Luka yang Tak Terucap

509 Kata
Malam di vila Reyshard semakin pekat. Lampu-lampu redup memantulkan bayangan panjang di dinding, seolah ruangan itu sendiri berbisik sesuatu yang tak ingin didengar manusia. Ansel duduk di kursi berlengan tua, matanya mengamati Reyshard yang sedang berdiri dekat jendela besar, menatap keluar ke kegelapan. “Kenapa kau tidak pernah ceritakan semuanya sejak awal?” tanya Ansel dengan suara lembut, tapi penuh tajam. Reyshard menarik napas panjang, lalu menoleh. Sorot matanya menyimpan seribu luka yang tak terucap. “Karena aku takut,” jawabnya lirih. “Takut bahwa jika aku bercerita, semuanya akan semakin membebani. Aku sudah terikat pada sesuatu yang lebih besar dari diriku sendiri, dan itu membuatku menjadi tahan banting sekaligus rapuh.” Ansel mencondongkan tubuh, mendekat. “Ceritakan padaku, Reyshard. Aku tidak akan menghakimi. Malah, aku ingin membantumu. Kita sudah melewati sesuatu yang tidak biasa—aku rasa kita harus hadapi ini bersama.” Reyshard menutup matanya sejenak, lalu mulai membuka kisah yang selama ini terkunci rapat di lubuk hatinya. “Waktu itu aku masih anak-anak. Kebakaran itu bukan kecelakaan. Ada yang sengaja membakar rumah kami. Orang tua dan aku terjebak di dalam. Aku selamat, tapi mereka tidak. Aku tidak pernah tahu siapa pelakunya, tapi sejak saat itu, ada sesuatu yang mengikuti, menghantui setiap langkahku. Sesuatu yang aku tak bisa jelaskan dengan kata-kata.” Ansel mengangguk perlahan, merasakan getaran energi gelap yang tak pernah hilang dari Reyshard. “Itu roh dendam?” “Lebih dari itu,” Reyshard menjawab dengan suara serak. “Itu lebih seperti kutukan. Suatu ikatan yang membuatku tak bisa bebas, bahkan saat aku sudah jadi yang aku inginkan sekarang—bos mafia dengan kekuatan dan pengaruh besar.” “Dan buku itu?” Ansel menunjuk buku hitam yang masih tergeletak di meja. Reyshard menatapnya penuh rasa takut. “Orang yang ‘menolongku’ waktu itu memberikannya padaku sebagai jaminan. Dia bilang, ‘Ini akan membuatmu kuat, tapi jangan sampai kau biarkan ikatan itu membakar jiwamu.’ Tapi aku sudah terlambat. Api itu sudah membakar bagian terdalam diriku.” Ansel berdiri, berjalan menuju rak buku. Tangannya menyentuh beberapa benda antik, lalu kembali ke Reyshard. “Kalau begitu kita harus mulai dari sini. Mencari titik lemah ikatan ini dan mencoba memutusnya dengan ritual pembersihan yang lebih kuat. Tapi kau harus siap, karena ini bukan sekadar urusan biasa. Aku sudah melihat sosok yang datang tadi. Dia bukan hanya roh marah, tapi penjaga neraka yang memanggilmu kembali.” Reyshard menatap Ansel dengan tatapan penuh campuran harap dan ketakutan. “Aku tak takut mati. Aku hanya tak mau kehilangan diriku sendiri.” Di luar, angin malam berhembus lebih kencang, membawa dingin yang menusuk tulang. Lampu-lampu vila bergetar pelan, dan bayangan di sudut ruangan tampak semakin pekat, seolah mengintip dan menunggu. Ansel membuka buku hitam itu sekali lagi, lalu berkata, “Kita harus mulai malam ini. Waktunya tidak lama. Jika kita gagal, ikatan itu akan menguasaimu sepenuhnya.” Reyshard mengangguk pelan, menegakkan badan. “Aku siap. Mari kita hadapi kegelapan ini... bersama.” --- (Bab 4 akan mengungkap ritual pembersihan dan munculnya ancaman baru yang jauh lebih berbahaya dari yang pernah mereka bayangkan.)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN