kau bisa mengendalikan kekuatan yang ada.”
Theo menatap sahabatnya dengan khawatir. “Lo yakin, Rey?”
Reyshard menatap makhluk itu. “Kalau aku terima, apa aku tetap bisa jadi aku yang sekarang?”
Makhluk itu tersenyum samar. “Kau akan menjadi dirimu yang seutuhnya.”
Dengan napas dalam, Reyshard mengulurkan tangannya.
Makhluk itu menyentuhnya.
Kilatan cahaya menyilaukan meledak dari titik pertemuan mereka. Udara mendesis, tanah menggeliat, dan energi membanjiri tubuh Reyshard hingga ia jatuh terduduk. Tapi kali ini, ia tidak merasa takut.
Ia merasa... utuh.