Ritual Api dan Bayangan

514 Kata
Malam semakin larut ketika Ansel dan Reyshard kembali duduk di ruang utama vila yang kini terasa lebih suram. Lilin-lilin kecil berjajar di meja, menciptakan lingkaran cahaya temaram yang memantulkan bayangan berdansa di dinding. Aroma dupa kayu cendana menyusup perlahan, menyelimuti ruangan dengan kesunyian yang berat dan sakral. Ansel mengeluarkan buku hitam dari tasnya, membuka halaman-halaman yang penuh dengan simbol rumit dan tulisan kuno yang berputar-putar seperti mantra. "Ini bukan ritual sembarangan, Reyshard. Kita akan memanggil dan mengikat energi yang selama ini menggerogoti jiwamu," ucap Ansel sambil menatap dalam-dalam ke mata Reyshard. Reyshard mengangguk, jari-jarinya sedikit gemetar. “Aku siap. Aku sudah lelah hidup di bawah bayang-bayang itu.” Suara angin yang menerobos celah jendela menambah gemerisik di sekeliling mereka. Ansel mengangkat tangan, mengucapkan mantra pertama dalam bahasa kuno yang hanya dia mengerti. Kata-katanya bergetar seperti suara alam sendiri yang bergema dalam ruangan. Perlahan, api lilin-lilin mulai menari liar, membentuk bayangan yang berubah-ubah menjadi sosok-sosok samar. Mata Reyshard melebar, merasakan aura gelap yang mulai berkerumun di sudut-sudut ruangan. “Mereka datang,” bisiknya. Tiba-tiba suara bisikan memecah kesunyian, namun bukan dari mulut manusia. Bisikan itu bergema seperti suara angin malam yang dingin dan menusuk, membawa kata-kata penuh ancaman dan kenangan kelam. “Darah... hutang... pengorbanan... harus ditebus,” gema suara itu dari setiap sudut. Ansel menggenggam batu giok di lehernya, energi dari batu itu mulai bersinar lembut namun kuat, seolah menjadi pelindung sekaligus penyeimbang ritual. Ia menggerakkan tangan menulis simbol-simbol di udara, melingkupi lingkaran cahaya dengan perisai gaib yang rapuh namun penuh kekuatan. “Jangan biarkan mereka masuk, Reyshard. Fokus pada dirimu, pada cahaya yang kita ciptakan,” perintah Ansel dengan suara mantap. Reyshard menutup mata, mengerahkan seluruh kekuatan batinnya. Ingatan tentang kebakaran itu menyeruak, bau asap, teriakan, dan wajah orang tuanya yang terbakar—semua membanjiri pikirannya. Namun kali ini, ia tidak sendiri. Sosok bayangan hitam dengan tanduk rusa muncul kembali, lebih besar dan mengancam daripada sebelumnya. Tapi kali ini, Ansel dan Reyshard berdiri bersama, menghadapi kegelapan itu dengan keberanian yang berbeda. Mantra-mantra semakin deras keluar dari mulut Ansel, sementara Reyshard memusatkan energi pembersihan dalam dirinya. Api lilin berubah menjadi bola cahaya yang semakin membesar, memaksa bayangan itu mundur sedikit demi sedikit. Namun, bayangan itu tidak menyerah. Dengan suara mengerikan yang menggetarkan dinding vila, ia menerjang ke arah mereka. Dalam sekejap, Ansel mengeluarkan batu giok dan melepaskan cahaya hijau yang menyambar seperti petir, menyentuh bayangan itu tepat di d**a. Sosok gelap itu meraung keras dan perlahan-lahan menghilang, menyisakan udara yang hening dan penuh ketegangan. Reyshard terjatuh ke lantai, napasnya tersengal. “Kau berhasil... tapi ini baru permulaan,” ucap Ansel dengan nada serius. “Ikatan ini lebih kuat dari yang kubayangkan.” Reyshard mengangkat wajahnya, tatapan penuh tekad. “Aku tidak akan menyerah. Kalau ini harga yang harus ku bayar untuk bebas, aku siap.” Angin malam kembali berhembus, membawa bisikan-bisikan yang kini terasa lebih jauh. Tapi mereka tahu, kegelapan itu masih mengintai. --- (Bab 5 akan membawa mereka lebih dalam ke dunia mafia dan dunia gaib yang saling bertabrakan, dengan ancaman yang semakin nyata dan kisah cinta yang mulai tumbuh di antara mereka.)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN