Bangkitnya Bayang-Bayang Tersembunyi

924 Kata
Suasana rumah tua itu tak lagi sama sejak malam ritual dilakukan. Meskipun tidak ada ledakan besar, tidak ada retakan di langit, dan tidak ada roh berwujud menyeramkan yang menerobos keluar dari celah dimensi, namun setiap sudut ruangan kini seakan menghirup udara yang berbeda. Seperti ada sesuatu yang menonton, mengamati dari balik dinding-dinding kayu yang mulai keropos oleh usia dan waktu. Reyshard terbaring di ranjangnya, wajahnya pucat dan keringat dingin membasahi pelipisnya. Sudah dua hari berlalu sejak ia melakukan segel darah di ruang bawah tanah, tapi tubuhnya belum juga pulih. Matanya yang biasanya bersinar lembut, kini tampak kosong dan berat seperti memikul beban seribu tahun. Ansel tak pernah beranjak jauh. Ia tidur di kursi, makan di lantai kamar, dan hanya sesekali turun untuk mengambil ramuan atau makanan. Sepanjang waktu itu, ia terus memantau Reyshard, membaca aura di sekelilingnya, mencatat perubahan kecil sekalipun. "Auranya belum stabil," gumam Ansel pada dirinya sendiri saat menyentuh pergelangan tangan Reyshard dengan jari telunjuknya. "Terlalu banyak celah terbuka. Energi luar masih bisa masuk kapan saja." Saat itu, Reyshard menggeliat. Matanya terbuka perlahan, menatap langit-langit yang gelap dan kusam. Napasnya berat, seperti baru saja naik dari kedalaman lautan. “Ansel…” suaranya serak. “Aku lihat sesuatu… di balik gerbang…” Ansel langsung berdiri. “Kau sadar? Apa yang kau lihat?” Reyshard menatapnya lemah, tapi matanya mulai memfokuskan pandangan. “Seseorang. Tapi bukan manusia. Makhluk itu… menungguku. Ia tahu aku akan datang, bahkan sebelum ritual dimulai.” Ansel menggigit bibir bawahnya. “Ini tak seharusnya terjadi. Ritual itu untuk menutup celah, bukan membuka koneksi dengan entitas yang lebih dalam.” Reyshard tertawa lirih. “Mungkin darahku terlalu... ‘istimewa’. Mungkin karena aku adalah bagian dari dua dunia. Dunia mafia, yang penuh darah dan kutukan... dan dunia spiritual, yang penuh batas tak kasat mata. Entitas itu... menyebut namaku.” Ansel menatapnya tak berkedip. “Apa yang dikatakannya?” Reyshard perlahan bangkit, duduk dengan susah payah di atas ranjang. Ia mengusap dahinya yang masih panas, lalu menatap Ansel lurus-lurus. > “Reyshard Dirovano. Darah yang tercampur dosa dan kepekaan. Kau bukan penutup gerbang. Kau adalah kuncinya.” Ansel langsung mundur setapak. “Kuncinya?” “Ya…” Reyshard menarik napas panjang. “Itu berarti… mungkin aku bukan hanya seseorang yang terkena kutukan. Mungkin aku adalah jembatan. Penghubung antara dunia astral dan dunia manusia. Gerbang itu... tidak tertutup. Ia hanya... menyesuaikan wujud barunya. Dan aku, tanpa sadar, mengundangnya masuk ke dalam diriku.” --- Malam pun tiba dengan sunyi yang tak biasa. Angin tak lagi berbisik lembut, melainkan berdesir seperti suara langkah kaki halus yang menyisir rerumputan. Lilin-lilin yang dinyalakan di sudut-sudut rumah tiba-tiba padam, meski tidak ada angin di dalam ruangan. Reyshard berdiri di depan cermin besar di kamar atas, menatap bayangannya sendiri. Tapi yang ia lihat bukan hanya dirinya—ada sosok lain berdiri di belakangnya. Wujud samar dengan mata hitam legam dan senyum yang terlalu lebar untuk ukuran manusia. "Siapa kamu?" Reyshard bertanya tanpa suara, hanya lewat batin. Sosok itu tidak menjawab. Ia hanya menempelkan tangannya pada permukaan cermin. Saat itu juga, telapak tangan Reyshard—yang berada tepat di posisi yang sama—merasakan dingin menusuk. Ansel berlari naik saat mendengar suara retakan kaca. Ia mendapati Reyshard berdiri terpaku, tubuhnya bergetar, dan di cermin tampak garis-garis retak membentuk simbol kuno yang tak dikenalnya. “Rey! Mundur dari cermin itu!” Reyshard berbalik, wajahnya sudah tak sepenuhnya manusia. Matanya hitam pekat, dan kulit di sekitar pelipisnya menghitam. Tapi suaranya masih Reyshard. Lirih. Tercekik. “Dia masuk… melalui pantulan. Dia... bagian dariku.” Ansel segera mengambil pisau kecil dari balik saku jaketnya. Pisau itu adalah pusaka keluarganya—pengusir entitas tak diundang. Dengan cepat, ia menggoreskan simbol pelindung di lantai, lalu mendorong Reyshard masuk ke dalam lingkarannya. “Kau harus melawan dari dalam, Rey!” teriaknya. “Dia belum sepenuhnya menguasaimu!” Reyshard berlutut, tubuhnya bergetar hebat. Dari mulutnya keluar suara-suara yang bukan miliknya—suara perempuan, anak kecil, bahkan bisikan tak dikenal yang menyesakkan d**a. Tapi di tengah semuanya itu, Reyshard tiba-tiba menjerit. “Aku tidak milikmu! Aku bukan gerbangmu! Aku adalah penjaga warisan leluhurku!” Cahaya merah meledak dari tubuhnya, menyebar ke seluruh ruangan. Cermin pecah menjadi ribuan serpihan, dan sosok di dalamnya memekik—suara yang membuat jendela bergemeretak. Saat semuanya tenang, Reyshard tergeletak di lantai, napasnya berat dan kulitnya pucat. Tapi matanya kembali normal. Ansel memeluknya erat, menahan tubuhnya yang nyaris pingsan. “Kau menang… untuk sementara,” bisik Ansel. Reyshard tersenyum lemah. “Tapi aku tahu… ini baru permulaan.” --- Di suatu tempat yang jauh dari rumah tua mereka, di kota yang dipenuhi lampu malam dan hiruk pikuk mafia, seorang pria berjas hitam sedang menatap layar monitor. Di layar itu, rekaman aura Reyshard terlihat seperti ledakan energi. Pria itu mengangguk pelan. “Anak itu akhirnya membangkitkan kekuatannya... Lebih cepat dari yang kita prediksi.” Seorang wanita berdiri di belakangnya. “Apakah kita akan mencarinya?” “Belum,” jawab pria itu. “Biarkan dia tumbuh. Semakin kuat dia menjadi, semakin besar kemungkinan kita membuka Segel Utama.” --- Malam kembali sunyi. Tapi rumah Reyshard dan Ansel tak pernah benar-benar tidur lagi. Di balik pintu, di sela lantai kayu, dan di pantulan kaca kecil, mata-mata tak kasat mata mengamati. Reyshard mungkin berhasil menolak satu entitas. Tapi dunia astral telah mencapnya sebagai penghubung. Dan di dunia mafia, namanya kembali bergema—bukan sebagai anak hilang, tapi sebagai pewaris kekuatan yang tak bisa dikendalikan. --- ⟶ Bab 9: Luka lama akan dibuka, dan keluarga Reyshard akan mulai mencarinya — bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk memanfaatkan kekuatan yang telah bangkit…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN